Laporan Kinerja Industri Asuransi Jiwa (Foto: medcom.id/Wisa Irena Br Sitepu)
Laporan Kinerja Industri Asuransi Jiwa (Foto: medcom.id/Wisa Irena Br Sitepu)

Bencana Datang, Perlukah Asuransi Jadi Prioritas Keluarga?

Annisa ayu artanti • 01 September 2026 15:08
Ringkasnya gini..
  • Literasi asuransi masyarakat meningkat, tetapi masih ada kesenjangan dengan jumlah masyarakat yang benar-benar memiliki polis.
  • AAJI menilai kepercayaan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan inklusi asuransi dan mempersempit protection gap di Indonesia.
Jakarta: Banyak orang mungkin sudah tahu bahwa asuransi penting untuk melindungi kondisi keuangan ketika risiko datang. Namun, tahu saja ternyata belum cukup untuk membuat masyarakat benar-benar membeli dan memiliki polis asuransi.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai masih ada jarak antara tingkat literasi dan inklusi asuransi di Indonesia. Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI, Freddy Thamrin mengatakan salah satu kunci untuk mempersempit jarak tersebut adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi.

“Kalau kami melihat salah satu elemen paling penting adalah mengenai trust. Selain orang mengerti, kita lihat literasi kita cukup meningkat tapi inklusi kita masih kurang,” ujar Freddy dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I 2026 pada Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut Freddy, membangun kepercayaan menjadi salah satu pekerjaan rumah penting bagi industri asuransi jiwa. Upaya tersebut perlu dilakukan bersama oleh regulator, perusahaan asuransi, dan berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem industri.

Sejumlah regulasi yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diarahkan untuk memperkuat tata kelola perusahaan, manajemen risiko, serta perlindungan bagi nasabah. Penguatan tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat semakin merasa aman ketika menggunakan produk asuransi.

Freddy mengatakan industri juga telah memiliki peta jalan untuk mengurangi protection gap, yaitu kesenjangan antara kebutuhan perlindungan masyarakat dan perlindungan yang benar-benar dimiliki.

“Tujuannya tentunya untuk mengurangi protection gap yang terjadi di Indonesia dan penetrasi bisa terus naik,” jelasnya.
 
Baca Juga:  Klaim Meninggal ke Asuransi Turun per September 2023

Asuransi Bukan Kebutuhan yang Bisa Ditunda

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo juga mengatakan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan juga perlu terus didorong melalui edukasi. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa asuransi bukan sekadar pengeluaran tambahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kondisi keuangan ketika risiko terjadi.

“Perlindungan asuransi itu bukan kebutuhan ketiga, tapi kebutuhan utama,” kata Albertus.

Ia menilai kesadaran memiliki perlindungan sebaiknya tidak baru muncul ketika seseorang atau keluarganya sudah menghadapi musibah. Edukasi perlu mendorong masyarakat mempersiapkan perlindungan sejak sebelum risiko datang, sehingga kondisi keuangan keluarga tidak ikut terguncang.

Industri Tumbuh, Tapi Inklusi Masih Jadi Tantangan

Di tengah pekerjaan rumah tersebut, industri asuransi jiwa sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator. Pada semester I 2026, pendapatan premi mencapai Rp94,75 triliun atau tumbuh 8,2 persen secara year on year.

Jumlah polis juga meningkat 7,7 persen menjadi 22,44 juta polis. Sementara itu, jumlah tertanggung mencapai 153,58 juta orang atau tumbuh 24,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan