Ki-ka: COO Christofle Rio, CEO Patrick Lee, dan CTO Darren Goh. (Medcom.id)
Ki-ka: COO Christofle Rio, CEO Patrick Lee, dan CTO Darren Goh. (Medcom.id)

Strategi Startup Singapura Tantang Dominasi Google

Teknologi teknologi startup
Ellavie Ichlasa Amalia • 05 Juli 2019 14:23
Singapura:Pada 2018, pendapatan perusahaan induk Google, Alphabet mencapai USD32 miliar. Sebanyak 84 persen dari total pendapatan itu berasal dari iklan.
 
Google mendapatkan uang dari iklan dengan menjual "ruang" pada pengiklan yang ingin menampilkan iklannya pada halaman pencarian dengan kata kunci terkait. Menurut BBC, Google menggunakan sistem lelang Vickrey.
 
Jadi, setiap pihak yang ingin memasang iklan tidak mengetahui berapa harga yang rela dibayarkan oleh pihak lain. Pihak yang berani memberikan bayaran tertinggi menang dan membayar harga dari penawaran tertinggi kedua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Google mengumpulkan data dari para penggunanya untuk bisa memberikan hasil pencarian yang relevan. Namun, sebagai pengguna, tidak ada yang Anda dapatkan, kecuali layanan dari Google, dalam kasus ini mesin pencari. Padahal, data kini menjadi komoditas yang berharga.
 
Bagi Boogle, startup asal Singapura, ini tidak adil. Inilah yang mendorong mereka untuk membuat search engine sendiri, Boogle.io. Satu hal yang membedakan Boogle dengan Google atau search engine lainnya adalah Boogle memberikan apresiasi pada pengguna berupa Boo Tokens, yang merupakan mata uang kripto.
 
Strategi Startup Singapura Tantang Dominasi Google
 
"Jadi mesin pencari Boogle telah beropasi. Anda cukup membuat akun, yang hanya memakan waktu beberapa detik. Dan Anda akan mendapatkan dompet digital," kata COO Boogle, Christofle Rio.
 
"Ketika Anda membuat dompet digital, Anda akan mendapatkan kunci privat, berupa username dan password."
 
Pria yang akrab dengan panggilan Chris ini lalu menjelaskan Anda bisa menggunakan kunci privat Anda untuk masuk ke dompet digital Anda. "Setiap kali Anda menggunakan mesin pencari kami, Anda akan mendapatkan apresiasi. Dan ketika Anda mengklik iklan yang tampil, Anda juga akan mendapatkan token," katanya.
 
Jumlah token yang Anda dapatkan ketika Anda mengklik iklan adalah 10 persen dari total biaya yang pengiklan keluarkan untuk memasang iklan.
 
Bagaimana cara kerja Boogle?
Salah satu produk dari Boogle adalah search engine. Sama seperti Google, sumber pendapatan Boogle juga akan berasal dari iklan. Hanya saja, Boogle juga ingin berbagi apa yang mereka dapatkan dari iklan dengan komunitas.
 
"Ketika pengguna mengklik iklan, dia akan mendapatkan 10 persen dari total nilai iklan. Sebanyak 15 persen akan didapatkan oleh Boogle. Sementara 75 persen sisanya akan diberikan pada penambang," kata Chris.
 
Strategi Startup Singapura Tantang Dominasi Google
 
Mesin pencari Boogle didasarkan pada blockchain. Mengingat jaringan Boogle sangat menggantungkan diri pada keberadaan penambang, tidak heran jika sebagian besar pendapatan dari iklan diberikan pada para penambang.
 
Sukses sebagai perusahaan internet, Google menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk mengembangkan data center. Menurut situs Google, perusahaan asal AS itu memiliki 16 data center yang tersebar di berbagai negara.
 
Menurut Boogle, ada dua cara untuk mengalahkan perusahaan raksasa seperti Google. Pertama, membangun data center yang dapat menyaingi Google. Namun, ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar dengan uang dalam jumlah banyak. Kedua, adalah memberdayakan komunitas. Boogle memilih cara kedua.
 
Boogle menggunakan teknologi hybrid blockchain. Ada dua tipe penambang di Boogle, yaitu crawler miner dan storage miner. CTO Boogle, Darren Goh menjelaskan, crawler memberikan kontribusi berupa daya komputasi sementara storage miner, seperti namanya, memberikan kontribusi berupa ruang storage.
 
Edukasi tentang Privasi
Salah satu hal yang ingin Boogle berikan pada penggunanya adalah privasi. Pada saat yang sama, kebanyakan orang tampaknya tidak terlalu peduli dengan privasi data mereka. Hal ini terbukti ketika Facebook mengalami skandal Cambridge Analytica pada tahun lalu, dan para penggunanya tetap menggunakan jejaring sosial itu.
 
Terkait hal ini, Chris percaya, mereka akan bisa mengedukasi masyarakat setelah mereka tahu akan keberadaan Boogle.
 
"Berbicara tentang cara melindungi privasi pengguna, kita bisa mengedukasi mereka setelah kita membangun kesadaran akan perusahaan kita. Setelah mereka tahu siapa Anda, mereka menggunakan platform Anda, saat itu, Anda bisa mengedukasi mereka," kata Chris.
 
Sementara itu, CEO Boogle, Patrick Lee mengaku bahwa salah satu tantangan yang dihadapi oleh Boogle sebagai perusahaan adalah membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya privasi data serta blockchain.
 
"Untuk itu, kami bekerja sama dengan institusi edukasi. Di Singapura, kami bekerja dengan NUS untuk bertukar informasi tentang blockchain dengan masyarakat," ujar Patrick.
 
"Ketika kami melakukan ekspansi ke Indonesia, langkah pertama kami juga akan mengedukasi komunitas."
 
Strategi Startup Singapura Tantang Dominasi Google
ki-ka: CTO Darren Goh, CEO Patrick Lee, dan COO Christofle Rio.
 
Selain itu, Boogle juga berencana untuk bekerja sama dengan pemerintah sebuah negara. Untuk mendapatkan kooperasi dari pemerintah, Boogle bersedia untuk memberikan data anonim pengguna mereka, seperti gender dan umur. Ini menarik karena Boogle menjanjikan privasi pada penggunanya.
 
"Saat ini, pemerintah sama sekali tidak mendapatkan data dari perusahaan internet raksasa. Kami akan memberikan analisa dari data minimum pengguna, membantu pemerintah untuk mengembangkan negara," kata Patrick.
 
Chris meyakinkan, Boogle tidak melacak posisi tepat pengguna. “Kami tidak mengumpulkan IP address pengguna,” katanya. Sebagai gantinya, mereka hanya mengetahui kawasan pengguna secara umum.
 
Data yang dikumpulkan oleh mesin pencari seperti Google memang jauh lebih ekstensif. Pada saat yang sama, data inilah yang memungkinkan Google untuk memberikan hasil pencarian yang relevan pada pengguna. Tanpa akses ke data pengguna, Boogle akan kesulitan untuk bersaing.
 
Chris menjelaskan, Boogle akan memberikan opsi pada pengguna untuk memberikan data yang lebih lengkap pada mereka. Keuntungan yang pengguna dapatkan, selain hasil pencarian yang lebih relevan, adalah ekstra Boo Tokens.
 
Mesin pencari Boogle baru diluncurkan secara resmi pada Juni lalu. Mereka mengakui bahwa mereka belum melakukan kegiatan marketing. Namun, mereka berencana untuk melakukan itu mulai bulan ini.
 
Walau pada akhirnya mereka akan menargetkan pasar global, pada awalnya, Boogle akan mengincar pasar Asia Tenggara, seperti Singapura, Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
 
Target pengguna Boogle adalah generasi milenial dengan umur mulai 15 tahun sampai 35 tahun. “Orang-orang yang menghabiskan kebanyakan waktunya di dunia online,” kata Chris.
 
Pemerintah dan Penyensoran
Tiongkok adalah negara yang dikenal dengan negara yang memiliki peraturan ketat soal penyensoran internet. Meskipun tidak seketat Tiongkok, negara-negara lain, termasuk Indonesia, juga melakukan penyensoran pada internet.
 
Misalnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat memblokir situs Tumblr karena dianggap memiliki konten tidak pantas, walau pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuka kembali akses pada situs tersebut.
 
Selain privasi, Boogle juga ingin memberikan akses internet bebas sensor pada pengguna. Pada saat yang sama, mereka ingin bekerja sama dengan pemerintah negara. Patrick menjelaskan, saat ini, ada beberapa kata kunci yang memang telah Boogle sensor karena kata kunci tersebut terkait dengan isu humanitarian, seperti pornografi anak dan terorisme.
 
Strategi Startup Singapura Tantang Dominasi Google
 
Jika pemerintah suatu negara ingin Boogle memblokir kata atau situs tertentu, mereka akan dapat mengajukan hal itu pada Boogle. Namun, pada akhirnya, Boogle akan menyerahkan keputusan pada komunitas, apakah kata atau situs itu memang layak untuk diblokir.
 
CTO Boogle, Darren Goh menjamin bahwa sistem mereka tidak akan bisa disalahgunakan oleh pengguna. Alasannya karena jika seseorang ingin untuk memblokir atau membuka akses pada kata kunci tertentu, maka mereka harus meyakinkan mayoritas -- lebih dari 50 persen pengguna -- akan itu.
 
Melawan raksasa seperti Google jelas adalah keinginan yang ambisius. Kesuksesan Boogle akan tergantung apakah mereka dapat meyakinkan cukup banyak orang akan pentingnya privasi data.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif