Perubahan perilaku ini membuka peluang baru bagi pelaku usaha kuliner. Produk tinggi protein, makanan dengan komposisi sederhana, hingga olahan berbahan pangan lokal berpotensi menarik perhatian konsumen pada 2027.
Gambaran tersebut sejalan dengan survei PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam Voice of the Consumer 2026. Sebanyak 73 persen konsumen Indonesia yang disurvei berencana meningkatkan konsumsi produk segar, seperti buah dan sayuran, dalam 12 bulan mendatang.
Responden juga menyatakan keinginan untuk mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi protein.
Artinya, pelaku bisnis makanan perlu melihat peluang lebih luas dari sekadar menciptakan menu baru. Memahami kebutuhan konsumen dan menawarkan nilai tambah melalui produk bisa menjadi salah satu cara untuk bersaing.
Laporan Top Food and Beverage Trend Predictions for 2027 yang dirilis Whole Foods Market pada Oktober 2026 turut memetakan sejumlah tren yang diperkirakan memengaruhi industri makanan dan minuman.
Melansir laman BCA Prioritas, Rabu, 4 November 2026, berikut lima tren yang bisa menjadi inspirasi pengembangan bisnis kuliner.
Baca Juga :
5 Ide Bisnis Musiman yang Laris Manis saat Imlek
1. Makanan Tinggi Protein dan Serat Jadi Peluang Baru
Protein selama ini identik dengan menu berbahan daging, telur, dan susu. Namun, sumber protein nabati juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk makanan yang lebih variatif.Kacang-kacangan, misalnya, tidak harus selalu hadir sebagai makanan pendamping. Bahan ini dapat diolah menjadi menu utama maupun camilan praktis yang menawarkan kandungan protein dan serat.
Whole Foods Market memprediksi produk seperti instant lentil bowl, camilan kacang arab, dan edamame akan semakin mendapat perhatian konsumen.
Bagi pelaku usaha, tren ini bisa diterjemahkan menjadi produk siap santap, makanan ringan tinggi protein, atau menu praktis berbahan dasar kacang-kacangan. Inovasi rasa dan kemudahan penyajian dapat menjadi nilai tambah untuk menjangkau konsumen yang ingin memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa proses memasak yang rumit.
2. Produk dengan Komposisi Sederhana Semakin Dilirik
Konsumen juga semakin memperhatikan daftar komposisi pada kemasan makanan. Kekhawatiran terhadap bahan tambahan dan makanan ultra-proses mendorong munculnya tren ingredient minimalism, yaitu penggunaan bahan yang lebih sederhana dalam produk makanan.
Tren ini memberi ruang bagi produsen untuk menawarkan produk dengan komposisi yang mudah dipahami. Informasi mengenai bahan baku, kandungan nutrisi, dan proses pengolahan juga dapat menjadi bagian dari daya tarik produk.
3. Makanan dan Kecantikan Mulai Beririsan
Industri makanan dan wellness juga semakin dekat dengan dunia kecantikan. Whole Foods Market memperkirakan tren beautrition atau perpaduan antara nutrisi dan kecantikan akan berkembang pada 2027.
Konsep ini mengangkat makanan dan minuman yang dikaitkan dengan perhatian terhadap kesehatan kulit serta asupan nutrisi. Contoh produk yang mulai mendapat perhatian antara lain camilan berbahan kolagen, minuman dengan kandungan antioksidan, dan makanan yang mengandung lemak sehat.
Peluang bisnisnya cukup beragam. Pelaku usaha dapat mengembangkan smoothie bowl dengan aneka buah, camilan berbahan biji-bijian, atau minuman rendah gula yang mencantumkan informasi kandungan nutrisinya secara jelas.
4. Bahan Pangan Lokal Bisa Menjadi Identitas Produk
Persaingan bisnis kuliner tidak selalu harus dimenangkan melalui resep yang unik. Asal-usul bahan baku juga bisa menjadi pembeda yang membuat sebuah produk memiliki karakter tersendiri.
Whole Foods Market mengangkat konsep terroir, yakni pengaruh kondisi tanah, iklim, dan lingkungan geografis terhadap karakter serta cita rasa suatu produk.
Konsep ini terlihat pada produk seperti madu dari wilayah tertentu, cokelat yang berasal dari perkebunan khusus, atau kopi dengan karakter rasa khas daerah asalnya. Indonesia memiliki beragam komoditas pangan yang bisa dikembangkan dengan pendekatan serupa. Pelaku usaha dapat mengangkat bahan lokal sekaligus memperkenalkan cerita mengenai daerah asal, petani, dan proses produksinya.
5. Bisnis Kuliner Minim Limbah Makin Relevan
Bahan baku yang terbuang bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi efisiensi biaya produksi. Karena itu, pemanfaatan bahan pangan secara maksimal menjadi salah satu pendekatan yang berpeluang dikembangkan dalam bisnis kuliner.
Whole Foods Market menyoroti tren pengolahan sisa produksi menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini memungkinkan pelaku usaha mencari sumber pendapatan tambahan sekaligus mengurangi bahan pangan yang terbuang.
Misalnya, bahan yang masih layak diolah dapat dimanfaatkan menjadi produk lain, selama prosesnya memenuhi standar keamanan pangan. Pengolahan harus tetap memperhatikan kebersihan, kualitas bahan, dan masa simpan produk.
Bagi bisnis makanan, konsep minim limbah juga dapat mendorong evaluasi proses produksi. Mulai dari perencanaan pembelian bahan baku, pengaturan stok, hingga pemanfaatan bahan yang masih bisa diolah.
Lima tren tersebut menunjukkan bahwa konsumen semakin memperhatikan nilai di balik makanan yang mereka beli. Kandungan nutrisi, kesederhanaan komposisi, keterkaitan dengan wellness, identitas bahan lokal, hingga efisiensi produksi dapat menjadi pertimbangan dalam mengembangkan bisnis kuliner.