Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Deepfake Mengancam Para Fact Checker

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 02 November 2019 18:03
Deepfake, kini menjadi buah bibir. Teknologi Artificial Intelligence atau AI ini, mampu mengganti muka seseorang dengan muka orang lain pada gambar bergerak di video.
 
Teknologi ini pertama kali menjadi perhatian publik pada April 2018, ketika beredar sebuah video yang memperlihatkan Barack Obama menghina Presiden Donald Trump dalam sebuah pidato. Padahal, video yang dibuat komedian Jordan Peele itu sebenarnya tidak pernah ada alias video deepfake.
 
Pakar kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan keamanan siber dari University of California Los Angeles (UCLA), John Villasenor mengatakan, Deepfake dapat dibuat oleh siapa saja dengan komputer dan akses internet.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
"Deepfake adalah alat baru yang memungkinkan pembuatan informasi palsu untuk memengaruhi pemilihan," jelas John dilansir dari CNBC, Sabtu 2 November 2019. Di sisi lain, muncul kekhawatiran teknologi Deepfake disalahgunakan untuk tujuan jahat. Misalnya, memproduksi konten hoaks bahkan untuk kepentingan kampanye politik tertentu.
 
Terbukti, Desember 2018, penelitian berasal dari perusahaan keamanan siber, Deeptrace, menemukan terdapat 14.698 video deepfake beredar di internet, sebanyak 7.964 video deepfake ditemukan pada Desember 2018.
 
"Perdebatan deepfake masih tertuju tentang politik atau penipuan dan ancaman jangka pendek, tetapi banyak orang lupa bahwa video palsu pornografi adalah ancaman yang sangat nyata, sangat terkini yang merugikan banyak wanita," jelas Henry Ajder, kepala analisis penelitian di Deeptrace.
 
Dari total video deepfake yang beredar, 96% berisi konten pornografi. Banyak ditemukan wajah selebritas yang diambil menggantikan wajah pelaku video pornografi. Para peneliti menemukan bahwa penyanyi aktris Amerika, Inggris, dan K-Pop Korea Selatan banyak dimasukkan ke dalam video palsu.
 

Ancaman Pemeriksa Fakta
Meskipun kecerdasan buatan bisa dipakai membuat video deepfake, namun kini para peneliti juga semakin fokus mendeteksi deepfake dan mencari cara untuk membuat aturan soal ini.
 
Perusahaan teknologi semacam Facebook dan Microsoft, sudah mengambil tindakan untuk mendeteksi dan menghapus video deepfake. Tahun ini, kedua perusahaan itu mengumumkan akan bekerja sama dengan sejumlah universitas unggulan di Amerika Serikat untuk membuat sebuah basis data besar tentang video-video deepfake untuk kepentingan penelitian.
 
"Sebetulnya ada secuil aspek visual yang tidak muncul kalau kita cermati, entah itu dari bentuk telinga, mata yang tidak selaras hingga ke kulit wajah di bagian tepi atau kulit yang terlalu mulus kena paparan cahaya dan bayangan," kata Singer ahli keamanan dan pertahanan siber sekaligus akademisi senior di lembaga peneliti New America.
 
Tapi dia mengatakan mendeteksi kekurangan itu kini makin sulit seiring teknologi deepfake yang kini kian canggih dan video terlihat semakin asli.
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif