Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

Ancaman Keamanan Berbasis AI Naik, Gimana Perusahaan Bisa Tetap Unggul?

Mohamad Mamduh • 10 Agustus 2026 11:22
Ringkasnya gini..
  • Sekitar 21% organisasi menilai penjahat siber saat ini lebih unggul dalam perlombaan senjata teknologi tersebut.
  • Kemampuan AI yang beroperasi secara terpisah atau memerlukan konfigurasi manual yang signifikan hanya akan menambah biaya tanpa mengurangi risiko.
  • Melalui langkah terukur ini, perusahaan dapat mengubah aspirasi digital menjadi sistem pertahanan yang solid.
Jakarta: Berdasarkan data studi global Kaspersky tahun 2026, penjahat siber kini mempersenjatai teknologi AI untuk mengotomatiskan serangan phishing dan malware. Tercatat, sebanyak 43% organisasi percaya bahwa peretas telah menggunakan metode berbasis AI demi meningkatkan efektivitas serangan mereka.
 
Ini menjadi tantangan baru karena setiap kemampuan AI yang digunakan oleh penyedia keamanan siber juga dapat diadaptasi oleh penyerang. Sekitar 21% organisasi menilai penjahat siber saat ini lebih unggul dalam perlombaan senjata teknologi tersebut. Pelaku ancaman secara sistematis mengintegrasikan AI generatif di seluruh rantai serangan, mulai dari pembuatan umpan phishing yang meyakinkan hingga manipulasi pasar dengan kecepatan tinggi.
 
Sebagai contoh, investigasi Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) terhadap kampanye RevengeHotels di Amerika Latin menunjukkan bagaimana kode yang dihasilkan AI membuat konten phishing menjadi lebih sulit dideteksi. Di Asia Tenggara, sektor keuangan dan hiburan juga menjadi target utama.

Pada tahun 2025, Indonesia mencatat 85.908 serangan phishing keuangan dari total lebih dari 530.000 upaya di kawasan tersebut. Faktor kecepatan dan skala yang ditawarkan AI menghilangkan hambatan manual, sehingga memperpendek waktu deteksi dan respons bagi tim keamanan.
 
Menghadapi situasi ini, hampir 100% organisasi di Asia Pasifik, termasuk Singapura, Indonesia, dan Vietnam, bermaksud memasukkan AI ke dalam operasi keamanan mereka. Banyak perusahaan yang berencana membangun Security Operations Center (SOC) dalam dua tahun ke depan berniat meningkatkannya dengan AI. Namun, integrasi ini menghadapi tantangan besar seperti kualitas data yang terfragmentasi, kompleksitas sistem, serta kesenjangan keterampilan tim analis.
 
Simon Tung, General Manager untuk ASEAN dan Negara-negara Berkembang Asia (AEC) di Kaspersky, menekankan bahwa kunci keberhasilan menghadapi ancaman ini terletak pada integrasi.
 
"Kemampuan AI yang beroperasi secara terpisah atau memerlukan konfigurasi manual yang signifikan hanya akan menambah biaya tanpa mengurangi risiko. AI yang tertanam langsung ke dalam alur kerja deteksi dan respons terpadu adalah tempat keuntungan operasional direalisasikan," ujarnya. 
 
Untuk tetap unggul, perusahaan disarankan mengambil langkah praktis: mengkonsolidasikan data telemetri ke platform terpusat, mengevaluasi alat AI berdasarkan efisiensi alur kerja, memilih platform dengan AI bawaan guna menekan total biaya kepemilikan (TCO), serta menetapkan standar tata kelola internal yang bertanggung jawab.
 
Melalui langkah terukur ini, perusahaan dapat mengubah aspirasi digital menjadi sistem pertahanan yang solid.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA