NEWSTICKER
Tangkapan layar informasi palsu di media sosial
Tangkapan layar informasi palsu di media sosial

[Cek Fakta]

[Cek Fakta] Anies Kejar Target 6.000 Kasus Pasien Positif Korona dengan Kebijakan-kebijakan Menjerumuskan? Ini Faktanya

Medcom Files Cek Fakta
M Rodhi Aulia • 24 Maret 2020 08:40
Beredar narasi di media sosial bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengejar target sebanyak 6.000 kasus pasien positif terjangkit virus korona atau covid-19. Narasi ini muncul disertai dengan foto penampakan sejumlah warga sedang berkerumun. Di antaranya terkait operasi pasar sembako.
 
Adalah akun facebook Yoki David yang membagikan foto tangkapan layar artikel dan mengunggah narasi pada Senin 23 Maret 2020. Ia mengklaim bahwa Anies mengejar target 6.000 kasus positif korona. Untuk memenuhi target itu, Anies membuat kebijakan sebagaimana yang tampak pada foto.
 
Berikut narasinya:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
"Anis lagi kejar target 6000 kasus korona...hati2 ya semuanya...kebijakannya ga ada yg mengajak penyelamatan malah menjerumuskan...," kata akun Yoki David.
[Cek Fakta] Anies Kejar Target 6.000 Kasus Pasien Positif Korona dengan Kebijakan-kebijakan Menjerumuskan? Ini Faktanya
 

Penelusuran:
Dari penelusuran kami, klaim bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengejar target sebanyak 6.000 kasus pasien positif terjangkit virus korona atau covid-19, adalah salah. Faktanya Anies tidak pernah membuat target tersebut.
 
Seperti dalam video Mata Najwa yang diunggah channel Najwa Shihab pada 12 Maret 2020. Anies menyampaikan dua model pengendalian penyebaran virus korona.
 
Pertama, model pengendalian yang digunakan Iran, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Italia. Langkah awal mereka dianggap rileks dan pengetesan terbatas.
 
Namun lonjakan pasien positif korona terus meningkat. Ia mencontohkan di Italia pada 20 Februari 2020 hanya tercatat 4 kasus positif korona. Dalam 18 hari kemudian, tercatat 9.172 kasus.
 
"Lompatannya luar biasa. Nah, kemudian Sesudah itu lompat, pemerintahnya bertindak untuk melakukan penutupan, pembatasan semuanya. Itu satu model," ujar Anies.
 
Model pengendalian kedua, kata Anies, seperti yang dilakukan Singapura, Vietnam dan Selandia Baru. Pemerintah setempat melakukan penutupan dan pembatasan sebelum jumlah pasien positif korona melonjak tajam. Dari sini, Anies ingin mencontoh model kedua tersebut.
 
"Kalau dua minggu ke depan, kita tidak melakukan langkah-langkah yang serius, punya potensi bisa 6000 kasus, 840 parah, 300 kritis. Ini simulasi dengan menggunakan skenario terburuk, jika kita tidak mengerjakan seperti yang dikerjakan oleh Singapura, oleh Selandia baru dan oleh Vietnam," terang dia.
 
Faktanya kini, 2 pekan setelah video itu diunggah, jumlah pasien positif korona masih jauh dari 6.000. Di Indonesia, per Senin 23 Maret 2020, tercatat 579 kasus positif, 49 meninggal dunia dan 30 orang yang sembuh.
 
Tren jumlah pasien positif terus meningkat. Pemerintah masih mencari pola penanganan terbaik dalam mengendalikan penyebaran virus korona.
 
Meski sejumlah kebijakan terkait perwujudan semangat ini, sempat melahirkan rangkaian protes. Seperti halnya penyesuaian jadwal sejumlah moda transportasi.
 
Alih-alih mengurangi penumpukan penumpang, justru malah memperparah keadaan. Sehingga sempat timbul apa yang dinamakan ironi social distancing dan dugaan kejahatan kemanusiaan.
 
Pula gelaran operasi pasar murah yang akhirnya ditunda. Lagi-lagi karena merusak semangat social distancing. Oleh karena itu sangat diperlukan cara yang tepat dalam merealisasikan kebijakan yang harus diakui, memang mulia.
 
"Yang menjadi masalah adalah mengatur masyarakat (ketika mengantre dan berbelanja). Di tengah kondisi begini kita harus waspada. Wabah (korona) ini sangat ganas. Tujuan kita baik," kata Plt Kepala PPKUKM Provinsi DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo, seperti dilansir Bisnis, Minggu 22 Maret 2020.
 

Kesimpulan:
Klaim bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengejar target sebanyak 6.000 kasus pasien positif terjangkit virus korona atau covid-19, adalah salah. Namun dari sejumlah kebijakan itu, diperlukan evaluasi pelaksanaan yang sangat ketat.
 
Klaim ini masuk kategori hoaks jenis jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
 
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
 

Referensi:
1. https://www.youtube.com/watch?v=yZmg5F_HWAs
2. https://video.medcom.id/breaking-news/zNAY78wN-pasien-positif-covid-19-di-indonesia-bertambah-jadi-579-orang
3.https://jakarta.bisnis.com/read/20200322/384/1216580/operasi-pasar-murah-di-jakarta-ditunda-masyarakat-diminta-tetap-tenang
 


 

(DHI)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif