Serangan tersebut berhasil dideteksi sebelum merusak persediaan darah maupun mengganggu layanan kesehatan.
Dikutip dari laporan situs Euronews, insiden ini terjadi pada malam antara Minggu dan Senin, ketika sistem pemantauan dan pengendalian ruang pendingin di sejumlah fasilitas French Blood Establishment (EFS), lembaga pengelola darah Prancis, mengalami gangguan keamanan.
Berbeda dari serangan siber yang bertujuan mencuri informasi, insiden tersebut menyasar infrastruktur fisik yang dikendalikan secara digital. Peretas berupaya mengubah pengaturan suhu dan pencairan es pada fasilitas penyimpanan hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Manipulasi tersebut berpotensi membahayakan produk darah yang membutuhkan kondisi penyimpanan tertentu. Namun, petugas berhasil mengambil tindakan sebelum perubahan suhu menimbulkan kerusakan.
“Tidak ada dampak kesehatan yang teridentifikasi dan tidak ada produk darah yang hilang,” demikian pernyataan EFS.
Sistem Peringatan Cegah Kerusakan Stok Darah
Serangan diketahui memengaruhi sistem yang terkait dengan pemasok peralatan pendingin di tiga lokasi EFS. Produk yang disimpan mencakup kantong plasma untuk transfusi serta plasma yang digunakan dalam pembuatan obat-obatan.Sistem pemantauan dan alarm mendeteksi perubahan pengaturan yang tidak wajar. Peringatan tersebut memungkinkan petugas segera mengamankan atau memindahkan persediaan ke fasilitas pendingin lain.
Juru bicara EFS, Charley Dubois, menjelaskan bahwa keberadaan petugas selama 24 jam menjadi faktor penting dalam penanganan insiden.
“Kami memiliki petugas yang berjaga sepanjang waktu karena darah bisa dibutuhkan kapan saja. Mereka menerima peringatan mengenai masalah tersebut dan memindahkan darah ke lemari pendingin lain yang tidak terhubung,” ujar Dubois.
Penanganan cepat membuat kegiatan pengumpulan dan distribusi darah tetap berlangsung. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya juga tidak mengalami gangguan pasokan akibat insiden tersebut.
Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan situasi telah terkendali pada Rabu, 4 November 2026. Akses jarak jauh ke perangkat pendingin terdampak juga telah dinonaktifkan untuk mencegah potensi gangguan lanjutan.
Serangan Serupa Hantam Supermarket Eropa
Kasus di bank darah Prancis bukan satu-satunya serangan yang mengincar perangkat pendingin. Dalam periode berdekatan, peretas juga memanipulasi lemari pendingin dan pembeku milik supermarket di delapan negara Eropa, termasuk Swedia dan Belgia.Serangan terhadap jaringan supermarket menyebabkan sejumlah besar makanan rusak dan harus dibuang, dengan kerugian yang dilaporkan mencapai jutaan euro.
Prancis bahkan pernah mengalami insiden serupa beberapa pekan sebelumnya. Saat itu, peretas mengambil alih sistem pendingin di ratusan supermarket hingga menyebabkan kebakaran dan kerusakan persediaan makanan.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan risiko keamanan pada infrastruktur yang mengandalkan sistem kendali jarak jauh. Kerentanan tidak selalu muncul pada komputer atau server utama, tetapi juga dapat ditemukan pada perangkat pendukung yang terhubung ke jaringan.
Badan keamanan siber nasional Prancis bersama Kementerian Kesehatan kini menyelidiki metode serangan, perangkat yang terdampak, serta kapan sistem dapat dioperasikan kembali dengan aman.
Belum ada informasi mengenai identitas pelaku maupun bukti bahwa seluruh serangan tersebut dilakukan kelompok yang sama.