Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial
Tangkapan layar pemberitaan palsu dari media sosial

[Cek Fakta]

[Cek Fakta] Pejabat NU Rebutan Mencium Tangan Paus Fransiskus?

Medcom Files Cek Fakta
Wanda Indana • 19 Desember 2019 16:00
Beredar sebuah foto di media sosial yang memperlihatkan seorang laki-laki sedang mencium tangan Paus Fransiskus. Foto itu juga menyebar melalui pesan berantai di WhatsApp Group (WAG) dengan narasi bahwa pria yang mencium tangan Paus adalah seorang pejabat Nahdlatul Ulama (NU).
 
Akun Facebook Abu Hanifah Jandriadi Yasin diketahui pertama kali mengunggah foto tersebut pada Sabtu, 28 September 2019. Pemilik akun menambahkan narasi bertulsikan:
 
"Salim dulu sini sama Mbah paus
Keras terhadap kaum muslimin, sowan kepada mbahnya kafirin
Bos-bos Banser sowan paus Fransiskus".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Unggahan tersebut telah dibagikan 1,4 ribu kali, mendapat 641 reaksi dan 70 komentar. Pada Selasa, 17 Desember 2019, akun Facebook Joko Wik Wik juga ikut menyebarkan foto tersebut pada laman grup PSPS Pendukung Setia PRABOWO - SANDI. Pemulik akun membagikan foto yang sama namun dengan tambahan narasi bertuliskan "Nabinya Islam Nusantara Pengemis Beras". Pemilik akun juga menyisipkan caption (takarir) bertuliskan:
 
"Para gus rebutan sungkem sama paus".
 

[Cek Fakta] Pejabat NU Rebutan Mencium Tangan Paus Fransiskus?
 

[Cek Fakta] Pejabat NU Rebutan Mencium Tangan Paus Fransiskus?
 

Penelusuran:
Setelah dilakukan penelusuran tim Cek Fakta Medcom.id, Pria dalam foto yang dibagikan akun Abu Hanifah Jandriadi Yasin dan Joko Wik Wik adalah bernama Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono, seorang beragama katolik. Bukan orang NU.
 
Melalui teknik reverse image, foto identik ditemukan di Kompas.com melalui artikel berjudul "GP Ansor Kunjungi Vatikan, Paus Fransiskus: Saya Doakan Anda, Anda Doakan Saya". Di dalam artikel itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor ( GP Ansor) Yaqut Cholil Qoumas beserta jajaran pengurus berkunjung ke Vatikan pada Rabu 25 September 2019. Rombongan juga berkesempatan untuk bertemu dengan Paus Fransiskus usai acara Audiensi Umum di lapangan Santo Petrus, Vatikan, Roma.
 
Dalam pertemuannya dengan pemimpin tertinggi umat Katolik, GP Ansor membawa misi tersendiri. Misi tersebut adalah untuk menyampaikan dukungan terhadap dokumen "Human Fraternity for World Peace and Living Together" yang dikampanyekan Paus Fransiskus dan Grand Syech Al-Azhar.
 
"Dalam kesempatan bertemu dengan Paus Fransiskus, kami juga menyampaikan dokumen 'GP Ansor Declaration on Humanitarian Islam' atau Deklarasi GP Ansor tentang Islam untuk Kemanusiaan," ujar Yaqut.
 

[Cek Fakta] Pejabat NU Rebutan Mencium Tangan Paus Fransiskus?
 

Sementara itu, dilansir dari dutaislam.com, Wakil Sekjen Pengurus Pusat GP Ansor, KH Aunullah A’la Habib (Gus Aun) memberikan klarifikasi terkait foto tersebut. Dia menjelaskan bahwa pria yang mencium tangan Paus Fransiskus bukanlah orang NU maupun Ansor, tapi A.M Adiyarto Sumardjono, seorang beragama Katolik.
 
"Buat yang terlanjur mencaci maki. Itu (yang mencium tangan) Namanya A.M Adiyarto Sumardjono, Kepala Biro Umum di Kantor Wantimpres. A.M itu nama baptis, kepanjangan dari Albertus Magnus. Jadi beliau beragama Katolik. bukan sama sekali orang NU atau Ansor. Jadi kalau bagi kita seperti ketemu sama Kiainya lah. Maka wajarlah Dia cium tangan Paus," jelas Gus Aun Sabtu 28 September 2019.
 
Gus Aun juga menjelaskan, GP Ansor bertemu dengan Paus dan beberapa tokoh lintas agama untuk menyampaikan gagasan Ansor untuk perdamaian dunia. Tegasnya, Ansor bukan pertama kali mengupayakan perdamaian dunia ini.
 
"Bahkan Ansor sejak 2017 sudah mendeklarasikan Humanitarian Islam dan mengkampanyekan di banyak belahan dunia. Lha terus sampean sudah berbuat apa untuk membantu terwujudnya penyelesaian konflik dunia?," kata Gus Aun.
 

[Cek Fakta] Pejabat NU Rebutan Mencium Tangan Paus Fransiskus?
 

Kesimpulan:
Klaim bahwa pejabat NU rebutan mencium tangan Paus Fransiskus adalah hoaks. Informasi hoaks tersebut masuk dalam kategori Misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
 
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
 

Referensi:
https://internasional.kompas.com/berita/08205111-gp-ansor-kunjungi-vatikan-paus-fransiskus-saya-doakan-anda-anda-doakan?page=all
https://www.dutaislam.com/2019/09/pengurus-ansor-difitnah-cium-tangan-paus-fransiskus-begini-faktanya.html?fbclid=IwAR2mViJ-i6SwdFfqDQ6nfKKk3_Ue8p1hT3YJ4eLlb3qrtvVd9mwrTjh_i98
https://wantimpres.go.id/?page_id=1184&lang=en
 

Sumber:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=778800155907298&set=a.126489194471734&type=3&theater
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=146467660100443&set=gm.493690861276204&type=3&theater
https://www.facebook.com/groups/276665096312116/?tn-str=*F
 


 
(WAN)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif