Perbaikan tersebut terjadi di tengah kinerja segmen usaha yang beragam. Gaming menjadi salah satu penopang pertumbuhan, sedangkan Mitra Bukalapak mampu meningkatkan laba kotor meski pendapatannya menurun. Di sisi lain, segmen Retail masih menghadapi tekanan kinerja.
Direktur PT Bukalapak.com Tbk, Victor Putra Lesmana, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari transformasi bisnis dan peningkatan operasional.
“Transformasi bisnis yang telah kami jalankan bersama peningkatan operasional dan disiplin biaya menjadi landasan bagi Perseroan untuk pencapaian yang solid ini,” ujarnya dalam keterangan kinerja keuangan yang dilansir pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Bukalapak mencatat pendapatan Rp5,6 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,7 triliun. Sementara itu, pendapatan pada kuartal III 2026 tercatat Rp1,6 triliun, relatif stabil dibandingkan kuartal III 2025.
Laba kotor Perseroan sepanjang Januari–September 2026 meningkat menjadi Rp459 miliar dari Rp376 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun Adjusted EBITDA berbalik positif menjadi Rp11 miliar, membaik Rp64 miliar dibandingkan posisi negatif Rp53 miliar pada 9M25 (sembilan bulan pertama 2026). Pada kuartal III 2026 saja, Adjusted EBITDA tercatat positif Rp1 miliar, dibandingkan negatif Rp18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi segmen usaha, Gaming menjadi kontributor utama. Segmen yang mengoperasikan marketplace gim seperti Itemku dan Lapakgaming ini membukukan pendapatan Rp4,9 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 27 persen dari Rp3,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba kotor Gaming turut meningkat menjadi Rp193 miliar dari Rp144 miliar. Sementara itu, Adjusted EBITDA segmen ini mencapai Rp48 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, naik 50 persen secara tahunan.
Mitra Bukalapak mencatat dinamika berbeda. Pendapatannya turun 21 persen menjadi Rp487 miliar selama 9M26 (sembilan bulan pertama 2026), sejalan dengan peralihan model bisnis dari first-party ke third-party. Meski demikian, laba kotor meningkat menjadi Rp117 miliar dari Rp109 miliar, didukung fokus pada produk bermargin lebih tinggi. Segmen ini juga membukukan Adjusted EBITDA positif Rp11 miliar selama periode tersebut.
Segmen Investment melalui BMoney mencatat pendapatan Rp69 miliar, meningkat 54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adjusted EBITDA segmen ini juga membaik, dari negatif Rp6 miliar menjadi negatif Rp2 miliar.
Sementara itu, pendapatan Retail turun 8 persen menjadi Rp209 miliar dari Rp228 miliar. Adjusted EBITDA segmen ini tercatat negatif Rp8 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi negatif Rp4 miliar pada 9M25.
Simpanan Likuid Rp16,8 Triliun Dukung Ekspansi
Di tengah dinamika kinerja setiap segmen, Bukalapak memiliki kas, setara kas, dan investasi likuid sebesar Rp16,8 triliun per akhir September 2026. Perseroan menyebut posisi tersebut memberikan fleksibilitas finansial untuk terus mengembangkan berbagai lini bisnis.
Ke depan, perusahaan berencana memperdalam penetrasi pasar melalui inovasi produk dan peningkatan pengalaman pengguna. Strategi tersebut akan dijalankan dengan tetap menjaga disiplin biaya dan investasi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Kami berhasil menjaga pendapatan tetap stabil dan membukukan Adjusted EBITDA positif di tengah tantangan ekonomi global,” kata Victor.
Ia menambahkan, pencapaian tersebut menjadi pijakan bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan secara terukur.
“Hal ini juga menjadi pijakan untuk pertumbuhan ke depan dengan terus melangkah secara terukur menuju profitabilitas berkelanjutan,” tambahnya. (Wisa Irena Br Sitepu)