Jakarta: Minat dan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap adopsi teknologi AI tercatat sangat tinggi di kancah global. Namun, riset terbaru mengungkap adanya kesenjangan kapabilitas yang cukup lebar antara potensi kemampuan alat AI dengan cara pengguna di Tanah Air memanfaatkannya sehari-hari.
Temuan tersebut dipaparkan dalam laporan bertajuk Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis oleh Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) bekerja sama dengan OpenAI. Studi ini menganalisis data primer penggunaan ChatGPT di Indonesia, riset sekunder, serta diskusi terarah bersama para pelaku industri teknologi nasional.
Executive Director SEAPPI Ed Radcliffe menjelaskan bahwa tingkat penerimaan publik terhadap AI di Indonesia merupakan salah satu yang paling positif di dunia. Sebanyak lebih dari 80 persen masyarakat memandang AI membawa lebih banyak dampak positif dibandingkan risiko negatif. Di ranah profesional, lebih dari 90 persen pekerja di Indonesia tercatat telah memanfaatkan AI generatif untuk menunjang pekerjaan mereka.
Dari sisi intensitas platform, data ChatGPT menunjukkan posisi Indonesia masuk dalam 15 besar global untuk volume thinking tokens yang digunakan pengguna median, indikator yang merefleksikan kedalaman komputasi penalaran dalam pemanfaatan AI. Indonesia bahkan menembus peringkat lima besar dunia untuk penggunaan analisis data serta coding.
Kendati demikian, Ed menyoroti adanya paradoks ketimpangan yang cukup tajam di balik angka-angka tersebut. Riset SEAPPI mendapati bahwa 5 persen pengguna paling intensif di Indonesia memanfaatkan daya nalar internal hingga 11 kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengguna pada umumnya.
"Kesenjangan kapabilitas ini memiliki dua dimensi penting: pertama, apakah orang bisa mengakses alat AI; kedua, apakah pengguna memanfaatkannya untuk tugas-tugas bernilai tinggi yang kompleks," ujar Ed dalam paparannya. Menurutnya, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini masih menggunakan AI sebatas tugas operasional sederhana atau fungsi umum, dan belum mengoptimalkan kecanggihan model mutakhir secara menyeluruh.
Situasi ini juga membayangi sektor dunia usaha. Sebanyak lebih dari seperempat pelaku bisnis di Indonesia memang telah mengadopsi AI dan merasakan dampak positif. Sebanyak 59 persen perusahaan melaporkan lonjakan pendapatan rata-rata 16 persen, sementara 64 persen mencatatkan penghematan biaya operasional rata-rata 29 persen. Namun, hanya 11 persen perusahaan yang sudah menggunakannya di tingkat menengah, dan baru 10 persen yang memanfaatkannya untuk transformasi model bisnis secara mendalam.
Padahal, riset Kearney memproyeksikan teknologi AI berpotensi menyumbang nilai tambah ekonomi hingga USD366 miliar bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030 mendatang. Namun, nilai ekonomi raksasa tersebut bertumpu pada kemampuan menggeser kurva pemanfaatan AI ke arah sistem kerja lanjutan yang lebih kompleks.
SEAPPI mengidentifikasi empat kendala utama yang menghambat pemanfaatan AI tingkat lanjut di sektor swasta, yakni keterbatasan fondasi digital (ketiadaan infrastruktur komputasi awan dan manajemen data terstruktur), kelangkaan talenta dan spesialis, minimnya kapasitas inovasi untuk memperbesar skala proyek uji coba, serta belum adanya kepastian regulasi.
"Menggunakan agen akuntansi berbasis AI ketika sistem pembukuan perusahaan masih dilakukan di atas kertas adalah contoh mendasar mengapa fondasi digital harus dibangun terlebih dahulu," imbuh Ed.
Guna menutup jurang kemampuan ini, SEAPPI merekomendasikan pemerintah untuk memperkuat fondasi digital UMKM lewat perluasan program digitalisasi, penyediaan subsidi akses API dan komputasi awan, program sertifikasi tenaga kerja bersama kementerian terkait, hingga insentif pemotongan pajak (tax deduction) bagi perusahaan yang mempekerjakan talenta AI.
Selain itu, kepastian regulasi lintas kementerian dan kejelasan kerangka etik nasional dinilai krusial untuk membangun kepercayaan investasi industri.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan