Bambang Suryo memberikan keterangan pers soal match fixing-Medcom.id/Daviq
Bambang Suryo memberikan keterangan pers soal match fixing-Medcom.id/Daviq

Proses Match Fixing Versi Bambang Suryo

Bola bola liga indonesia suap
Daviq Umar Al Faruq • 06 Desember 2018 05:40
Malang: Mantan calo pengaturan skor (runner match fixing) Bambang Suryo, membeberkan bagaimana proses match fixing di Indonesia. Dia menjelaskan, match fixing dilakukan oleh bandar, runner, manajemen tim, pelatih dan pemain.
 
"Secara globalnya match fixing ada di antara manajemen, pemain, pelatih. Deal-nya tergantung, kalau semua full, ya all sama manajemen," katanya saat jumpa pers, Rabu 5 Desember 2018.
 
Bambang menjelaskan prosesnya berawal saat bandar meminta untuk dicarikan tim oleh calo ataurunner. Bandar bisa berasal dari Malaysia, Singapura, Tiongkok dan lain-lain.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga: Kisah Bambang Suryo Keluar dari DuniaMatch Fixing
 
"Setelah ketemu dengan tim ini, manajemennya mau apa enggak? Kalau mau ya kita ketemuan dan ketemu semuanya. Bandar tidak mau mengeluarkan uang kalau tidak ketemu semua," ungkapnya.
 
Besaran uang yang ditawarkan bandar juga bervariasi. Bambang menceritakan, saat dirinya masih menjadi runner sebelum berhenti pada 2015 lalu, besaran uang yang ditawarkan berkisar antara Rp400 juta hingga Rp800 juta untuk satu pertandingan di liga kasta 1 di Indonesia.
 
"Kalau zaman saya dulu Rp400 juta ke atas. Paling rendah Rp450 juta sampai Rp800 juta untuk liga kasta 1. Kalau liga kasta 2 untuk satu pertandingan Rp400 juta," bebernya.
 
Baca juga: Wasit Jumadi Bantah TerlibatMatch Fixing
 
Namun, Manajer Metro FC ini mengaku besaran uang yang ditawarkan bandar saat ini, berbeda dibanding dulu. Besaran uang yang ditawarkan kini jauh lebih turun.
 
"Sekitar kemarin, saya berbicara dengan orangnya (runner) langsung. Sekitar Rp200 juta minimal Rp150 juta untuk liga kasta dua sekarang," ujarnya.
 
Sementara itu, Bambang menambahkan pemain pun bisa ikut terlibat dalam proses match fixing. Namun, hal itu hanya bisa diketahui oleh orang yang sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola.
 
"Kita lihat manajemen tim, siapa pegang orangnya. Bisa pemain senior, bisa junior, bisa penjaga gawang, bisa pemain belakang, tengah sampai depan, bisa semua. Ciri-cirinya tidak ada, yang jelas orang awam tidak tahu, kalau orang tahu bola, pasti tahu," pungkasnya.
 
Sebelumnya, Bambang menjadi narasumber dalam acara diskusi salah satu televisi nasional, Rabu 28 November 2018. Di sana dia membeberkan fakta mengenai mafia sepak bola di Indonesia dan menyebutkan nama salah satu pelakunya, yakni Vigit Waluyo (VW).
 
Video: Komdis PSSI Tetapkan Hukuman untuk Hidayat

 

(RIZ)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi