Dalam situasi seperti ini, aplikasi pemantau kualitas udara bisa membantu warga melihat perubahan kondisi udara dan menentukan kapan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah.
Badan Geologi menyebut Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Aktivitas erupsi yang berlangsung menghasilkan abu vulkanik, sementara sebarannya dapat dipengaruhi arah angin.
Karena itu, kondisi udara di satu wilayah bisa berbeda dengan daerah lain dan dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
Hal yang perlu dipahami, aplikasi kualitas udara bukan alat untuk memastikan seseorang aman dari abu vulkanik. Data aplikasi lebih tepat digunakan sebagai informasi tambahan untuk mengetahui kondisi partikulat dan membantu mengatur aktivitas.
Berikut beberapa aplikasi dan situs yang bisa digunakan.
1. IQAir AirVisual
IQAir AirVisual menjadi salah satu pilihan yang cukup lengkap karena menyediakan data kualitas udara secara real-time, histori, prakiraan, serta peringatan ketika kualitas udara memburuk.Aplikasi ini memantau sejumlah parameter seperti PM2.5, PM10, ozon, NO2, CO, dan SO2. IQAir juga menyebut AirVisual menggabungkan data dari jaringan stasiun pemerintah, sensor terverifikasi, serta sumber lainnya. Prakiraan kualitas udara tersedia hingga tujuh hari dan menggunakan pembelajaran mesin serta AI.
Untuk kasus abu vulkanik, pengguna bisa memberi perhatian lebih pada data partikulat, terutama PM10 dan PM2.5.
2. Nafas Indonesia
Untuk pengguna di Indonesia, Nafas menarik karena fokusnya memang pada kualitas udara lokal. Aplikasi ini memungkinkan pengguna melihat AQI dan konsentrasi PM2.5 di lokasi terdekat.Nafas menyebut informasi lokasi terdekat diperbarui setiap 10 menit. Pengguna juga dapat melihat kelembapan, suhu, histori kualitas udara, prakiraan, serta mendapatkan notifikasi dan rekomendasi terkait kualitas udara.
Keunggulannya ada pada pendekatan lokal, sehingga lebih relevan ketika pengguna ingin memantau kondisi di kota atau area tempat tinggalnya.
3. Plume Labs
Plume Labs Air Quality cocok untuk pengguna yang ingin melihat kualitas udara secara langsung sekaligus memperkirakan perubahannya. Aplikasi ini menampilkan PM2.5, PM10, NO2, dan O3 serta peta kualitas udara.Plume Labs juga menyediakan prakiraan kualitas udara dan notifikasi ketika terjadi lonjakan polusi. Data yang digunakan berasal dari kombinasi pengukuran darat dan citra satelit, dengan model machine learning untuk membuat prediksi.
4. Air Matters
Air Matters menawarkan pemantauan AQI dan data polutan secara real-time dari lebih dari 180 negara. Platform ini juga menyediakan prakiraan cuaca dan informasi yang dapat membantu pengguna memahami kondisi udara di lokasi tertentu.Aplikasi seperti ini cukup berguna ketika pengguna sedang berpindah lokasi, terutama untuk membandingkan kondisi udara di beberapa wilayah.
5. World Air Quality Index
Tidak ingin memasang aplikasi? World Air Quality Index (AQICN/WAQI) bisa diakses melalui browser.Situs ini menyediakan peta kualitas udara secara real-time dengan data dari berbagai sumber, termasuk jaringan pemantauan pemerintah, sensor komunitas, dan sejumlah sumber atmosfer lainnya.
Namun, WAQI sendiri mengingatkan bahwa data yang ditampilkan merupakan data yang belum tervalidasi pada saat publikasi dan dapat diperbarui kemudian. Karena itu, hasilnya sebaiknya dibaca sebagai informasi pemantauan, bukan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan keselamatan.
6. AirCare
AirCare dapat menjadi pilihan untuk pengguna yang menginginkan tampilan informasi kualitas udara yang lebih sederhana. Platform ini menyediakan data AQI dan sejumlah informasi lingkungan sehingga pengguna tidak harus memahami terlalu banyak parameter teknis untuk mengetahui apakah kondisi udara sedang memburuk.Untuk kebutuhan sehari-hari, pendekatan visual semacam ini cukup membantu ketika tujuan utamanya adalah menentukan apakah aktivitas luar ruangan perlu dikurangi.
7. Aplikasi dan Kanal Resmi Pemerintah
Untuk kasus Gunung Anak Krakatau, jangan hanya mengandalkan aplikasi AQI umum. Informasi mengenai aktivitas vulkanik sebaiknya dicek melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG, Magma Indonesia, dan pemerintah daerah.Badan Geologi secara resmi mengarahkan masyarakat untuk memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunung Anak Krakatau melalui situs PVMBG, Magma Indonesia, serta kanal resmi Badan Geologi.
Ini penting karena angka AQI tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai bahaya erupsi.
Abu vulkanik merupakan salah satu material yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan, dan CDC menyarankan masyarakat mengikuti arahan otoritas, tetap berada di dalam ruangan saat memungkinkan, serta menggunakan respirator N95 yang sesuai ketika harus berada di luar atau membersihkan abu.
Cara Memakai Aplikasi Kualitas Udara Saat Hujan Abu
Jangan berhenti pada melihat angka AQI sekali sehari. Saat kondisi Gunung Anak Krakatau berubah, cek data secara berkala dan bandingkan dengan informasi resmi mengenai arah serta sebaran abu.Perhatikan pula data partikulat seperti PM10 dan PM2.5, tetapi jangan menyimpulkan bahwa angka yang terlihat aman berarti seseorang bebas dari risiko abu vulkanik. CDC menegaskan bahwa abu dan gas vulkanik dapat mengganggu mata serta saluran pernapasan.
Anak-anak, penderita asma, dan orang dengan gangguan jantung atau pernapasan termasuk kelompok yang lebih rentan.
Dengan kata lain, aplikasi kualitas udara berfungsi sebagai alat bantu membaca situasi, bukan pengganti peringatan resmi atau perlindungan pernapasan. Dalam kondisi erupsi seperti sekarang, kombinasi data digital dan arahan otoritas tetap menjadi pendekatan yang paling masuk akal.