David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari menggagas  Irama Nusantara. (Foto:IST)
David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari menggagas Irama Nusantara. (Foto:IST)

Menelusuri Jejak Musik Indonesia

Irama Nusantara, Berjuang Mengarsipkan Musik Indonesia

Agustinus Shindu Alpito • 16 Oktober 2015 16:14
medcom.id, Jakarta: Karya seni bisa lahir dari ekspresi seniman terhadap segala situasi kekinian pada masanya. Itu sebabnya, pembacaan terhadap suatu zaman bisa dilakukan juga melalui karya seni.
 
Sayangnya akses terhadap karya seni di masa lampau sangat terbatas, pengarsipan karya seni di negeri ini belum jadi prioritas.
 
Indonesia memiliki sejarah seni yang panjang. Apesnya, sejarah itu kini lebih mirip mitos, mengingat minimnya bukti empiris dari kekayaan intelektual itu.

Di bidang musik misal, pemerintah tidak memiliki arsip yang jelas apalagi lengkap soal musik Indonesia dari masa ke masa. Padahal, lewat musik, kita bisa mengenal situasi sosial di masa lampau, termasuk soal kultur dan budayanya.
 
Berangkat dari hobi mengoleksi rilisan musik plus keprihatinan buruknya arsip musik di Indonesia, enam anak muda yang terdiri dari David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Illyas, dan Dian Wulandari menggagas sebuah lembaga pengarsipan musik secara swadaya, Irama Nusantara.
 
“Kami kesulitan mencari informasi tentang musik Indonesia. Boro-boro tentang lagunya, mencari soal informasi band (lama) saja tidak tahu harus ke mana. Saking minim informasi, hasrat mencari tahu semakin ke sini makin timbul. Dulu waktu kami kuliah tahun 1998, kami sempat membuat website Indonesia Jumawa, website lucu-lucuan, tapi untuk berbagi info musik saja,” kata David Tarigan kepada Metrotvnews.com.
 
Kelahiran Irama Nusantara juga tidak lepas dari proyek yang dikerjakan David Tarigan dan teman-temannya di tahun 2008, yaitu Kentang Radio. Lewat radio berbasis daring itu mereka menghidupkan kembali lagu lama Indonesia. Kentang Radio memutar koleksi lagu lawas dari hasil pemindahan format audio piringan hitam ke format audio digital.
 
Dengan berbagai kendala yang ada, kini Irama Nusantara berhasil melalui tahun pertama operasional.  Sejauh ini sudah 1.200 rilisan fisik mereka arsipkan secara digital.
 
“Awalnya kami pakai duit sendiri. Lama-lama ada hibah juga. Kami telah kerjasama dengan Hivos selama delapan bulan. Donasi secara perorangan ada juga. Kami masih terbuka, siapapun yang mau memberi bantuan, dengan tangan terbuka kami terima,” kata David.
 
Setiap bulannya, Irama Nusantara memiliki target mengarsipkan 100 rilisan fisik. Pada tahun ke-dua operasional, Irama Nusantara berharap adanya peningkatan target, menjadi 120 rilisan fisik tiap bulan, termasuk pengarsipan musik dari kaset. Menjalani misi ini memang butuh modal besar, terlebih soal konsistensi dan komitmen.
 
“Tahun kemarin 100 rilisan fisik per bulan, berhasil selama 8 bulan. Ada dua orang yang mengerjakan, Ari (Yanuari Murdiansyah) untuk urusan audio dan  Dresthi (Andreas Dresthi) untuk urusan visual. Ternyata kami bisa. Tahun ini kami pasang target 120 rilisan fisik termasuk kaset, tapi belum terlalu bisa mengejar,” ujar Christoforus Priyonugroho atau yang akrab disapa Bla.
 
Apa yang dilakukan Irama Nusantara tentu akan lebih berdampak jika dibarengi kesadaran berbagai pihak akan pentingnya pengarsipan musik. David bahkan menerka bahwa sejarah musik Indonesia yang sekarang diketahui dan dapat ditelusuri hanya sekitar sepuluh persen. Sisanya tenggelam digerus waktu.
 
“Radio zaman dulu hanya RRI, dan enggak mungkin RRI putar semua lagu. Hanya yang santun-santun saja. Piringan hitam dulu juga belum banyak karena harganya mahal. Pas era kaset tahun 70-an, rilisan fisik baru naik berkali-kali lipat. Intinya banyak kendalanya kenapa (rekaman musik zaman dulu) itu enggak sampai ke generasi berikutnya. Belum lagi masalah hak ciptanya. Jadi, celah jurangnya dalam. Jadi enggak tersambungkan ke generasi selanjutnya. Kita enggak pernah tahu apa yang terjadi di masa lalu,” lanjut David.
 
Irama Nusantara, Berjuang Mengarsipkan Musik Indonesia
(foto:Iramanusantara.org)
 
Pemindahan audio dari piringan hitam ke format audio digital juga tidak mudah. Hal itu memakan waktu yang cukup lama. Mereka harus mengolah dengan perangkat lunak agar hasil audio maksimal.
 
“Kami bersihkan lagu (hasil pemindahan) pakai software. Jadi audionya lebih pantas disajikan. Jangan sampai lagunya enggak bisa didengar, dan enggak dapat ide dari musiknya itu sendiri,” kata David.
 
Dengan adanya Irama Nusantara, tentu penggemar musik Indonesia, bahkan akademisi, mendapat referensi yang baru. Ke depannya, Irama Nusantara memiliki rencana-rencana besar untuk pengarsipan musik Indonesia. (Baca: Di Bawah Tekanan Soekarno, Musik Indonesia Justru Keren)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA