Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, mencatat sebanyak 4.174 penerbangan terdampak selama periode 5-8 September 2026.
Dampaknya dirasakan di empat bandara yang dikelola InJourney Airports, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan Bandara Raden Inten II.
Dari empat bandara tersebut, Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi bandara yang mengalami dampak operasional paling signifikan.
Bandara Soekarno-Hatta Kembali Beroperasi
Bandara Soekarno-Hatta kembali beroperasi pada 8 September 2026 pukul 00.30 WIB, setelah melalui serangkaian asesmen dan pemeriksaan keselamatan.Sementara bandara terdampak lainnya dibuka secara bertahap. Hasil pengujian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan area bandara telah dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, mengatakan keselamatan penumpang menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional selama erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Keselamatan dan keamanan penumpang senantiasa menjadi prioritas utama kami. Setiap keputusan operasional dilakukan berdasarkan asesmen menyeluruh dan pemantauan berkala, dengan mempertimbangkan kondisi abu vulkanik, hasil paper test, serta informasi dan rekomendasi dari BMKG, AirNav Indonesia, VAAC Darwin, regulator, dan otoritas penerbangan. Di saat yang sama, kami terus memastikan kesiapsiagaan pelayanan kebandarudaraan dan seluruh aspek keselamatan terpenuhi sesuai standar yang dipersyaratkan,” tegas Maya dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.
Meski penerbangan telah kembali berjalan, InJourney menegaskan pemantauan terhadap kondisi ruang udara dan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dilakukan. Hal ini karena sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti aktivitas vulkanik dan arah angin.
Penerbangan Dialihkan ke Sejumlah Bandara
Selama penutupan sementara, InJourney Airports menerapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menjaga konektivitas penerbangan dan mengurangi dampak terhadap mobilitas masyarakat.Salah satunya dengan mengalihkan penerbangan ke sejumlah bandara alternatif. Beberapa di antaranya adalah Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Solo, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Kertajati.
Bandara Kertajati juga menerima sejumlah penerbangan domestik dan internasional yang dialihkan. Penumpang kemudian mendapat dukungan konektivitas lanjutan menuju Jakarta melalui layanan DAMRI dan Whoosh.
Sementara itu, YIA dipersiapkan sebagai salah satu bandara alternatif untuk melayani pesawat berbadan lebar dengan dukungan transportasi darat.
“Sebagai holding yang mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata, peran kami bukan hanya memastikan bandara dapat kembali beroperasi, tetapi juga memastikan perjalanan masyarakat tetap terhubung. Ketika suatu bandara harus ditutup demi keselamatan, kami mengoptimalkan jaringan bandara lain beserta konektivitas transportasi darat agar mobilitas masyarakat tetap terjaga,” jelas Maya.
Penumpang Terdampak Dapat Layanan Pemulihan
Selain mengatur operasional penerbangan, InJourney Airports juga mengaktifkan Service Recovery Activation (SRA) untuk membantu penumpang yang terdampak gangguan penerbangan.Layanan tersebut mencakup penyediaan shuttle bus gratis di Bandara Soekarno-Hatta, makanan dan minuman ringan, area peristirahatan tambahan, serta posko siaga pelayanan penumpang di setiap bandara.
Seluruh layanan diberikan secara gratis kepada penumpang yang memenuhi ketentuan pelayanan. InJourney Airports juga berkoordinasi dengan maskapai untuk memastikan penumpang memperoleh informasi mengenai penerbangan dan layanan yang tersedia sesuai regulasi.