Pertamina. Foto: MI.
Pertamina. Foto: MI.

Ini Manfaat Pengembangan MNK Rokan Bagi Industri Migas Indonesia

Arif Wicaksono • 21 September 2026 13:11
Ringkasnya gini..
  • Jaga Ketahanan Energi, Pertamina-SKK Migas Optimalkan Produk Dalam Negeri untuk Operasional Hulu Migas.
  • Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, pengembangan MNK dapat membuka sumber produksi baru di tengah tantangan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi.
Jakarta: Pengembangan migas nonkonvensional (MNK) oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Blok Rokan dinilai berpotensi menjadi salah satu terobosan penting bagi industri migas nasional.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, pengembangan MNK dapat membuka sumber produksi baru di tengah tantangan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak dan gas bumi.
 

Baca juga: Jaga Ketahanan Energi, Pertamina-SKK Migas Optimalkan Produk Dalam Negeri untuk Operasional Hulu Migas
 


Menurut Komaidi, pengalaman Amerika Serikat (AS) menunjukkan bagaimana pengembangan migas nonkonvensional dapat mengubah lanskap industri energi sebuah negara. Pengembangan MNK sejak dekade 2000-an turut meningkatkan kapasitas produksi minyak AS hingga menjadikannya salah satu produsen minyak terbesar dunia.

"Game changer-nya migas itu MNK. Seperti di AS, MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar sehingga membuat AS menjadi salah satu produsen minyak besar di dunia setelah mengembangkan MNK pada 2000-an," kata Komaidi kepada media.

Ia menilai Indonesia juga memiliki potensi MNK yang cukup besar. Namun, pengembangannya menghadapi tantangan teknis karena karakteristik batuan dan reservoir MNK berbeda dengan cadangan migas konvensional.

Kondisi tersebut membuat kegiatan pengeboran MNK membutuhkan pendekatan dan teknologi yang berbeda. Teknologi yang digunakan juga cenderung lebih kompleks dibandingkan pengeboran sumur migas konvensional.

Tantangan lainnya adalah aspek keekonomian. Menurut Komaidi, perbedaan teknologi dan tingkat kompleksitas pengeboran akan berpengaruh terhadap biaya produksi. Karena itu, kajian teknis dan ekonomi perlu terus dilakukan untuk memastikan proyek MNK dapat memberikan nilai yang optimal.

Kemampuan Pertamina 

Di sisi lain, pengembangan MNK di Zona Rokan dinilai menunjukkan kemampuan Pertamina dalam mengembangkan sumber daya migas nonkonvensional. Pengembangan tersebut juga melibatkan kerja sama teknologi dan riset karena karakter MNK membutuhkan keahlian serta teknologi yang lebih spesifik.

Komaidi menyebut Pertamina sebelumnya juga menjalin kerja sama riset dan pendidikan mengenai teknologi MNK dengan perguruan tinggi pertambangan di AS. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa Pertamina memiliki kemampuan untuk mengembangkan proyek MNK mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

"Apakah teknologinya milik sendiri atau dengan pihak lain, PHR terbukti bisa melakukan perencanaan sampai eksekusi. Artinya, PHR memiliki keandalan dalam memproduksi MNK," ujarnya.

Keberhasilan pengembangan MNK Rokan, lanjut Komaidi, juga berpotensi memperpanjang umur bisnis migas Pertamina. Tambahan cadangan yang dapat diproduksikan akan memperbesar rasio cadangan terhadap produksi sehingga memberikan ruang lebih panjang bagi kegiatan usaha migas.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama perusahaan migas adalah menemukan cadangan baru. Tanpa tambahan cadangan, kemampuan produksi perusahaan pada akhirnya akan terus menurun seiring berkurangnya sumber daya yang dapat dieksploitasi.

Oleh karena itu, keberhasilan menemukan dan memproduksikan cadangan MNK akan memiliki arti strategis bagi PHR maupun Pertamina secara keseluruhan. Pengembangan tersebut juga diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pemanfaatan potensi MNK di wilayah Indonesia lainnya.

Selain memperpanjang usia bisnis, keberhasilan proyek MNK Rokan berpotensi meningkatkan kredibilitas Pertamina dalam pengembangan migas nonkonvensional di tingkat internasional.

Komaidi menambahkan, pengembangan MNK juga dapat berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Pasalnya, sebagian potensi migas baru Indonesia saat ini berada di wilayah laut dalam, khususnya kawasan Indonesia bagian timur.

Eksplorasi dan produksi di laut dalam memiliki tantangan tersendiri, mulai dari kebutuhan infrastruktur hingga tingkat kompleksitas operasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya juga dapat meningkatkan kebutuhan investasi dan biaya produksi.

Sementara itu, sebagian potensi MNK berada di wilayah daratan. Kondisi ini dinilai dapat memberikan alternatif pengembangan sumber daya migas dengan tantangan operasional yang berbeda dibandingkan proyek laut dalam.

"MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan biaya produksi atau paling tidak secara teknis tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia," kata Komaidi.

Perjalanan MNK Rokan

Sebelumnya, PHR sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina menandatangani Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan melalui anak usahanya, PT PHE Rokan Nonkonvensional.

Penandatanganan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan MNK Rokan sekaligus menempatkan proyek tersebut sebagai salah satu proyek perintis pengembangan migas nonkonvensional di Indonesia.

Pengembangan MNK Rokan telah berlangsung sejak pengeboran sumur Gulamo DET-1 pada 2023. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengeboran Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari studi untuk mengetahui potensi MNK pada struktur North Aman.

Pengembangan lebih lanjut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi produksi MNK sekaligus menjadi dasar bagi pemanfaatan sumber daya nonkonvensional lainnya di Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan