Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial
Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial

[Cek Fakta] Penularan Difteri di Jakarta dan Jabar Melalui Bubuk Cabai?

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 11 Oktober 2019 14:47
Beredar pesan berantai WhatsApp yang menyebut 600 korban penyakit Difteri di Jakarta dan Jawa Barat. Pesan itu juga menjelaskan penyebab penyakit Difteri berasal dari jajanan yang menggunakan cabe bubuk yang sudah terkena kencing tikus.
 
Di akhir tulisan, disebutkan sumber informasi dari pesan itu berasal dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Lantas, pesan itu menyebar ke media sosial Facebook.
 
Berikut isi pesan tersebut:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Dki Jakarta, Jabar. Ada 600 yang kena. RS penuh dg kondisi anak2 Difteri. 38 sdh meninggal. Jadi memang kejadian luarbiasa. Dinkes DKI Jakarta mengadakan imunisasi masal sd 11 Des. Usia 1 sd 19 tahun Hati2 jgn jajan yg pk cabe bubuk, Jgn jajan pk cabe kering seperti cabe di tahu bulat, otak2, dsb. pokoknya jgn pake cabe bumbu kering. Karena penuh penyakit dr kencing tikus, kasusnya byk yg meninggal karena penyakit difteri...
 
PERHATIAN
Utk kita2 yg keluarga atau putra putrinya suka mengkonsumsi jajanan dg menggunakan bumbu tabur (terutama yg mengandung cabe kering) spt... cilok, tahu crispy, singkong goreng atau yg lain, monggo dievaluasi kembali.
Knp..??? Di pabrik cabe tabur, tampak bahan cabe kering ditimbun di gudang tak peduli dijadikan sarang tikus.
Tentu saja KENCING TIKUS akan tercecer disana dan membahayakan.
Mari kita jaga keluarga kita.
 
Gejala Difteri
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:
•Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
•Demam dan menggigil.
•Sakit tenggorokan dan suara serak.
•Sulit bernapas atau napas yang cepat.
•Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
•Lemas dan lelah.
•Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
 
DIHIMBAU UTK HATI2 saat ini DIFTERI sudah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), jadi kalau tidak terpaksa betul, jangan jajan diluar ya. Tolong disampaikan pada semua keluarga dekat. Penularan melalui droplet spt dari ludah , batuk, dll kaya penularan TBC. Jadi hindari tempat2 keramaian seperti tempat2 rekreasi dll ini khusus warga Jakarta, Jawa barat dan sekitarnya.
 
Info : Dinkes DKI Jakarta

 

 
[Cek Fakta] Penularan Difteri di Jakarta dan Jabar Melalui Bubuk Cabai?
 

Penelusuran Fakta:
Setelah dilakukan penelusuran, informasi tersebut sudah menyebar ke berbagai media sosial sejak Februari 2019. Informasi itu kembali muncul akhir-akhir ini. Akun Facebook Drik Roy Retraubun kembali menyebarkan informasi tersebut pada Selasa, 8 Oktober 2019.
 
Disitat dari akun Instagram Dinas Kesehatan DKI Jakarta @dinkesdki, informasi tersebut tidak benar alias hoax. Pada Minggu 6 Oktober 2019, Dinkes DKI menegaskan informasi itu tidak bersumber dari instansinya.
 
"Jika Bapak/Ibu menerima informasi seperti di atas, Kami pastikan informasi tersebut hoaks dan tidak berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta," tulis akun Dinkes DKI.
 

[Cek Fakta] Penularan Difteri di Jakarta dan Jabar Melalui Bubuk Cabai?
 

Ditelusuri lebih lanjut, ternyata narasi dari pesan berantai itu diambil dan diedit dari artikel berita Detik.com yang tayang pada Senin, 18 Desember 2017. Artikel itu aslinya tentang data jumlah anak yang meninggal karena difteri.
 
Berikut isi artikelnya:
 
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut ada 38 anak yang meninggal dunia karena terserang penyakit difteri. Korban meninggal itu tercatat sejak November-Desember.
 
"Hingga saat ini 38 anak Indonesia dinyatakan meninggal dunia karena terserang penyakit difteri dan lebih 600 anak dirawat di RS karena terserang difteri di 120 kota/kabupaten, kata Ketua PB IDI Ilham Oetama Marsis, di kantor PB IDI Jalan Samatulangi, Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017).
 
Data jumlah anak yang meninggal karena difteri didapat IDI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). IDI menilai data dari IDAI akurat.
 
"Itu data-data dari kawan-kawan IDAI, IDAI ini ujung tombak kita PB IDI di daerah. Kadang-kadang laporan dari IDAI kalau saya mengatakan jauh lebih akurat," jelasnya.
 
Ilham mengatakan, banyaknya anak-anak yang menderita difteri karena diduga tidak lengkapnya imunisasi yang diberikan. Imunisasi lengkap artinya imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) harus dilakukan sebanyak 8 kali sampai usia 19 tahun.
 
"Lengkap itu imunisasi 4 kali sampai usia 2 tahun, sampai umur 5 tahun DPT 5 kali, sampai unur 19 tahun DPT, DT, Td total 8 kali," sambung Ilham.
 
Menurut Ilham, seseorang yang sudah mendapatkan 8 kali imunisasi DPT masih bisa terkena virus difteri. Namun kemungkinan terserang difteri bagi orang yang sudah mendapatkan vaksin lebih kecil.

 
Masih dikutip dari Detik.com, penyebab dan penularan virus difteri bukan dari makanan cabe kering bubuk penuh tikus melainkan Corynebacterium diphtheriae dan tidak ada hubungannya dengan tikus.
 
"Difteri tidak ditularkan melalui gigitan apa pun, tapi melalui droplet atau cairan yang keluar kalau berdekatan, misalnya bersin. Jadi ini jelas-jelas hoax," jelas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi saat dihubungi, Kamis 21 Desember 2017.
 
Memang, tikus tetap membawa penyakit. Namun penyakitnya bukan difteri, melainkan leptospirosis.
 
"Pada daerah yang kumuh, itu tikus-tikus berkeliaran, yang kencingnya bisa menyebabkan penyakit leptospirosis. Tapi kalau difteri tidak," ujar Oscar.
 

Kesimpulan:
Kabar yang menyebut penyebab Difteri berasal dari bubuk cabai adalah salah. Isi pesan berantai itu diambil dari artikel berita daring lalu diubah menjadi informasi yang salah.
 

Referensi:
https://www.instagram.com/p/B3QiUWxgteY/
https://news.detik.com/berita/d-3774591/idi-38-anak-meninggal-karena-difteri
https://news.detik.com/berita/d-3780528/viral-broadcast-cabai-kering-penuh-tikus-penyebab-difteri-apa-iya
 

Sumber:
https://www.facebook.com/drik.royretraubun
https://www.facebook.com/search/top/?q=Dki%20Jakarta%2C%20Jabar.%20Ada%20600%20yang%20kena.&epa=SEARCH_BOX
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif