Ilmuwan mengamati bintang raksasa merah sebelum, saat dan setelah mengalami ledakan supernova.
Ilmuwan mengamati bintang raksasa merah sebelum, saat dan setelah mengalami ledakan supernova.

Ilmuwan Observasi Bintang Merah Raksasa yang Alami Supernova

Teknologi antariksa
Lufthi Anggraeni • 12 Januari 2022 14:13
Jakarta: Astronomer telah merekam bintang raksasa merah sebelum, selama dan setelah ledakan supernova untuk pertama kalinya, guna menghimpun informasi baru penting terkait kejadian dramatis tersebut.
 
Mengutip Engadget, kepala penulis Wynn Jacobson-Galan dari Universitas UC Berkeley menyebut bahwa pemotretan tersebut merupakan terobosan dalam pemahaman manusia terkait hal yang terjadi pada bintang raksasa sebelum mati.
 
Deteksi langsung dari aktivitas pra-supernova pada bintang raksasa merah, lanjut Jacobson-Galan, belum pernah diamati sebelumnya, dalam hal supernova Type II umum. Jacobson-Galan mengungkap bahwa ini adalah kali pertama timnya menyaksikan bintang merah raksasa meledak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menggunakan teleskop Pan-STARRS berlokasi di Maui, Hawaii, ilmuwan mendeteksi bintang raksasa merah nyaris mati ini pada musim panas tahun 2020 lalu, berkat sejumlah besar cahaya yang dipancarkannya.
 
Kemudian, pada musim gugur saat bintang ini mengalami ledakan supernova, tim peneliti merekam kilatan cahaya kuat menggunakan Low Resolution Imaging Spectrometer (LRIS) Keck Observatory berbasis di Hawaii.
 
Tim peneliti ini juga merekam spektrum paling awal dari ledakan supernova itu, disebut dengan nama SN 2020tlf. Observasi ini menunjukan bahwa bintang itu berpeluang mengeluarkan sejumlah besar material circumstellar padat tepat sebelum ledakan.
 
Observasi sebelumnya menunjukan bahwa raksasa merah ini relatif tenang sebelum terjadi ledakan supernova, sehingga data baru mengindikasikan bahwa sejumlah bintang mungkin mengubah struktur internal mereka secara signifikan sebelum meledak.
 
Hal ini dapat menghasilkan ledakan gas yang bergejolak sesaat sebelum hancur. SN 2020tlf berlokasi di galaksi NGC 5731 sekitar 120 juta tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 10 kali lebih besar dari Matahari.
 
Bintang mengalami ledakan supernova saat kehabisan bahan bakar dan hancur akibat gravitasi yang dihasilkannya, memicu ledakan fusi karbon besar-besaran. Untuk mengalami ledakan supernova, bintan harus memiliki sejumlah kriteria.
 
Kriteria tersebut termasuk bintang harus berukuran cukup besar, sekitar delapan hingga 15 kali massa Matahari, atau mereka akan hancur menjadi bintang kerdil putih seperti yang akan terjadi pada Matahari.
 
Bintang yang berukuran lebih besar dari itu berpeluang untuk hancur dan menjadi lubang hitam. Temuan ini kini akan memungkinkan ilmuwan untuk melakukan survey pada bintang raksasa merah untuk mencari radiasi cahaya bertipe serupa, yang dapat mengindikasikan ledakan supernova lainnya.
 
(MMI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif