Febriadi Pratama, co-founder Gringgo Indonesia Foundation dalam ajang Solve with AI
Febriadi Pratama, co-founder Gringgo Indonesia Foundation dalam ajang Solve with AI

Startup Bali Ini Pakai AI Atasi Masalah Sampah

Teknologi teknologi google Solve with AI
Mohammad Mamduh • 12 Juli 2019 22:37
Tokyo: Startup Indonesia yang bermarkas di Bali mencoba mengatasi masalah sampah dengan memanfaatkan kecerdasan buatan.
 
Ialah Gringgo Indonesia Foundation, startup penerima program Google Impact Challenge, dan dipimpin Febriadi Pratama sebagai co-Founder. Dalam ajang Google Solve with AI di Tokyo, Jepang, ia menjelaskan Indonesia saat ini berada di peringkat dua soal jumlah sampah plastik sedunia.
 
Masalah polusi sampah plastik ini juga dibarengi dengan sistem pengelolaan yang belum optimal. Sudah ada tempat pengolahan limbah plastik, tetapi jumlahnya masih sedikit dan tidak merata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gringgo melihat bahwa dengan kecerdasan buatan, mereka bisa meningkatkan produktivitas para pelaku industri pengolahan sampah.
 
“Kami di sini bukan untuk mengubah sistem, tetapi ingin meningkatkan sistem yang sudah ada dengan teknologi,” ungkap Febri.
 
Caranya adalah dengan menggunakan aplikasi untuk mengambil foto jenis sampah, kemudian menghimpun berbagai data yang muncul dalam foto tadi. Dari aplikasi ini, akan teridentifikasi jenis sampah dan mana yang bisa diolah lebih lanjut.
 
Diolah bukan berarti cuma-cuma, Febri menyebut aplikasi ini untuk para pemulung sampah. Setelah sampah difoto, akan muncul jenis sampah dan harga per sampah yang nantinya langsung jadi pemasukan tambahan.
 
“Kita bantu arahkan mereka ke tempat pengolahan sampah plastik.” Di sini lah peran AI ingin Febri jelaskan.
 
Kecerdasan buatan membantu menentukan jenis sampah yang telah difoto lewat ponsel pemulung. Pengumpulan data dalam jumlah banyak ini tidak sepenuhnya ditampung Gringgo.
 
Mereka bekerja sama dengan Datanest, startup penyedia layanan data-as-a-service untuk penerapan big data. Dari data sepeti foto sampah dan pemulung, tercipta peta pengelolaan.
 
Pada akhirnya, pemulung yang tadinya harus menempuh jarak sangat jauh, bisa lebih efisien berkat pemetaan yang lebih akurat. Selain tidak menghabiskan waktu, pendapatan mereka juga bertambah secara signifikan.
 
“Paling besar, satu pemulung bisa mendapatkan Rp9 juta per bulan.” Saat ini, proyek masih dalam tahap pengembangan dan pengumpulan data.
 
Febri menyebut di Bali, Gringgo telah bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar dan menggandeng 6 desa di Bali. Tidak tertutup kemungkinan untuk memperluas jangkauan mereka ke pulau lain.
 
“Kita mulai dari Bali, sudah sejak 2015. Kita juga mempertimbangkan untuk ke negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina.”
 
Ia juga mengaku, pada awalnya, inisiatif yang mereka jalankan ini tidak langsung diterima masyarakat. “Kita dianggap akan menghilangkan pekerjaan mereka. Memang perlu waktu untuk menumbuhkan kepercayaan, dan menjelaskan bahwa kita ada untuk membantu meningkatkan kesejahteraan.”
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif