Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial
Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial

Benarkah Gaji Ahok di Pertamina Rp3,2 Miliar? Ini Faktanya

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 26 November 2019 13:35
Beredar informasi di media sosial menyebut gaji mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai komisaris utama di PT Pertamina (Persero) sebesar Rp3,2 miliar per bulan. Kabar itu juga menyebar melalui pesan berantai di aplikasi WhatsApp.
 
Akun Twitter @nnyzhuxin membagikan kabar tersebut dengan mengunggah cuitan bertuliskan sebagai berikut:
 
Ahok akan terima gajih sekitar RP 3,2 M per bln.angka yg cukup fantastis

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Alhamdulillah ini ganjaran buat orang yg baik. Sabar dan jjr
Alloh membayarnya dengan kontan
Rezeki orang terzolimi. Kardun tau ini makin kelonjotan

 
Cuitan yang diunggah pada Selasa 25 November 2019 itu, telah disukai sebanyak 259 kali, dikomentari 46 kali dan 60 kali retweet.
 

Benarkah Gaji Ahok di Pertamina Rp3,2 Miliar? Ini Faktanya
 

Penelusuran:
Setelah ditelusuri, klaim yang menyebut gaji Ahok sebagai komisaris utama di Pertamina sebesar Rp 3,2 miliar per bulan adalah hoaks. Merujuk pemberitaan Medcom.id melalui artikel berjudul "Pertamina Bantah Gaji Ahok Rp3,2 Miliar/Bulan", Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra membantah kabar tersebut.
 
"Itu angka yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kita juga tidak tahu dari mana angka sebesar itu," jelas Basuki.
 
Berikut secara lengkap isi artikel bantahan Pertaminan yang dimuat Medcom.id:
 
Jakarta: PT Pertamina (Persero) membantah asumsi yang menyebutkan jika penghasilan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Komisaris Utama Pertamina mencapai Rp3,2 miliar per bulan.
 
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra mengatakan besaran gaji dan kompensasi yang diterima oleh komisaris dan dewan direksi tersebut tidak lah benar atau hoaks.
 
"Itu hoaks! Kami tidak tahu angkanya bisa sebesar itu. Masyarakat bisa memahami," kata Basuki di Komisi V DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 25 November 2019.
 
Basuki pun tidak tahu dari mana angka tersebut berasal. Namun yang pasti, ia mengatakan jika besaran angka tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan.
 
"Itu angka yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kita juga tidak tahu dari mana angka sebesar itu," jelas Basuki.
 
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mengeluarkan peraturan nomor 01 tahun tahun 2019 tentang perubahan keempat peraturan Menteri BUMN nomor 04 tahun 2014 tentang pedoman penetapan penghasilan direksi, dewan komisaris, dan dewan pengawas BUM.
 
Dalam Bab II yang mengatur mengenai penghasilan direksi, dewan komisaris dan dewan pengawas BUMN disebutkan bahwa honorarium komisaris utama sebesar 45 persen dari gaji direktur utama. Adapun gaji Direktur Utama diatur dalam pedoman internal yang ditetapkan oleh Menteri BUMN.
 
Adapun berdasarkan laporan keuangan Pertamina 2018 diketahui kompensasi untuk menejemen baik direksi dan dewan komisaris berupa gaji dan imbalan yang diterima mencapai USD47,23 juta atau setara Rp665 miliar.
 
Jika angka tersebut dibagi dengan jumlah direksi yang sebanyak 11 dan dewan komisaris enam maka masing-masing sebesar Rp39 miliar per tahun atau Rp3,25 miliar per bulan. Namun tentunya mengacu pada aturan Menteri BUMN tersebut, besaran penghasilan direksi dan jajaran komisaris tentu berbeda.

 

Kesimpulan:
Klaim yang menyebut gaji Ahok sebagai komisaris utama di Pertamina sebesar Rp 3,2 miliar per bulan adalah hoaks
 

Referensi:
https://www.medcom.id/ekonomi/energi/8N0ZP0Mk-pertamina-bantah-gaji-ahok-rp3-2-miliar-bulan
 
Sumber:
https://twitter.com/nnyzhuxin/status/1198824368916189184
 

 

(WAN)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif