Tangkapan layar pemberitaan palsu di media sosial. Foto: Facebook
Tangkapan layar pemberitaan palsu di media sosial. Foto: Facebook

[Fakta atau Hoaks]

[Cek Fakta] Benarkah Vaksin Covid-19 Berbahaya Akibat Fenomena ADE? Begini Faktanya

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 25 September 2021 17:40
Beredar sebuah unggahan terkait potensi bahaya antibody-dependent enhancement (ADE) pada vaksin Covid-19. Video itu beredar di media sosial dan pesan berantai.
 
Akun Facebook Zena M Dzarqi turut membagikan klaim tersebut pada Selasa 27 Juli 2021. Akun itu mengunggah tangkapan layar pemberitaan televisi terkait potensi bahaya vakisn covid-19. Tangkapan layar disertai narasi sebagai berikut:

"Bagaimana kalau sudah begini...ini Dokter peneliti yg ngomong di Transmedia....sialan, ternyata; #VAKSINASI_BERISIKO_TINGGI_DAN_MENYEBABKAN_KEMATIAN"


Benarkah demikian? Berikut cek faktanya.
 

[Cek Fakta] Benarkah Vaksin Covid-19 Berbahaya Akibat Fenomena ADE? Begini Faktanya

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Penelusuran:
Dari hasil penelusuran, klaim bahwa potensi bahaya antibody-dependent enhancement (ADE) pada vaksin Covid-19 adalah salah. Faktanya, klaim ini sudah dibantah para ahli. Dilansir covid19.go.id, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, dengan tegas membantah isu tersebut. Ia meluruskan, vaksin covid-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung ADE.
 
Ketua PB IDI dr Daeng Mohammad Faqih membantah adanya reaksi ADE setelah vaksinasi Covid-19 dikarenakan vaksin Sinovac sudah diuji klinis oleh PT Bio Farma dan peneliti dari Universitas Padjajaran. Hasil dari penelitian tersebut tidak ditemukan adanya reaksi ADE dan telah dilaporkan ke BPOM.
 
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Kusnandi Rusmil juga membantah hal tersebut. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad ini menyatakan fenomena ADE sejauh ini baru terlihat pada dengue. Fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV pun juga hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).
 
Menurutnya, pada uji klinis saat ini, tidak ditemukan adanya efek samping serius yang disebabkan oleh vaksin maupun vaksinasi, termasuk pada uji klinis fase 1 dan 2 sebelumnya. Kusnadi menambahkan dalam penelitian vaksin COVID-19 yang dilakukan di dunia, saat ini lebih dari 140 calon vaksin sudah dibuat, sebagian di antaranya sudah dalam tahap uji klinis pada manusia.
 
“Hingga saat ini belum ada bukti terjadinya ADE (pada kandidat vaksin COVID-19). Kewaspadaan dan monitoring terhadap keamanan vaksin tetap harus dilakukan,” pungkasnya.
 
Selain itu, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 Pengurus Besar (PB) IDI, Iris Rengganis, dengan tegas membantah hal tersebut. Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung ADE.
 
“Pada vaksin COVID-19 tidak ditemukan ADE, yang ada pada vaksin dengue atau demam berdarah. Untuk yang beredar saat ini mulai dari Sinovac, Sinopharm, Cansino, yang akan masuk, Sputnik AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan lainnya yang ada di dunia semua tidak ada ADE-nya,” kata Prof Iris, dikutip dari CNNIndonesia.
 

Kesimpulan:
Klaim bahwa potensi bahaya antibody-dependent enhancement (ADE) pada vaksin Covid-19 adalah salah. Faktanya, klaim ini sudah dibantah para ahli.
 
Informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
 
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
 

[Cek Fakta] Benarkah Vaksin Covid-19 Berbahaya Akibat Fenomena ADE? Begini Faktanya
 

Referensi:
https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-video-potensi-bahaya-vaksin-covid-19
 

*Kami sangat senang dan berterima kasih jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta, kemudian melaporkannya melalui surel [email protected] atau WA/SMS ke nomor 082113322016
 


 
(WAN)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif