Suasana tasyakuran HUT ke-56 Partai Golkar/Dok. Istimewa
Suasana tasyakuran HUT ke-56 Partai Golkar/Dok. Istimewa

56 Tahun Golkar, Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

Medcom Files
M Rodhi Aulia • 22 Oktober 2020 13:42
USIA Partai Golkar sudah memasuki 56 tahun. Masa-masa yang telah dilalui penuh dengan lika-liku.
 
Bahkan sempat mengalami pembelahan yang cukup tajam beberapa waktu lalu. Kini, Partai Golkar tetap eksis bahkan tampak solid.
 
Soliditas itu di antaranya tampak dengan kehadiran sejumlah sesepuh Golkar. Mereka kompak menghadiri tasyakuran HUT ke-56 Partai Golkar di sebuah hotel di Jakarta, Rabu 21 Oktober 2020 malam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Mereka adalah Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono,Luhut Binsar Pandjaitan dan lain-lain. "Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, hingga saat ini Partai Golkar tetap bersatu dan solid sehingga dengan itu, kita menjadi kekuatan politik yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah dan kebijakan bangsa Indonesia ke depan," kata Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
 
Airlangga menyadari penuh di era pandemi covid-19 ini penuh dengan tantangan. Di satu sisi, perlu ada tindakan serius dalam penanganan kesehatan dan di sisi lain juga perlu tindakan serius dalam pemulihan ekonomi.
 
"Masyarakat di era pandemi ini tetap harus kita dorong agar tetap terjaga produktivitas ekonominya dengan tetap mematuhi protokol Covid-19 secara ketat," ujar dia.
 
Airlangga mulai melihat hasil dari permulihan ekonomi yang terus digenjot Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Ia optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga ini akan lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal kedua. Hal ini disebabkan karena kontribusi dari investasi, konsumsi dan ekspor.
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini juga menyoroti pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law. Airlangga meyakini pengesahan ini menjadi momentum pemulihan ekonomi semakin cepat.
 
"UU Cipta Kerja ini memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu agar kita dapat keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) dan dapat memanfaatkan adanya bonus demografi yang kita miliki saat ini. Namun tantangan yang terbesar adalah bagaimana kita mampu menyediakan lapangan kerja," terang Airlangga.
 
UU Ciptaker merupakan reformasi struktural yang paling fundamental akibat banyaknya aturan dan regulasi. Penyederhanaan, sinkronisasi dan pemangkasan regulasi menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan.
 
Airlangga menyakini UU ini akan menghilangkan segala sesuatu yang menghambat penciptaan lapangan kerja. UU ini sekaligus juga diyakini sebagai instrumen untuk penyederhanaan dan peningkatan efektifitas birokrasi, pemberian perlindungan dan kemudahan bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
 
"Tugas kita saat ini adalah bagaimana mengawal implementasi dari UU Cipta Kerja agar sesuai dengan cita-cita yang kita harapkan. Memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, menumbuhkan kepercayaan dunia usaha, menarik investasi, terciptanya lapangan kerja seluas-luasnya, lahirnya inovasi baru dan tentu ekonomi kita semakin lebih baik serta menjadi negara maju," tegas Airlangga.

 
(DHI)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif