Fenomena tersebut menjadi salah satu sorotan dalam ASEAN SEI KATSU SHA FORUM 2026 yang dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026. Acara tersebut mengangkat tema “Decoding the Prime Generation: A Cross-Generational Journey into Age and Impact”.
Dalam riset HILL ASEAN, kelompok usia yang lebih matang mulai dipandang sebagai “Prime Generations”, yakni generasi yang justru berada pada fase ketika kehidupan, kemampuan finansial, dan keinginan untuk berkembang semakin kuat.
“Kita bisa lihat bahwa above 40 jaman sekarang is our new potential for growth. Kita bisa expand, tidak hanya fokus ke anak muda, tapi mulai consider this above 40 as our road engine. Because they are the new prime audience,” ujar Senior Director of Strategy Hakuhodo International Indonesia, Rian Prabana.
Perubahan ini membuat usia 40+ tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai kelompok yang sedang bersiap memasuki masa pensiun. Mereka justru sedang memasuki fase baru dalam kehidupan dan perlahan mengubah cara menggunakan uang, waktu, serta energi yang dimiliki.
| Baca Juga:
Bukan Amanat Biasa, Guru Gen Z Ini Punya Cara Unik Ajarkan Arti Kesempatan |
Pasar Baru Muncul Saat Generasi 40+ Mulai Memilih Dirinya
Perubahan paling menarik terlihat dari cara generasi 40+ memandang kehidupan. Dalam forum, kelompok ini digambarkan memiliki financial power sekaligus keinginan untuk kembali bereksplorasi dan berekspresi, mulai dari bepergian, camping, diving hingga berbagai aktivitas yang memberi mereka pengalaman baru.“Mereka party, diving, camping, dan mereka exploring things,” ujar Rian.
Aktivitas itu bukan semata-mata upaya untuk terlihat muda, melainkan bagian dari keinginan untuk kembali merayakan hidup setelah bertahun-tahun memberikan porsi besar waktu dan sumber daya kepada keluarga.
Pergeseran tersebut membuat pola konsumsi generasi 40+ menjadi semakin menarik. Setelah bertahun-tahun menempatkan keluarga sebagai prioritas, mereka mulai menyediakan ruang untuk kebutuhan personal, mempertahankan kebebasan, mengejar life purpose, serta melakukan hal-hal yang sebelumnya belum sempat diwujudkan.
HILL ASEAN melihat perubahan ini sebagai peluang bagi brand untuk meninggalkan pendekatan anti-aging yang berfokus pada ketakutan terhadap penuaan dan beralih ke pendekatan pro-aging. Jadi, produk dan layanan tidak hanya hadir untuk mengatasi masalah akibat bertambahnya usia, tetapi menjadi partner bagi konsumen yang ingin terus memperbarui diri dan mengarahkan hidupnya sendiri. (Wisa Irena Br Sitepu)