Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat berkunjung ke Kilang Cilacap milik Pertamina Patra Niaga. Foto: Pertamina
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat berkunjung ke Kilang Cilacap milik Pertamina Patra Niaga. Foto: Pertamina

Minyak Jelantah Bisa Jadi Cuan dan Bioavtur, Ini Cara Warga Mengelolanya

Annisa ayu artanti • 27 Oktober 2026 19:42
Ringkasnya gini..
  • Bank Sampah Cahaya Asri di Cilacap mengumpulkan 50–60 kg minyak jelantah per bulan yang bisa ditukar dengan uang atau bahan pangan.
  • Bank sampah binaan Pertamina Patra Niaga mengelola minyak jelantah untuk membantu menjaga lingkungan sekaligus menambah pendapatan warga.
  • Minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Jakarta: Minyak goreng bekas yang biasanya dibuang setelah memasak ternyata bisa menghasilkan uang sekaligus membantu menjaga lingkungan. 

Sejumlah bank sampah binaan PT Pertamina Patra Niaga di Cilacap, Jawa Tengah, mengumpulkan minyak jelantah dari warga untuk disalurkan melalui mitra pengumpul.

Salah satunya Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegal Kamulyan yang mampu mengumpulkan sekitar 50-60 kilogram minyak jelantah setiap bulan. Warga dapat menukarkan minyak bekas tersebut dengan uang atau kebutuhan pangan, seperti telur.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat berkunjung ke Kilang Cilacap milik Pertamina Patra Niaga pada Senin, 26 Oktober 2026. Menurutnya, pengelolaan limbah rumah tangga bisa memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung inovasi energi.

“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya dikutip pada Selasa, 27 Oktober 2026.
   

Bank Sampah di Cilacap Ubah Minyak Jelantah Jadi Sumber Penghasilan


Melalui pengumpulan minyak jelantah, masyarakat tidak hanya memperoleh nilai ekonomi dari limbah rumah tangga, tetapi juga turut berkontribusi mengurangi pencemaran lingkungan. 

Hal ini juga sejalan dengan semangat Pertamina Patra Niaga dalam memanfaatkan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku Bioavtur / Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang ramah lingkungan. 

Ketua Bank Sampah Cahaya Asri, Rumdani Prapti Sumiwi, yang berlokasi di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap, menceritakan bahwa pengumpulan minyak jelantah awalnya dikembangkan untuk menjawab persoalan lingkungan.

“Kami awalnya tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya. Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak,” ujar Rumdani.

Bank Sampah Cahaya Asri mengembangkan pendekatan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Minyak jelantah yang dikumpulkan warga dapat ditukarkan dengan uang maupun kebutuhan pangan, seperti telur. 

Melalui upaya tersebut, Bank Sampah Cahaya Asri mampu mengumpulkan sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan untuk kemudian disalurkan melalui mitra pengumpul.

Manfaat ekonomi serupa dirasakan Bank Sampah Abhipraya yang berlokasi di Kelurahan Kutawaru. Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, menjelaskan bahwa kelompoknya telah menjalankan kegiatan pemilahan sampah sejak 2019 sebelum kemudian mengembangkan pengumpulan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.

“Dulu minyak jelantah hanya dibuang tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga karena anggota kami telah mendapatkan edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang sangat membantu perkembangan bank sampah,” kata Herry.

Lebih lanjut, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora menjelaskan dari pengalaman ketiga bank sampah tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pengelolaan minyak jelantah tidak terlepas dari peran berbagai pihak yang terlibat.

"Pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan yang berkelanjutan, serta terbukanya akses penyaluran hasil pengumpulan. Melalui kolaborasi tersebut, limbah rumah tangga dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan memiliki nilai guna yang lebih besar," ujar Kitty.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan