NASA menemukan badai petir di atmosfer Jupiter, terkait dengan kandungan amonia di atmosfer.
NASA menemukan badai petir di atmosfer Jupiter, terkait dengan kandungan amonia di atmosfer.

Temuan Baru Juno NASA dari Petir dan Jamur di Jupiter

Teknologi antariksa teknologi
Lufthi Anggraeni • 12 Agustus 2020 12:47
Jakarta: Hasil baru dari misi NASA Juno di Jupiter mengindikasikan planet terbesar di tata surya menjadi rumah dari fenomena yang disebut sebagai petir dangkal. Bentuk asing dari pelepasan listrik ini berasal dari awan yang mengandung solusi air amonia.
 
Hal ini berbeda dari asal petir di Bumi, dari awan yang mengandung air. Temuan lain mengindikasikan badai petir dahsyat akibat gas bervolume besar ini diperkirakan menyebabkan hujan es kaya amonia, yang disebut tim sains Juno sebagai jamur.
 
Tim sains Juno berpendapat bahwa jamur ini dasarnya memerangkap amonia dan air di atmosfer bagian atas dan membawanya ke kedalaman atmosfer Jupiter. Temuan petir dangkal ini telah dirilis di jurnal Nature pada tanggal 6 Agustus lalu, sedangkan penelitian jamus juga telah tersedia secara online di Journal of Geophysical Research: Planets.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karena misi Voyager pertama NASA menemukan petir Jovian pada tahun 1979, NASA berpendapat bahwa petir di Jupiter ini serupa dengan petir di Bumi, terjadi hanya saat hujan badai dengan ketersediaan air di seluruh fasenya, berupa es, cairan, dan gas.
 
Di Jupiter, hal ini akan menempatkan badai dengan ketinggian 28 hingga 40 mil atau 45 hingga 65 km di bawah awan yang terlihat, dengan suhu berkisar antara 0 derajat Celcius, suhu beku air.
 
Voyager, dan seluruh misi lain ke gas raksasa, hingga Juno, menemukan petir sebagai lokasi terang di bagian atas awan Jupiter, mengindikasikan kilatan tersebut berasal dari awan dengan kandungan air tinggi. Namun pancaran petir yang diteliti di sisi gelap Jupiter oleh Juno Stellar Reference Unit mengisahkan cerita berbeda.
 
Penerbangan dekat Juno di bagian atas awan disebut pemimpin Radiation Monitoring Investigation Juno di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan dan kepala penulis laporan Nature Heidi Becker memungkinkan tim menemukan pancaran petir lebih dangkal dan lebih kecil, berasal dari altitude lebih tinggi di atmosfer Jupiter jika dibandingkan dengan peluang yang diprediksi sebelumnya.
 
Becker dan timnya mengindikasikan badai besar Jupiter ini melemparkan kristal es air hingga ke atmosfer planet ini, lebih dari 16 mil atau 25 km di atas awan air Jupiter. Awan ini bertemu dengan atmosfer uap air amonia yang melelehkan es, membentuk solusi air amonia.
 
Pada ketinggian tersebut, suhu mencapai di bawah minus 126 derajat Fahrenheit atau minus 88 derajat Celcius. Suhu ini terlalu dingin bagi air dalam bentuk cairan untuk mampu bertahan. Becker menjelaskan bahwa pada altitude tersebut, amonia bertindak sebagai anti beku.
 
Amonia berkemampuan merendahkan titik leleh es air dan memungkinkan formasi awan dengan cairan air amonia. Dalam kondisi baru ini, tetesan cairan air amonia yang jatuh dapat bertabrakan dengan kristal es air yang naik dan memicu listrik di awan, yang dinilai Becker mengejutkan, sebab awan air amonia tidak dapat ditemukan di Bumi.
 
Sementara itu, produksi dari dua pertiga air dan sepertiga gas amonia juga dilaporkan menjadi awal untuk hujan batu es Jovian, dikenal sebagai jamur. Jamur ini terdiri dari lapisan lumpur salju air amonia dan es yang tertutup kerak es air lebih tebal.
 
Jamur ini dilaporkan tercipta dengan metode serupa di Bumi, dengan bertumbuh menjadi lebih besar seiring dengan pergerakan ke atas dan bawah melalui atmosfer.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif