Calon Ketua Umum PSSI Vijaya Fitriyasa (Medcom/Rendy Renuki H)
Calon Ketua Umum PSSI Vijaya Fitriyasa (Medcom/Rendy Renuki H)

Wawancara Khusus Vijaya Fitriyasa: Anak Baru yang Ingin Ubah Wajah PSSI (Bagian 2)

Bola pssi
Rendy Renuki H • 28 Oktober 2019 07:45
Jakarta: Vijaya Fitriyasa menjadi salah satu 'anak baru' yang maju dalam pencalonan Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 pada pemilihan di Kongres PSSI, 2 November nanti. Fokusnya adalah mengembalikan citra baik PSSI di mata masyarakat.
 
Salah satu misinya yakni ingin fokus membenahi prestasi Timnas Indonesia. Apalagi pencapaian tim yang ditangani pelatih Simon McMenemy kini sedang merosot drastis, terutama di ajang Pra Piala Dunia 2019 zona Asia.
 
Pemilik klub Jakarta United di Liga 3 dan Persis Solo di Liga 2 ini mengklaim memiliki formula tepat membangun Timnas. Agar nantinya Skuat Garuda bisa bersaing hingga level Asia dan dunia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Vijaya juga bertekad membuat PSSI meminimalkan ketergantungan anggaran pemerintah. Berbekal latar belakang pengusaha, pria yang memiliki beberapa unit usaha itu bertekad menghidupi roda organisasi secara mandiri.
 
Medcom.ID berkesempatan mewawancarai secara khusus pria kelahiran Jakarta tersebut saat menyambangi kantornya di Menara Global, Kuningan, Jakarta. Berikut petikan wawancaranya.
 
1. Anda mengatakan prihatin dengan prestasi Timnas. Bagaimana cara Anda mendongkel prestasi Timnas?
 
Sebenarnya ada dua pendekatan. Petama sifatnya regional dan kedua nasional.
 
Yang regional itu kita bikin di daerah-daerah itu ada kompetisi yang dikelola oleh Asprov. Dari situ lah bibit pemain untuk ke Timnas kita ambil.
 
Kedua pendekatan nasional itu kita perbaiki liganya. Kemudian dari liga itu kita ambil dan kita pakai buat calon-calon pemain Timnas.
 
2. Sebagai pemilik klub, sering terjadi kasus klub enggan melepas pemain ke Timnas yang menjadi masalah klise. Apa solusinya?
 
Kalau untuk jangka pendek memang idealnya Timnas itu harus merupakan hasil dari kompetisi yang baik. Artinya pemain-pemain Timnas itu pemain yang bermain di liga. Tapi kan tadi ada persoalan berbenturan dengan kepentingan klub dan Timnas.
 
Kita bisa ambil jalan tengah pemain yang sudah diambil oleh Timnas maka kewajiban menggajinya itu menjadi kewajiban PSSI, jangan kewajiban klub lagi. Jadi mereka bisa berdedikasi, kalau kita lihat potensinya bagus ya sudah kita dedikasikan untuk Timnas. Pemain tidak ada lagi kewajiban membela klub, asal digaji penuh oleh PSSI.
 
Berikutnya adalah pendekatan lain dengan menyiapkan Timnas dari level junior. Sekarang ini bisa dibilang secara statistik yang bermain di Timnas mungkin hanya 30 persen yang dulunya main di tim junior.
 
Baca juga:Wawancara Khusus Vijaya Fitriyasa: Anak Baru yang Ingin Ubah Wajah PSSI (Bagian 1)
 
Seperti sekarang U-16 prestasinya bagus, U-20 bagus, tapi kenapa ketika sudah sampai senior jeblok. Karena dari U-16 dan U-20, begitu masuk senior hanya 30 persen yang sampai ke tim senior.
 
Kita belajar dari kasus Korea Selatan, Jepang, sama Qatar. Mereka itu menyiapkan Timnas selama empat tahun. Jadi dari junior sudah disiapkan, nah itu yang menjadi tim senior enggak diubah-ubah timnya itu terus. Qatar itu dari mulai junior sudah dipersiapkan selama empat tahun untuk tampil di Piala Dunia.
 
Korsel dan Jepang pun waktu menjadi tuan rumah Piala Dunia menyiapkan Timnas empat tahun. Sebelum Piala Dunia 2002 sudah bikin tim dari junior, disiapkan sampai senior dan tidak berubah timnya. Dijaga programnya, gizinya, dan digaji penuh oleh negara, sehingga tidak terganggu kegiatan dari klub atau liga itu sendiri.
 
3. Anda sendiri jika di Persis Solo ada pemain yang dibutuhkan Timnas bagaimana?
 
Saya harus rela karena untuk kepentingan nasional. Itu kan sama saja seperti seseorang diwajibkan mengikuti Bela Negara atau Wajib Militer. Ya harus mau, namanya untuk kepentingan nasional semua orang itu harus berkorban.
 
Jadi klub juga harus merelakan, cuma nanti kita ambil jalan tengah, yaitu tadi yang menggaji PSSI. Selama ini kan klub keberatan karena yang menggaji tetap klub, PSSI enggak menggaji.
 
Nah, nanti harus ada solusi pemain yang bergabung di Timnas maka gajinya diambil alih oleh PSSI. Kalau junior kan mungkin belum terima gaji, tapi begitu senior kan harus digaji.
 
Sekarang ini kan klub keberatan karena pemainnya tidak main di klub karena main di Timnas tapi gajinya yang bayar klub. Itu mungkin klub keberatan, karena tidak semua klub mempunyai finansial yang bagus.
 
4. Jika PSSI yang menggaji pemain, apa finansial PSSI saat ini menurut Anda sudah bagus? Apa dengan mengandalkan dana pemerintah?
 
PSSI itu tidak pernah mengandalkan dana pemerintah. (Dana) itu dari sponsor, tapi memang jumlahnya belum sesuai dengan yang dibutuhkan oleh PSSI.
 
Sementara dana pemerintah sendiri yang saya dengar dari PSSI malah sering dikembalikan oleh PSSI, karena PSSI enggak mau ribet sama audit, sama BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan lain sebagainya.
 
5. Jadi ketika terpilih menjadi Ketua PSSI, tidak akan mengandalkan dana pemerintah lagi?
 
Kita harus lihat hal-hal mana yang bisa pakai dana pemerintah, mana yang tidak perlu. Misalnya untuk infrastruktur itu tidak bisa dihindari kita harus pakai dana pemerintah.
 
Bangun stadion, bangun pusat latihan nasional, untuk membangun akademi sepak bola di daerah-daerah itu harus dibantu infrastrukturnya oleh dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara).
 
Tapi kan pengelolaannya enggak perlu PSSI, bisa langsung yang merencanakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan yang melaksanakan Kementerian PUPR yang seperti sekarang berlangsung. Stadion-stadion langsung Kementerian PUPR yang merenovasi karena kan sudah ada dasar Intruksi Presiden No 3 Tahun 2019 soal percepatan peningkatan prestasi sepak bola nasional dan internasional, itu yang menjadi dasarnya.
 
Kedua, selain infrastruktur yang kita bisa manfaatkan dana APBN untuk pembinaan pemain usia dini. Jadi untuk pembinaan usia dini bisa memanfaatkan dana pemerintah.
Misalnya untuk kegiatan di Asprov seperti Piala Soeratin dan liga U-12 atau U-14. Itu bisa menggunakan dana dari APBN dengan bekerja sama dengan Kemenpora, di mana PSSI hanya sebagai penyelenggara tapi penanggung jawab anggaran dan lain sebagainya di Kemenpora.
 
Yang ketiga, bisa mengunakan dana APBN menurut saya untuk pelatihan pelatih dan pelatihan wasit. Jumlah pelatih kita kan masih terbatas yang memenuhi standar FIFA atau AFC. Nah itu bisa bekerja sama melalui Kemenpora untuk pembiayaan pelatihan pelatih dan wasit.
 
Nah, selebihnya untuk penyelenggaraan liga karena itu sudah profesional dan untuk pembiayaan Timnas kita bisa menggunakan dana dari sponsor. Sehingga PSSI tidak perlu khawatir diperiksa BPK dan sebagainya, karena PSSI menggunakan dana pemerintah. Karena dana itu yang mengelola bukan PSSI tapi departemen terkait, PSSI mengelola dana yang memang dari sponsor.
 
6. Boleh tahu latar belakang diluar sepak bola?
 
Saya sekarang bisnis perkapalan, menyewakan tanker ke perusahaan minyak. Saya juga ada bisnisoil servicedan tambang nikel dan batu bara.
 

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif