Sumur minyak Pertamina. Foto: Istimewa.
Sumur minyak Pertamina. Foto: Istimewa.

Optimalisasi Sumur Tua Berpotensi Dukung Produksi Migas Pertamina

Arif Wicaksono • 15 Oktober 2026 06:54
Ringkasnya gini..
  • Optimalisasi sumur minyak dan gas bumi (migas) yang telah lama beroperasi dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga produksi nasional di tengah keterbatasan cadangan.
  • Pakar ketahanan energi Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak menjelaskan, optimalisasi sumur tua dapat menjadi salah satu alternatif untuk menopang produksi migas sekaligus mendukung ketahanan energi nasional
Jakarta: Optimalisasi sumur minyak dan gas bumi (migas) yang telah lama beroperasi dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga produksi nasional di tengah keterbatasan cadangan. Upaya tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan eksplorasi lapangan baru dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan.

Pakar ketahanan energi Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak, mengapresiasi langkah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam mengoptimalkan pengelolaan wilayah kerja (WK) migas. Menurutnya, peluang peningkatan produksi tidak hanya berasal dari penemuan sumur baru, tetapi juga dari pemanfaatan potensi lapangan yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
 
“Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” ujar Ali kepada media.

Ia menjelaskan, optimalisasi sumur tua dapat menjadi salah satu alternatif untuk menopang produksi migas sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Peluang tersebut juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menerapkan teknologi serta meningkatkan efektivitas pengelolaan kegiatan hulu migas.

Ali menilai perkembangan kapabilitas PHE, termasuk dalam penguasaan teknologi, menjadi modal penting untuk mengoptimalkan potensi lapangan yang sudah lama berproduksi.

“Kinerja PHE menunjukkan tren yang positif, didukung oleh penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE, baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen,” kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI tersebut.

Menurut Ali, optimalisasi sumur tua perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi secara menyeluruh. Langkah tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan eksplorasi dan eksploitasi sumur baru, serta pemberdayaan sumur yang dikelola masyarakat.

Ia menilai kombinasi berbagai pendekatan tersebut dapat membuka peluang tambahan untuk mengejar target produksi migas. Meski demikian, pengelolaan sumur tua membutuhkan pertimbangan teknis dan perhitungan bisnis yang cermat.

Ali mengingatkan bahwa karakteristik sumur tua membuat upaya peningkatan produksinya tidak selalu mudah. Selain menghadapi tantangan teknis, tingkat produksi yang dihasilkan umumnya lebih rendah dibandingkan dengan sumur baru.

Aspek keekonomian juga menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan pengelolaan. Ketika produksi terus menurun, penggunaan teknologi konvensional dapat membuat biaya operasional tidak lagi sebanding dengan hasil yang diperoleh.

“Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis,” ujarnya.

Karena itu, penerapan teknologi baru dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan sumur tua. Ali menjelaskan, penggunaan teknologi yang tepat diharapkan dapat menekan sejumlah komponen biaya, termasuk kebutuhan sumber daya manusia (SDM), sehingga lapangan yang sebelumnya kurang ekonomis berpeluang kembali layak dikelola.

Selain pemanfaatan teknologi, pelibatan pemerintah daerah juga dapat menjadi alternatif untuk menekan biaya pengelolaan. Ali mencontohkan peluang pengelolaan sumur tua oleh pemerintah daerah di wilayah seperti Riau dan Sumatera Selatan.

Dalam skema tersebut, hasil produksi dapat disalurkan kepada Pertamina untuk diperhitungkan sebagai bagian dari lifting migas. Menurut Ali, berbagai pendekatan yang dapat menjaga atau menambah produksi tersebut layak mendapat perhatian.

“Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apa pun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi,” tegasnya.

Kinerja Sumur Tua PHE ONWJ Jadi Sorotan

Apresiasi terhadap pengelolaan sumur tua juga sebelumnya disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade terhadap kinerja Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ).

Pernyataan tersebut disampaikan Andre setelah memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi VI DPR RI untuk meninjau langsung kegiatan operasional migas di Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat, pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Dalam kunjungan itu, tim melihat kondisi dan kinerja sumur yang telah beroperasi sejak 1969. Andre menilai hasil peninjauan menunjukkan bahwa pengelolaan lapangan migas yang sudah berusia puluhan tahun masih dapat mempertahankan produktivitasnya.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kinerja operasional sumur tua, termasuk ketika pengelolaannya telah mengalami peralihan. Upaya mempertahankan produktivitas lapangan yang sudah beroperasi lama dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan produksi migas nasional.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan