Hendra Lesmana

Transformasi Digital, Perlu Jadi Besar di Luar Jakarta

Ellavie Ichlasa Amalia, Cahyandaru Kuncorojati 09 April 2018 17:27 WIB
corporatetransformasi digitaldimension data
Transformasi Digital, Perlu Jadi Besar di Luar Jakarta
Country Manager Dimension Data Indonesia Hendra Lesmana.
Jakarta: Transformasi digital, istilah ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, sebab topik tersebut sudah mengemuka beberapa tahun belakangan di Indonesia. Seiring perkembangan teknologi di Tanah Air, perusahan juga ikut mengadopsi teknologi terbaru. 

Perusahaan dari beragam bidang bisnis di Indonesia secara masif yang selama ini menjalani bisnisnya secara tradisional mulai memeluk beragam aspek teknologi ke dalamnya. Langkah ini yang kemudian disebut sebagai transformasi digital.

Bagi Country Manager Dimension Data Indonesia Hendra Lesmana, bicara transformasi digital sama menariknya dengan perkembangan teknologi. Pria dengan pengalaman 13 tahun meniti karir di Dimension Data ini menyebutkan bahwa trasnformasi digital sama menariknya seperti perkembangan dunia IT.


"Alasan saya masih betah adalah karena perkembangan dunia IT selalu ada yang baru, selalu ada inovasi baru yang praktiknya membuat sesuatu bisa menjadi lebih mudah," ungkap Hendra. 

Hal yang menurutnya sama seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan ketika melakukan transformasi digital, yakni membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah, baik bagi perusahaannya atau segi operasional maupun bagi customer atau segi bisnis.

Menurut Hendra, perusahaan yang dipimpinnya juga termasuk perusahaan yang telah melakukan transformasi digital dan sukses menghasilkan model bisnis baru berbasis digital dan memanfaatkan kekuatannya untuk membantu perusahaan atau klien mereka untuk juga melakukan transformasi digital.

Dimension Data hadir dengan menawarkan infrastruktur serta software as a service yang bisa dengan mudah digunakan oleh kliennya untuk melakukan transformasi digital. Namun, bukan berarti itu dilakukan tanpa tantangan.

"Tantangannya selama 13 tahun di Dimension Data, menurut saya bukan cuma membawa perusahaan ini sebagai services company, melainkan tantangannya ada di internalnya. Pertama kita harus terlebih dulu mengajak individu atau orang-orang di dalam perusahaan untuk melakukan transformasi digital karena mereka ini adalah aset paling berharga," beber Hendra.



Pandangan ini yang juga selalu disampaikan oleh Dimension Data kepada setiap perusahaan yang berkonsultasi kepada mereka. Menariknya, Hendra mengakui bahwa kini hampir setiap perusahaan yang ingin melakukan trasnformasi digital atau sudah melakukannya sudah paham langkah ini atau dengan kata lain sudah mandiri.

"Transformasi digital di Indonesia sudah semakin ramai, dan menurut saya banyak perusahaan yang sudah aware terhadap keharusan untuk melakukan transformasi digital. Mereka sadar bahwa perusahaan tradisional mau tidak mau mulai tergeser dengan perusahaan yang sudah mengadopsi dan mengimplementasikan transformasi digital dalam bisnisnya," jelas Hendra.

"Hanya saja mereka mungkin masih bingung harus mulainya bagaimana. Oleh sebab itu, klien kami datang dan meminta konsultasi kepada kami. Dimension Data seperti yang memegang senter memandu mereka," imbuh Hendra sambil menahan tawa dengan analogi yang diberikan.

Sejauh pengalaman Dimension Data beberapa tahun belakangan ini hingga tahun ini, disebutkan Hendra bahwa banyak klien yang berkonsultasi dan sangat terbuka atas usulan transformasi digital yang diberikan. Sekali lagi, hal ini menandakan perusahaan di Indonesia semakin banyak yang sudah memiliki kesadaran untuk melakukan transformasi digital.

Bicara soal transformasi digital juga tidak semudah tinggal mengadopsi teknologi terbaru dalam operasional dan model bisnis digital. Isu keamanan digital juga menjadi tantangan baru yang perusahaan hadapi dengan bantuan Dimension Data.

"Klien sudah paham bahwa dunia digital juga memiliki ancaman keamanan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Misalnya, kalau toko kelontong tutup rolling door saja sudah cukup aman dari depan ya sekarang tidak cukup," beber Hendra.

Menanggapi implementasi transformasi digital di Indonesia, Hendra menyayangkan bahwa hal ini masih berkutat di Jakarta saja. Padahal koneksi internet yang menjadi nyawa dari dunia atau layanan digital sudah mulai terhubung ke berbagai daerah di Indonesia.

"Dukungan pemerintah Indonesia terhadap transformasi digital berdasarkan yang saya lihat masih berpusat di bidang finansial. Jadi seharusnya transformasi digital juga mulai digaungkan kepada pemerintah daerah jadi trasnformasi digital juga bisa merata," ungkap Hendra.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.