Peserta IVLP dari enam media di Indonesia. Foto: Metro TV/Zilvia Iskandar
Peserta IVLP dari enam media di Indonesia. Foto: Metro TV/Zilvia Iskandar

[Cek Fakta]

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam

Medcom Files Cek Fakta
MetroTV • 27 Januari 2020 07:57
Pada akhir tahun 2019, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat dari tanggal 25 November hingga 13 Desember 2019. IVLP adalah program pertukaran profesional yang diselenggarakan dan didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
 
Setiap tahun sekitar 12 sampai 15 kelompok peserta IVLP dari Indonesia atau sekitar 150 orang berangkat ke AS untuk belajar dan bertukar informasi serta membangun relasi dengan pihak pemerintah, swasta, akademisi, media, LSM dan berbagai organisasi di tingkat nasional maupun lokal. Tema IVLP berbeda-beda untuk setiap kelompok.
 
Saya bersama dengan lima rekan jurnalis, Agoez Perdana dari kabarmedan.com, Edho Sinaga dari jubi.co.id, Feri Kristianto dari Bisnis Indonesia, Saffri Sitepu dari Kompas TV Biro Sulawesi, Sophia dari TVRI Papua, dan satu aktivis literasi media Rut Silalahi dari Redaxi, mengikuti IVLP 2019 dengan tema “Fact Based Journalism in the Digital Age”. Selama 3 minggu di AS, kami mengunjungi Washington, DC, New York, Florida, dan Minnesota.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Tujuan utama dari IVLP kali ini adalah mempertemukan peserta dengan para akademisi dan praktisi media untuk saling berbagi formula dalam melawan hoaks atau berita bohong di era digital ini. Sebelum membahas bagaimana formulanya, perlu diketahui bahwa media dan warga Amerika tidak memakai istilah hoaks (hoax) untuk merujuk pada informasi yang dinilai bohong, palsu, atau rekayasa. Mereka memakai istilah fake news atau disinformation.
Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam
Peserta IVLP dari enam media di Indonesia. Foto: Metro TV/Zilvia Iskandar
 

Saat berada di New York, saya menemui Shaydanay Urbani, reporter riset First Draft, sebuah organisasi nirlaba global yang membantu para jurnalis, akademisi, dan teknologi untuk menghadapi tantangan penyimpangan informasi di era digital. Penyimpangan informasi ada yang tidak disengaja (misinformasi) dan disengaja (disinformasi). Shaydanay menjelaskan untuk memahami ekosistem misinformasi dan disinformasi, First Draft membaginya menjadi 3 elemen.
 
Pertaman, dari Jenis Konten yang Dibuat dan Dibagikan. Istilah hoaks yang sering kita pakai ternyata memiliki banyak varian. First Draft mengelompokkannya ke dalam tujuh tipe misinformasi dan disinformasi.
 
1. Satire atau Parodi
Satire merupakan konten berunsur parodi atau sarkasme yang dibuat untuk menyindir atau mengkritik pihak tertentu. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan, tetapi bisa mengecoh karena sebagian masyarakat menganggap informasi dalam satire sebagai kebenaran.
 
2. Misleading Content (Konten yang Menyesatkan)
Penyalahgunaan informasi dengan maksud menggiring opini sesuai kehendak pembuat konten. Informasi yang digunakan adalah informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, tetapi diedit sesuai dengan opini yang ingin dibangun pembuat konten.
 
3. Imposter Content (Konten Tiruan)
Informasi yang dibuat dengan menjiplak atau meniru konten asli, menghilangkan sumber aslinya dan mengesankan seolah-olah penjiplak adalah sumber aslinya.
 
4. Fabricated Content (Konten Palsu)
Informasi yang 100% isinya adalah rekayasa. Sengaja dibuat untuk mengelabui orang lain.
 
5. False Connection (Koneksi yang Salah)
Judul, gambar, atau caption tidak sesuai dengan isi konten.
 
6. False Context (Konteks yang Salah)
Peristiwanya benar ada tetapi konteks yang disajikan melenceng dari fakta. Misalnya video peristiwa 5 tahun lalu, tetapi disebut baru terjadi hari ini.
 
7. Manipulated Content (Konten Manipulasi)
Memanipulasi informasi asli dengan maksud mengelabui orang lain. Konten manipulasi biasanya adalah hasil editan dari konten yang pernah diterbitkan atau ditayangkan media-media kredibel.
 

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam
 

Kedua, Motivasi Pembuat Konten. Motivasi dalam membuat hoaks bisa bermacam-macam, ada yang tidak disengaja karena kesalahan jurnalistik dan ada yang disengaja karena berbagai maksud tertentu. First Draft mengelompokkannya menjadi 8P.
 
Ketiga, dilihat dari cara konten disebarluaskan. Hoaks disebarkan melalui berbagai mekanisme penyebaran dari yang sederhana sampai rumit.
 
1. Hoaks disebarkan secara tidak sadar oleh pengguna media sosial karena asal dan tidak mengecek isi konten terlebih dahulu.
2. Hoaks disebarkan oleh jurnalis yang berada di bawah tekanan tinggi untuk bisa dengan cepat membuat banyak konten di media sosial.
3. Hoaks disebarkan oleh kelompok-kelompok yang terkoneksi untuk memengaruhi pendapat publik.
4. Hoaks disebarkan oleh akun bot dan pabrik hoaks (troll factory) sebagai bagian dari strategi kampanye.
 
Sebagai jurnalis, tentu poin nomor dua di atas cukup meresahkan bagi saya. Jurnalis yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk melawan hoaks, bisa jadi secara tidak sengaja menyebarluaskan hoaks karena kurang hati-hati. Untuk membantu kerja jurnalis di era digital dan post-truth ini, peserta IVLP bertemu dengan Andy Carvin, seorang jurnalis yang juga Senior Fellow di Digital Forensic Research Lab (DFRLab), Washington, DC. Andy menjelaskan bahwa di era digital ini, banyak informasi yang bisa dicek kebenarannya dengan menggunakan sumber terbuka (open source) yang tersedia untuk publik.
 

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam
Peserta IVLP bersama Andy Carvin, Senior Fellow di Digital Forensic Research Lab (DFRLab), Washington, DC. Foto: Metro TV/Zilvia Iskandar
 

Andy mencontohkan penggunaan reverse image search untuk menemukan sumber sebuah foto. Melalui https://images.google.com/ misalnya, kita bisa mencari foto-foto pembanding dengan cara mengunggah foto yang kita miliki. Biasanya cara ini dilakukan untuk mengetahui benarkah foto tersebut diambil di lokasi A, benarkah foto tersebut diambil pada tanggal sekian, benarkah foto tersebut adalah foto si B, dan benarkah foto tersebut menggambarkan peristiwa C.
 
Meski bisa memanfaatkan berbagai fitur teknologi, adakalanya partisipasi publik menjadi kunci. Dalam beberapa kasus, Andy melibatkan partisipasi publik untuk mengecek fakta. Pernah suatu kali DFRLab tempat Andy bekerja, menerima foto yang diklaim berasal dari lokasi perang. Namun karena kebenaran foto itu sulit dikonfirmasi, Andy mengunggah foto itu di media sosial dan meminta bantuan warganet untuk memberikan informasi apapun yang mereka ketahui tentang foto itu.
 
“Anda akan terkejut mengetahui begitu banyak informasi yang bisa didapatkan dari publik. Bahkan seorang anak berumur 11 tahun yang hobi mempelajari seluk-beluk militer pun bisa menjadi informan berharga”, ungkap Andy.
 
Kemampuan jurnalis dalam mengumpulkan dan mengolah data juga menjadi penentu dalam menghasilkan karya jurnalistik yang akurat dan kredibel. Saya bertemu dengan Jennifer LaFleur, seorang Data Journalist-in-Residence di School of Communication, American University. Jennifer berbicara soal jurnalisme data. Ia menekankan bahwa data adalah fondasi dari cerita. Data yang kuat akan menghasilkan cerita yang kuat. Tugas jurnalis adalah mengumpulkan data yang dinilai penting, menyusunnya dengan rapi, dan menampilkan data tersebut dengan cara yang atraktif.
 
Masalahnya, data sering kali tersebar di banyak tempat dan berantakan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengumpulkan data di internet. Salah satunya adalah web scraping. Web scraping adalah proses ekstraksi data dari berbagai situs dan menyimpannya ke satu file atau database. Web scraping bisa membantu mengumpulkan data yang banyak dengan lebih cepat karena tidak perlu copy-paste satu per satu. Data yang banyak itu kemudian diubah menjadi data yang lebih terstruktur, sehingga memudahkan proses analisa data. Selain teknik web scraping, Jennifer juga merekomendasikan beberapa aplikasi untuk mengolah data, seperti Tabula, OpenRefine, dan Document Cloud.
 
Hal-hal penting yang perlu dilakukan dalam proses mengolah data menjadi karya jurnalistik adalah mengonfirmasi kebenaran data ke sumber data, memeriksa data ke para ahli, dan mengecek ke lapangan. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, Jennifer menekankan bahwa data tidak selalu disajikan dalam bentuk kolom dan garis. Agar lebih menarik untuk dibaca, ditonton, atau didengar, data bisa disajikan dalam bentuk grafik seperti gambar, peta, statistik, maupun suara.
 
Diskusi favorit saya selama mengikuti IVLP di AS adalah dengan Al Tompkins, Senior Faculty untuk broadcasting dan online di The Poynter Institute. Poynter adalah sekolah jurnalisme ternama di St. Petersburg, Florida. Sebagai pengajar senior di Poynter, Al telah berkeliling dunia mengajari ribuan jurnalis, mahasiswa jurnalistik, dan pendidik mengenai perkembangan jurnalisme dan etika jurnalistik. Perlu diketahui, untuk bisa menjadi jurnalis di AS, harus lulusan sekolah jurnalistik, tidak seperti di Indonesia yang lulusan sarjana apapun bisa menjadi jurnalis.
 

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam
Peserta IVLP bersama Al Tompkins, Senior Faculty untuk broadcasting dan online di The Poynter Institute. Foto: Metro TV/Zilvia Iskandar.
 

Al membuka diskusi dengan menceritakan Presiden Donald Trump yang menyebut beberapa media di AS sebagai fake news. Sejak itulah virus fake news atau berita palsu mulai menyebar ke belahan dunia lainnya. Setiap berita yang tidak sesuai dengan keyakinan atau pandangan politik seseorang, dengan mudahnya dilabeli sebagai berita palsu.
 
“Jika pemerintah atau pihak lain menyebut media Anda sebagai fake news, hal paling penting yang harus dicatat adalah Anda tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun. Selain itu, jurnalis harus sebisa mungkin bersikap transparan dalam memberitakan sesuatu. Penting untuk disampaikan ke publik bagaimana Anda mendapatkan informasi tersebut, apa yang Anda ketahui dan apa yang belum Anda ketahui. Lengkapilah dengan dokumen pendukung dan rekaman wawancara utuh untuk menguatkan kebenaran berita yang Anda sampaikan,” tegas Al.
 
Al juga mengingatkan bahwa kesalahan jurnalistik tidak selalu berarti kebohongan, tetapi bisa saja kesalahan murni yang tidak disengaja. Jika media melakukan kesalahan dalam pemberitaan, sudah seharusnya media melakukan klarifikasi dengan jujur. Untuk mencegah terjadi kesalahan dalam pemberitaan, media harus sangat berhati-hati dan bijaksana dalam proses produksi berita.
 
Harus diingat bahwa cek fakta bukan instrumen yang sempurna. Al mengatakan bahwa akurat tidak selalu berarti benar. Data yang disajikan boleh jadi akurat sesuai fakta (faktual), tetapi belum tentu benar sesuai konteks (kontekstual). Kebenaran adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kumpulan fakta. Jurnalis harus tetap menggunakan nalarnya untuk menginterpretasikan fakta sesuai dengan konteks.
 
Al mencontohkan terjadi sebuah kecelakaan di jalan dan jatuh korban. Kemudian ada perempuan berjilbab yang lewat di jalan itu sambil menelepon. Lalu media membuat berita ada seorang perempuan berjilbab di lokasi kecelakaan yang sibuk berbicara di telepon dan tidak peduli dengan korban. Padahal sebenarnya, perempuan tersebut sedang menelepon keluarga korban untuk memberi tahu tentang kecelakaan itu. Dari contoh ini kita bisa melihat bahwa faktanya sudah akurat, ada perempuan berjilbab di lokasi kecelakaan yang sedang menelepon, tetapi apa yang digambarkan media bukan sebuah kebenaran karena konteksnya salah.
 
Satu hal lagi yang saya catat dari diskusi tiga jam bersama Al, ia menyatakan meski jurnalis telah melakukan semua pekerjaan jurnalistik dengan akurat dan benar, jurnalis tidak bisa membuktikan apapun kepada orang yang tidak ingin percaya. Namun, bagaimanapun reaksi pembaca, penonton, atau pendengar, jurnalis harus berusaha semaksimal mungkin untuk transparan dalam menyampaikan informasi.
 
Yang terpenting sekaligus yang tersulit dalam usaha melawan hoaks, adalah literasi media. Pada hari terakhir kami di New York, peserta IVLP menemui Profesor Katherine Fry, seorang profesor di bidang studi media. Profesor Katherine mengatakan tujuan utama dari literasi media adalah menghasilkan audiens yang aktif dan berpengetahuan luas. Partisipasi adalah kunci di dunia media sosial. Setiap orang harus memiliki kontrol diri yang baik dan bertanggung jawab terhadap cara mereka hidup di media sosial.
 
Diperlukan sikap kritis dan skeptis terhadap informasi yang diterima, agar kita tidak menjadi bagian dari hoaks. Memang belum ada cara yang instan dan rumus yang sempurna untuk melakukan literasi media. Namun, usaha yang konsisten dan intens adalah modal dasar bagi keberhasilan literasi media.
 

Oleh: Zilvia Iskandar, Jurnalis Metro TV
 

 

(WAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif