SIingapura: Ketimbang menerapkan model kecerdasan buatan berukuran raksasa dengan ratusan miliar parameter, industri dan pemerintah di Asia Tenggara semakin rasional dengan memprioritaskan efisiensi komputasi, keterjangkauan biaya, serta kesesuaian konteks lokal melalui penggunaan model bahasa berukuran efisien (Small Language Model).
Pentingnya orientasi pada hasil nyata ini ditegaskan oleh Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, dalam ajang IBM Think Singapore 2026. Ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi tidak boleh berhenti pada eksperimen di tingkat individu. Ia harus mendatangkan nilai bisnis konkret bagi organisasi.
"Pada suatu titik, ini harus diterjemahkan ke nilai komersial. Ini harus diterjemahkan ke dolar dan sen, yang menghasilkan manfaat yang benar-benar tangguh," ujar Josephine dalam sesi dialog.
Kesadaran tersebut didasari oleh realitas bahwa infrastruktur AI membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Mengoperasikan model raksasa secara terus-menerus sering kali membebankan biaya operasional yang besar, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (SME). Teo secara terbuka menyoroti risiko finansial yang mengintai jika adopsi AI tidak dirancang secara matang.
"AI bukan teknologi murah untuk digunakan. Anda sangat mudah membakar token jika Anda tidak membangunnya dengan benar," tegas Teo saat menjelaskan urgensi efisiensi komputasi bagi pelaku industri.
Sebagai solusi konkret atas tantangan biaya dan kebutuhan kontekstual regional, Singapura bersama negara-negara tetangga menginisiasi pembagian model terbuka (open model) yang dirancang khusus untuk kawasan Asia Tenggara. Dibandingkan dengan model raksasa global yang menelan kapasitas pusat data amat besar, model terbuka ini memiliki skala parameter yang jauh lebih terukur namun sangat fungsional.
"Di ASEAN, kita berbagi model terbuka kita. Ini adalah bahasa Asia Tenggara dalam satu model, model bahasa yang besar—belum terlalu besar, kurang lebih 17 juta parameternya—yang kecil dibandingkan dengan model terbesar, tetapi memiliki kegunaan dalam konteks kita, karena menangkap bahasa dan buah-buahan budaya Asia Tenggara," papar Teo.
Inisiatif ini membuktikan bahwa tolok ukur keberhasilan teknologi AI bagi pasar berkembang seperti Asia Tenggara terletak pada sejauh mana model tersebut dapat diakses secara inklusif, berkelanjutan, serta relevan dengan dinamika sosial-ekonomi setempat.
"Kami ingin Singapura menjadi rumah AI inovasi dan kami menyambut Anda untuk menjadi bagian dari Hub AI vibrasi kami," pungkas Teo mengakhiri pemaparannya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan