Harrison Schmitt merupakan astronaut yang memiliki alergi terhadap debu di Bulan.
Harrison Schmitt merupakan astronaut yang memiliki alergi terhadap debu di Bulan.

Ternyata Ada Astronaut Alergi Bulan

Teknologi antariksa teknologi
Lufthi Anggraeni • 27 November 2020 08:30
Jakarta: Harrison Schmitt, astronaut terakhir yang menjejakkan kaki di Bulan, memiliki alergi Bulan. Schmitt menyebut bahwa dirinya alergi terhadap debu di Bulan, yang diketahuinya saat pertama kali mencium debu bulan.
 
Schmitt menyebut bahwa bagian dalam hidungnya bengkak dan menyebabkan terjadi perubahan pada suaranya, meski menghilang secara bertahap. Schmitt juga mengaku bahwa dirinya tidak menyadari alergi ini hingga kali keempat.
 
Mengutip The Telegraph, Schmitt menjadi satu-satunya ilmuwan yang pernah diantar NASA untuk menjejakkan kakinya di Bulan. NASA mengantarkan Schmitt ke bulan dengan menumpang pada pesawat ruang angkasa pada misi Apollo terakhir, pada bulan Desember 1972.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kala itu, Schmitt mendarat di lembah di Bulan, bernama Taurus-Littrow, dan bertugas untuk mengumpulkan sampel batuan dari permukaan Bulan. Berdasarkan alergi yang dialaminya, ahli geologi ini mengingatkan astronaut untuk lebih berhati-hati pada debu Bulan.
 
Schmitt juga mengimbau lembaga antariksa untuk tidak membiarkan astronaut terpapar debu Bulan, dan mempersiapkan solusi teknis guna mencegah peluang astronaut terpapar secara kronis. Sementara itu, NewsWeek melaporkan bahwa ini bukan kali pertama Schmit berbagi cerita menyoal alerginya terhadap debu Bulan.
 
Dalam wawancara dengan Wired pada tahun 2005 lalu, Schmitt menjelaskan bahwa debu merupakan masalah lingkungan utama di Bulan, dan menilai manusia perlu memahami dampak biologis dari debu tersebut. Schmitt juga menyebut bahwa debu di Bulan merupakan debu unik, berbeda dari debu di Bumi.
 
Dan baru-baru ini, ilmuwan mempelajari risiko kesehatan potensial yang diakibatkan oleh debu Bulan. Berdasarkan penelitian tersebut, ilmuwan menemukan bahwa paparan debu Bulan dalam jangka waktu panjang berpeluang menyebabkan masalah bagi astronaut dalam misi jangka panjang.
 
Temuan yang dirilis pada jurnal GeoHealth tahun 2018 menyebut bahwa peneliti menemukan debu Bulan menjadi penyebab kematian sel dan kerusakan DNA pada sel paru-paru. Karenanya, efek paparan debu bulan dinilai ilmuwan menjadi penting, sehingga definisi lebih lanjut tentang dampak seluler dan biologis material dari berbagai bagian permukaan bulan sangat diperlukan.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif