Country Manager Cashshield Indonesia Kevin Onggo.
Country Manager Cashshield Indonesia Kevin Onggo.

Kemudahan Ranah Digital Juga Dihantui Penipuan

Teknologi startup tech and life cyber security Cashshield
Lufthi Anggraeni • 06 November 2019 21:50
Jakarta: Penipuan telah menjadi momok bagi masyarakat dunia sejak lama, yang terjadi dalam berbagai cara, di waktu tidak terduga. Peralihan dari ranah offline ke digital yang kerap terjadi tidak mengurangi potensi penipuan dialami oleh masyarakat.
 
Maraknya peralihan berbagai industri ke ranah digital tidak meningkatkan manfaat yang mampu menghadirkan kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tapi juga potensi penipuan, terlebih yang melibatkan data.
 
Era digital ini, berbagai nama besar dan pemimpin negara di dunia menggadangkan data sebagai mata uang dan komoditas paling penting baru. Namun, era digital ini baru merambah wilayah Asia dalam beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat hal ini, CashShield memutuskan untuk turut merambah pasar Asia, setelah sebelumnya lebih dahulu dikenal di pasar Eropa. Perjalanan Cashshield diawali pada tahun 2008 lalu, yang tercipta atas dasar pengalaman pendirinya yang turut menjadi korban penipuan di ranah online.
 
Di awal kemunculannya di pasar Eropa, Cashshield menjadi penyedia sistem keamanan untuk perusahaan telekomunikasi, yang kala itu tengah gencar memasarkan layanan top-up prabayar kepada pelanggan mereka.
 
Baru tiga atau empat tahun lalu, sekitar tahun 2016, Cashshield menjejakkan kaki di pasar Asia, setelah internet di wilayah ini bertumbuh dengan pesat, mendorong potensi penipuan digital yang juga menjadi lebih besar.
 
Kemajuan teknologi internet turut mendorong berbagai industri menghadirkan layanan digital demi kemudahan hidup manusia, dan Cashshield menilai ranah finansial menjadi salah satu industri yang giat melakukan transformasi digital.
 
Kemudahan Ranah Digital Juga Dihantui Penipuan
 
Tidak hanya bank, ranah finansial ini juga dimeriahkan oleh layanan dompet digital, yang dinilai Country Cashshield sebagai salah satu industri paling rentan terhadap penipuan publik, meski dari kacamatanya, setiap industri tidak luput dari bahaya penipuan digital.
 
"Menurut kita semua industri rentan terhadap digital fraud. Tapi tergantung industri yang lagi booming. Sekarang ini kan booming-nya di e-wallet, super app. Jadi industri ini termasuk yang paling rentan soal digital fraud," ujar Country Manager Cashshield Indonesia Kevin Onggo.
 
Ranah dompet elektronik menjadi salah satu yang paling rentan mengalami penipuan digital, sebab memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi tanpa pengguna harus memiliki akun bank.
 
Selain itu, pengambilalihan akun dompet digital juga disebut Kevin sebagai salah satu fraud dengan dampak paling signifikan yang ditemukan Cashshield selama perjalanan hidupnya. Umumnya, akun berisi berbagai informasi pribadi, termasuk saldo dan kartu kredit yang dapat lenyap jika akun berhasil diambil alih.
 
Tren ini berbeda dari 10 tahun lalu, awal kemunculan Cashshield, dengan kartu kredit sebagai primadona incaran pelaku penipuan. Kala itu, satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi penipuan adalah dengan menghubungi pihak bank dan memblokirnya.
 
Era digital ini turut mendorong pelaku penipuan untuk lebih canggih dalam melaksanakan aksinya. Karenanya, Cashshield mengklaim menawarkan teknologi berbasis Machine Learning dan kecerdasan buatan untuk membantu pelanggannya, yaitu perusahaan yang bergerak berbagai bidang, dalam mendeteksi pola penipuan.
 
