Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial
Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial

Benarkah Menteri Nadiem akan Pangkas Waktu Pendidikan SD, SMP dan SMA? Ini Faktanya

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 27 November 2019 12:03
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dikabarkan akanmemangkas masa pendidikan jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Kabar itu menyebar di media sosial.
 
Akun Facebook Buku Generasi Biru diketahui membagikan informasi itu pada Rabu, 20 November 2019. Pemilik akun mengunggah foto hasil tangkapan layar dengan isi kutipan gagasan pemangkasan jumlah tahun pendidikan yang dibubui foto Mendikbud Nadiem Makarim. Berikut secara lengkap narasi yang tertulis pada foto tangkapan layar tersebut:
 
Ide "gila" Nadiem Makarim
Gagasan Nadiem Makarim (Mendikbud) ingin memangkas jumlah tahun pendidikan SD, SMP & SMA. Demi percepatan dan kualitas SDM Bangsa ini sesuai reformasi industri di era 4.0 ini
Untuk SD dari 6 th menjadi 4 th. SMP dan SMA akan jadi 2 th. Agar menyesuaikan umur ketika melanjutkan kuliah sampai sarjana S1,S2,S3. Saya inginnya Umur 18th sudah selesai S3.
Saya tau ini akan jadi pro kontra. Makanya kita akan bicarakan secara nasional!?.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Pula, akun tersebut juga menambahkand caption (takarir) sebagai berikut: Terobosan ide "gila" Mendikbud. Nadiem Makarim yg ingin memperlakukan lama sekolah dari SD,SMP,SMA jadi singkat. SD 4 th, SMP 2th, SMA 2 th. Kalo Mimin sih setuju2 aja. Biar masih lulusannya umur relatif masih Muda banget.
 

Benarkah Menteri Nadiem akan Pangkas Waktu Pendidikan SD, SMP dan SMA? Ini Faktanya
 

Penelusuran:
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Medcom.id, narasi yang tertera pada foto tangkapan layar yang diunggah akun Buku Generasi Biru dikutip dari artikel di Kompasiana dimuat pada 19 November 2019. Artikel itu berisi opini yang ditulis oleh Johanis Malingkas. Di kotak profil, Johanis menulis dirinya adalah dosen di Universitas Sam Ratulangi.
 
Berikut secara lengkap artikel opini yang Johanis tulis di laman Kompasiana:
 
Persoalan dunia pendidikan di negeri ini begitu kompleks. Boleh di bilang masih sering di jumpai "benang kusut" yang perlu di urai.Sementara itu negeri ini diperhadapkan dengan era baru "masa percepatan" jelang revolusi industri 4.0.
 
Saya maksud dengan istilah ide "gila" disini adalah gagasan baru yang bisa dianggap kontroversil. Gagasan yang menerobos pola lama sistem pendidikan yang lazim saat ini. Gagasan yang dapat dijadikan bahan diskusi bersama untuk menemukan kegiatan yang dapat dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber daya yang tersedia.
 
Misalkan jenjang pendidikan sejak TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi bila di lihat dari kelaziman akan menghabiskan waktu standar selama 17 tahun. Jadi kalau masuk TK seorang anak berusia lima tahun berarti seorang anak akan selesai pendidikan Perguruan Tinggi S1 di usia 22 tahun. Bila ia akan melanjutkan pendidikan S2 dan S3 selama 5 tahun maka pendidikan di Indonesia menghasilkan produk S3 saat seseorang berusia 27 tahun. Itu normalnya dan bila seseorang ini akan studi terus menerus dan belum menikah maka ia akan menikah pada usia diatas 27 tahun.
 
Nah, seandainya jenjang itu dilakukan terobosan perubahan yang dapat di pertanggung jawabkan mengapa tidak? Perubahan disini disesuaikan dengan era kekininian, apa salah?Lama waktu di SD menjadi 4 tahun, SMP dan SMA masing-masing 2 tahun maka akan ada selisih 4 tahun lama studi. Seseorang akan menamatkan SMA pada usia 13 tahun. S2 dan S3 selama 5 tahun berarti kita akan produk SDM bergelar doktor pada usia 18 tahun.
 
Gagasan ini mengacu dari era "percepatan" dan jelang era revolusi industri 4.0 sehingga Indonesia akan menyiapkan tenaga profesional yang akan berkompetisi bukan hanya di negeri ini namun ke kancah internasional.
 
Gagasan ini mengacu dari visi mendikbud tentang deregulasi dan debirokratisasi dimana pemerintah mengusulkan peraturan yang memungkinkan terjadi percepatan jenjang kependidikan yang baru. Dengan sistem baru ini akan lebih mengurangi ongkos pendidikan pihak orang tua dan mempersiapkan aset bangsa yang enerjik dan profesional berusia muda.
 
Optimisme gagasan ini karena metode pembelajaran akan di arahkan pada sistem komputerisasi, pengajaran berbasis online dimana peserta didik akan diperkaya ipteks teraktual yang akan memicu motivasi belajar yang bukan hanya belajar teori namun mampu mempraktekkannya dan lebih diaktifkan dalam diskusi. Era teknologi canggih memungkinkan siswa belajar mandiri dan guru-guru dan dosen berfungsi sebagai pengarah yang profesional.
 
Untuk mendukung sistim baru ini perlu di pikirkan pemusatan sekolah di tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi. Akan ada sesi pengajaran materi dari pusat komputer yang di berikan secara online disesuaikan dengan kurikulum yang baku.
 
Memang disadari bahwa adanya kekhawatiran masyarakat terhadap stigma" ganti Menteri ganti kebijakan" namun bila kebijakan itu masuk akan dan dapat direalisasikan demi efisiensi dan efektivitas, kenapa tidak?
 
Tulisan ini hanyalah sebuah gagasan yang memang perlu didiskusikan secara nasional. Saya menyadari bahwa pasti ada yang pro dan anti terhadap ide "gila" ini namun inilah sebuah kebebasan berpendapat dan dipersembahkan kepada anda dengan harapan dapat ditanggapi dan dikomentari.
 
Saya rasa di era percepatan dan jelang era revolusi industri 4.0 kita memerlukan terobosan baru yang mungkin saja dianggap ide "gila" hehehe.

 

Benarkah Menteri Nadiem akan Pangkas Waktu Pendidikan SD, SMP dan SMA? Ini Faktanya
 

Kesimpulan:
Tangkapan layar kutipan tentang gagasan Mendikbud Nadiem Makarim memangkas jumlah tahun pendidikan SD, SMP dan SMA lengkap dengan foto tersebut adalah salah. Gagasan Mendikbud yang beredar luas tersebut merupakan gagasan perseorangan yang dibuat oleh Johanis Malingkas.
 
Gagasan yang dibuat oleh Johanis yang diketahui dosen di Universitas Sam Ratulangi tersebut dibuat dengan maksud memberikan masukan dan juga solusi yang ditujukan kepada Mendikbud Nadiem Makarim di era revolusi industri 4.0 agar perlu mendiskusikannya secara nasional.
 
Gagasan yang ia tulis tersebut juga ia tandai dengan tema 'Melukiskan pikiran lewat kata-kata'. Namun dalam konteks yang beredar di kalangan masyarakat, seolah-olah gagasan pemangkasan jumlah tahun pendidikan tersebut berasal dari Mendikbud Nadiem Makarim.
 
Informasi hoaks tersebut masuk dalam aktegori False context (konteks keliru). False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.
 

Referensi:
https://www.kompasiana.com/johanisalbertmalingkaspacaran/5dd367f2097f36658b00a2e2/ide-gila-buat-mendikbud-nadiem-makarim
 

Sumber:
https://www.facebook.com/Buku-generasi-biru-120966129308206/
 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=146549460083206&substory_index=0&id=120966129308206
 

 

(WAN)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif