Seri HS35 dari Corsair selama bertahun-tahun telah menjadi pintu masuk termurah bagi para gamer yang menginginkan produk dari merek ternama tanpa menguras dompet. Melalui Corsair HS35 V3, pabrikan asal Amerika Serikat ini mencoba melanjutkan tradisi itu.
Varian kabelnya dibanderol mulai dari Rp750 ribu. Pembaruan menyeluruh pada distribusi bobot, material bantalan, serta fleksibilitas koneksi menjadikannya salah satu kontender paling menarik di kelas harganya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai performa, desain, serta fitur Corsair HS35 V3.

Desain Minimalis dan Nyaman
Kesan pertama saat memegang Corsair HS35 V3 adalah bobotnya yang luar biasa ringan. Varian berkabel hanya berbobot 230 gram, menyusut 20 gram dari generasi pendahulunya. Sebagai perbandingan, mayoritas headset gaming nirkabel di pasaran biasanya berada di atas 280 hingga 300 gram.Corsair menerapkan sistem bando suspensi elastis mengambang. Mekanisme ini menggantikan busa lengkung konvensional yang sebelumnya kerap menciptakan tekanan terpusat di puncak kepala. Beban headset terdistribusi merata di area permukaan kepala, meminimalkan kelelahan meski digunakan berjam-jam.
Peningkatan signifikan lainnya terlihat pada bantalan telinga. Corsair menanggalkan bahan kulit sintetis dan beralih ke kain berserat mikro berventilasi. Material kain ini memberikan sirkulasi udara yang jauh lebih baik, mencegah telinga berkeringat atau panas saat bermain di ruangan tanpa pendingin udara.

Secara visual, HS35 V3 tampil minimalis dalam pilihan warna Carbon (hitam) dan White (putih). Headset ini bersih dari pencahayaan RGB, hanya menyisakan aksen garis kuning tipis di dekat engsel mangkuk telinga sebagai ciri khas Corsair.
Desainnya memang didominasi material plastik polimer, tapi sasisnya terasa solid tanpa ada bunyi derit mekanis saat diregangkan. Satu catatan profil bando terasa sedikit snug fit, sehingga pengguna dengan lingkar kepala besar mungkin akan mendapati setelan tali elastis mentok di batas maksimum.

Fitur Kontrol dan Performa
Pada HS35 V3 Wired, mangkuk telinga sebelah kiri memuat roda putar analog untuk volume serta saklar mute mikrofon fisik dengan mekanisme pop-in/pop-out yang sangat intuitif.Menariknya, seluruh lini HS35 V3 menerapkan filosofi driver-less dan tidak terintegrasi ke dalam perangkat lunak Corsair iCUE.
Pendekatan ini menawarkan kepraktisan plug-and-play tanpa perlu mengunduh aplikasi latar belakang yang berat. Konsekuensinya, tidak memiliki akses ke pengaturan equalizer kustom bawaan pabrikan maupun pengaturan sidetone mikrofon.
Corsair HS35 V3 Wired dipersenjatai transducer kustom 50 mm Neodymium dengan rentang frekuensi standar 20 Hz hingga 20.000 Hz. Karakter suara headset ini secara lugas dipakai untuk kebutuhan kompetitif, bukan untuk kenikmatan audiofil.

Rentang frekuensi menengah dibuat sedikit maju dan menonjol, memastikan komunikasi suara rekan satu tim dan instruksi permainan terdengar sangat jernih. Sektor frekuensi tinggi juga ditala tajam untuk mengisolasi detail krusial, seperti derap langkah kaki musuh, suara letusan tembakan kejauhan, serta gesekan mekanis senjata.
Namun, penalaan kompetitif ini mengorbankan sektor frekuensi rendah. Sektor sub-bass mengalami penurunan di frekuensi terbawah. Dentuman ledakan besar atau instrumen bas pada genre musik hip-hop/elektronik terasa kurang bertenaga dan kehilangan sensasi getaran.
Sektor penangkap suara menjadi kejutan paling menyenangkan dari Corsair HS35 V3 Wired.
Headset gaming ini mengadopsi kapsul mikrofon omni-directional. Pada varian berkabel mikrofon terpasang permanen. Kualitas penangkapan suara vokal terdengar sangat tebal, bersih, dan natural untuk kelas headset anggaran. Vokal pengguna terbebas dari kesan sengau, tipis, atau cempreng yang umum menjangkiti headset murah. Dalam pengujian panggilan suara Discord dan konferensi daring, suara terdengar artikulatif tanpa distorsi pecah saat pengguna berbicara lantang.

Kelemahan mikrofon ini bersumber dari pola tangkapan omni-directional yang menyerap gelombang suara dari segala arah 360 derajat. Ketiadaan fitur peredam bising aktif bawaan serta absennya busa pelindung (pop filter) membuat ketukan keyboard mekanikal dan hembusan napas tajam dapat terdengar oleh lawan bicara jika tidak mengaktifkan fitur noise suppression di tingkat aplikasi.
| Testbed | Medcom.id |
| Prosesor | Intel Core Ultra 7 270K Plus AMD Ryzen 5 8600G |
| Motherboard | Asus ROG Strix Z890-F Gaming WiFi Gigabyte B650E Aorus Master |
| Cooler | Gigabyte Aorus Waterforce II 360 ICE |
| VGA | Colorful GeForce RTX 5070 Ti Battle NX 16GB |
| Monitor | Asus ROG Swift OLED PG27AQDM |
| RAM | Apacer Panther DDR5 RGB 32GB (2 x 16GB) |
| Storage | WD Black SN850X, Apacer AS2280Q4 |
| PSU | MSI MAG A850GL PCIE5 |
| Mouse | Logitech MX Master 4 |
| Keyboard | Signature Slim Solar+ K980 |
Kesimpulan
Corsair HS35 V3 membuktikan bahwa headset gaming terjangkau tidak harus terasa menyiksa saat dipakai berlama-lama. Melalui perombakan bando suspensi elastis, bantalan kain yang adem, dan pemangkasan bobot secara agresif, headset ini menawarkan kenyamanan pemakaian yang menyaingi produk berharga dua kali lipat lebih mahal.
Jika kamu mencari headset analog berbiaya murah meriah di bawah Rp800.000 untuk kebutuhan konsol, sekolah daring, atau bermain kasual, HS35 V3 Wired adalah opsi yang sangat fungsional.
9
Corsair HS35 V3
Plus
- Harga menarik
- Audio lumayan balance untuk harian
- Performa esport secara default bagus
- Penyangga kepala dan telinga nyaman
Minus
- Antarmuka jack mikrofon dan speaker tidak bisa dipisah