“Teknologi yang Cashshield tawarkan end-to-end fraud protection, dari awal sampai akhir. Dari proses registrasi, untuk deteksi fake account, bisa account take over, deteksi soal payment seperti ilegal transfer, untuk menipu sistem.”
 
Kevin menjelaskan bahwa kemampuan deteksi ini berbasis Machine Learning dan pengenalan pola. Cashshield juga mengklaim bahwa sistemnya bekerja secara menyeluruh dan langsung, menjadi pembeda sistemnya dengan sistem lain milik perusahaan sejenis.
 
Pada sistemnya, pola yang berhasil terdeteksi di wilayah berbeda akan dibagikan kepada sistem di wilayah lain, sehingga sistem tersebut akan segera dapat mengenali pola yang sama dan melakukan tindakan yang diperlukan.
 
Sistem yang ditawarkan Cashshield ini berupa Software as a Service (SaaS) dan dapat diaplikasikan pada berbagai industri. Untuk dapat memanfaatkan solusinya, pelanggan Cashshield hanya perlu melakukan panggilan permintaan API.
 
Kemudahan Ranah Digital Juga Dihantui Penipuan
 
Kemudian panggilan tersebut akan dikembalikan Cashshield dalam jangka waktu 200 milidetik untuk memberitahukan pelanggan menyoal keamanan akses di sistem mereka. Cashshield menyebut untuk memanfaatkan solusinya, pelanggan tidak perlu mempersiapkan hardware dengan kriteria khusus.
 
“Ga perlu ada kriteria hardware tertentu, tapi kebanyakan industri sekarang sudah cloud base. Yang penting mereka digital, mereka di internet, sudah bisa. Tapi kalo kalo offline, masih belum bisa kita layani.”
 
Sementara itu, disinggung soal tingkat kesadaran masyarakat dan perusahaan terhadap penipuan digital, Kevin menyebut hal ini berbeda, bergantung pada negaranya. Untuk wilayah Asia, sebagai contoh Singapura, perusahaan dan masyarakat tetap sadar dan berhati-hati, meski tingkat keamanan negara yang tinggi.
 
Sementara itu untuk wilayah Indonesia, kesadaran akan penipuan digital dinilai Kevin masih terbatas pada sebagian masyarakat. Meskipun demikian, sebagian masyarakat ini juga masih berpotensi lengah sehingga juga mengalami penipuan publik.
 
Masih banyaknya masyarakat dan perusahaan yang belum terlalu menyadari bahaya penipuan digital ini diakui Cashshield sebagai salah satu tantangannya menawarkan solusi karyanya kepada perusahaan di Indonesia.
 
Meskipun demikian, dari kacamatanya, pelanggan yang digandengnya telah cukup menyadari bahaya penipuan digital dan telah memiliki program untuk mengedukasi konsumen mereka. Kesadaran konsumen akan bahaya penipuan digital, lanjut Kevin, merupakan hal yang dapat dikendalikan pelanggan mereka.
 
"Dari sisi kami, awareness bisa dikendalikan oleh klien. Edukasi. Tapi kita bisa bantu kalau edukasi gagal. Karena kita punya satu lapisan detektor tambahan. Bisa blok akun yang ditake-over fraudster."
 
Untuk pasar Indonesia, Cashshield mengaku optimistis dapat merangkul lebih banyak pelanggan dengan pengalaman dan kemampuannya yang telah tertempa selama 11 tahun. Saat ini, pelanggan terbesar Cashshield untuk pasar Indonesia, disebut Kevin, adalah OVO, meski di luar Indonesia, Cashshield juga telah bekerja sama dengan perusahaan internet besar seperti Alibaba.
 
Resmi memasuki pasar Indonesia sejak bulan Oktober lalu, Cashshield telah didukung oleh sekitar 50 pegawai. Menyoal investasi, Cashshield menyebut berhasil meraih pendanaan seri B pada tahun 2018 lalu sekitar USD20 juta, dari sejumlah investor salah satunya adalah Temasek.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif