Dalam acara media gathering bertema Human Innovation in Action, Achmad S. Sofwan, Managing Director Fujitsu Indonesia mengatakan bahwa baik perusahaan swasta maupun pemerintah Indonesia sebaiknya mulai mengadopsi teknologi dengan lebih cepat jika tidak ingin tertinggal.
Achmad menjelaskan bahwa saat ini, dalam hal teknologi yang digunakan, Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Singapura. Dia menjadikan pembayaran pajak online sebagai contoh.
"Di Singapura, Anda dapat membayar pajak tanpa harus beranjak dari depan laptop Anda. Dan teknologi pembayaran pajak secara online sudah digunakan di Singapura sejak tahun 2000-an," katanya. "Berarti kita ketinggalan kurang lebih 10 tahun."
Tidak hanya dengan Singapura, yang memang sudah menjadi sebuah negara maju, teknologi yang digunakan di Indonesia tampaknya juga masih kalah canggih jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Malaysia, Filipina dan Thailand.
"Jika kita melihat data IT spending yang dikeluarkan oleh IDC, kita melihat bahwa IT spending Indonesia untuk bidang layanan dan software masih sangat rendah, yaitu sekitar 12 persen, sedangkan di negara lain, seperti Filipina misalnya, IT spending mereka dalam bidang software dan layanan sudah lebih dari 20 persen," kata Achmad.
"Bahkan IT spending Singapura hampir mencapai 50 persen," katanya.
Dia menjelaskan, persentase IT spending di bidang software dan layanan menunjukkan seberapa banyak solusi yang telah diimplementasikan di suatu negara. Angka yang rendah menunjukkan sedikitnya teknologi layanan dan software yang telah digunakan di negara tersebut.
"Kalau di Indonesia, sebagian besar pembelanjaan untuk bidang IT masih berupa hardware," kata Achmad.
Meskipun begitu, Achmad mengatakan bahwa sekarang ini, setidaknya pemerintah telah menunjukkan minat yang besar untuk mengadopsi berbagai teknologi yang ada. Sayangnya, tidak semua perusahaan swasta menunjukkan ketertarikan yang sama.
"Minat suatu perusahaan untuk mengadopsi teknologi biasanya berbeda-beda. Biasanya, semakin kompetitif suatu industri d imana perusahaan tersebut ada, maka minat mereka untuk mengadopsi teknologi juga semakin tinggi," kata Achmad. Dia menjadikan industri perbankan sebagai contoh.
"Tanpa IT, mereka tidak akan dapat melayani pelanggan dengan baik," katanya.
Achmad memberikan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur sebagai contoh industri yang terlihat tidak terlalu tertarik untuk mengimplementasikan IT ke dalam perusahaan mereka.
"Karena mereka biasanya ingin fokus pada internal mereka dan bukannya pada pelayanan pada pelanggan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News