Ilustrasi pedagang daging. Foto: Medcom.id/Nia Deviyana.
Ilustrasi pedagang daging. Foto: Medcom.id/Nia Deviyana.

Ini Solusi Atasi Lonjakan Harga Daging Sapi

Ekonomi daging daging sapi harga daging Kementerian Perdagangan indonesia-australia
Fetry Wuryasti • 04 Februari 2021 12:54
Jakarta: Pemerintah didorong mengoptimalkan peranan Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) untuk mengatasi permasalahan tingginya harga daging sapi di dalam negeri.
 
Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta mengatakan IA-CEPA memberikan akses preferensial ke lebih dari 99 persen produk pertanian Australia yang diimpor Indonesia.
 
Dengan demikian, usaha yang menggunakan pakan biji-bijian (misalnya peternakan) dan daging sapi sebagai bahan produksi sekarang bisa mendapatkan keduanya dengan harga yang lebih rendah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk pakan, tarif akan dihilangkan untuk 500 ribu ton di tahun pertama perjanjian dagang diterapkan, dan jumlah ini akan ditingkatkan secara progresif ke lebih dari 775 ribu ton di tahun kesepuluh," ujarnya dalam keterangan resminya, dikutip dari Mediaindonesia.com, Kamis, 4 Februari 2021.
 
Andree melanjutkan pembukaan impor biji-bijian untuk pakan ternak melalui IA-CEPA merefleksikan bahwa komoditas sapi potong juga memainkan peran penting dalam perdagangan bilateral. Daging sapi adalah jenis protein ketiga terbanyak yang dikonsumsi di Indonesia, setelah ayam dan ikan.
 
Pada 2018, dengan tingkat konsumsi 1,98 kg per orang, Indonesia mengonsumsi sekitar 514 ribu ton daging sapi. Dengan besarnya tingkat konsumsi itu, produksi nasional kurang dari 500 ribu ton. Menurut data Australian Trade and Investment Commission (Austrade), untuk mencukupi kekurangan ini Indonesia mengimpor 510.937 ekor sapi potong.
 
"Kemitraan IA-CEPA memberikan kemudahan berupa pembebasan tarif (dari yang tadinya lima persen) untuk 575 ribu ternak di tahun pertama. Volume bebas tarif ini dinaikkan empat persen setiap tahun sampai mencapai 700 ribu pada tahun keenam. Untuk daging sapi beku, tarif diturunkan dari lima persen menjadi 2,5 persen yang kemudian dihapuskan setelah tahun kelima," kata Andree.
 
Peningkatan volume dan penurunan tarif tentu bisa berkontribusi pada turunnya harga daging sapi di Indonesia. Selain itu, kerja sama ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk mewujudkan konsep ‘poros kekuatan’ yang menggabungkan kekuatan kedua mitra, yaitu sektor pertanian Australia dan industri makanan olahan Indonesia, untuk kemudian merambah pasaran negara lainnya.
 
IA-CEPA sendiri akan didukung berbagai program pelatihan dan kemitraan melalui kegiatan AgriFood Partnership yang bertujuan untuk memperkuat kerja sama rantai pasok pertanian-makanan, salah satunya untuk produk olahan daging.
 
Adanya perjanjian dagang yang mengurangi, bahkan mengeliminasi tarif impor daging merah dalam lima tahun, merupakan modal awal yang baik untuk memastikan kesuksesan program poros kekuatan di sektor makanan olahan berbasis daging.
 
Menurut Menteri Perdagangan M Lutfi, harga daging sapi Australia saat ini sedang mengalami kenaikan. Harganya saat ini mencapai USD3,8 per kilogram, meningkat dari sebelumnya yang sebesar USD2,5 hingga USD2,8 per kilogram. Menanggapi hal itu, Andree menyarankan Kementerian Perdagangan untuk berkoordinasi dengan Economic Cooperation Program (ECP) untuk mendesain program yang memperlancar jalur pasokan sapi potong dan daging sapi dari Australia ke Indonesia.
 
"Misalnya dengan pertemuan berkala antara peternak Australia dengan importir Indonesia, mempelajari hambatan logistik dari Australia ke Indonesia, atau mengevaluasi cara meningkatkan efektifitas rantai distribusi daging sapi di Indonesia," kata Andree.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif