Co-founder & CEO Netflix Reed Hastings
Co-founder & CEO Netflix Reed Hastings

Disrupsi Netflix di Era Film Digital

Teknologi netflix transformasi digital
Mohammad Mamduh • 08 November 2018 18:15
Jakarta: Industri film yang dilihat orang pada umumnya adalah wadah kreatif para seniman yang menciptakan karya hiburan yang dinikmati orang banyak. Karya berupa film ini dipasarkan lewat bioskop atau saluran televisi.
 
Netflix bisa dibilang sebagai disruptor industri film yang memanfaatkan penetrasi internet yang tidak punya batas. Disrupsi ini juga berdampak pada perubahan model bisnis.
 
“20 tahun lalu, internet tidak seperti saat ini yang sangat kencang dan penetrasinya luas. Ketika memulai bisnis ini, kami memanfaatkan DVD. Kemudian kami mulai menerapkan model bisnis berlangganan. Dan hasilnya ternyata poitif,” kata CEO Netflix Reed Hastings dalam acara See What’s Next Asia, Kamis 8 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Model bisnis tersebut kemudian ditambah cara menonton yang hanya bisa lewat streaming. Reed kemudian menjelaskan Netflix masuk bursa saham pada 2012. Empat tahun kemudian, mereka mengumumkan ketersediaan secara global.
 
“Belum pernah ada perusahaan global yang seperti ini.” Reed memang menyadari, agar Netflix menjadi pilihan utama konsumen, mereka juga harus punya konten yang menarik.
 
Setelah pengumuman secara global, Netflix perlahan-lahan menambah konten orisinal dengan menggandeng berbagai studio film.
 
Tidak hanya di Amerika Serikat, mereka menjalin kerja sama dengan studio asal Eropa. Netflix yakin bahwa setiap wilayah punya kisah yang cocok untuk dijadikan cerita, dan pastinya cocok untuk penduduk wilayah tersebut.
 
Dari situ, lahirlah film dan serial yang menampilkan ciri khas. Contohnya adalah El Ministerio del Tiempo, yang sangat menampilkan Spanyol sebagai negara penuh kisah historis.
 
Kisah yang menarik dan beragam tentunya harus dilengkapi teknologi yang memadai agar bias merangkul konsumen internasional.
 
Ekspansi Netflix ke pasar Asia juga menerapkan strategi yang sama, yaitu menciptakan konten lokal yang pada nantinya tetap merangkul konsumen internasional. Menurut Netflix, hal ini terbukti, dengan total 138 juta pengguna berlangganan sejak 2016.
 
Ekspansi ini juga termasuk Indonesia, yang sudah dimulai lewat The Night Comes for Us. Film ini menggandeng beberapa artis aksi ternama, seperti Iko Uwais, Joe Taslim, dan Julie Estelle.
 
Mereka juga sadar bahwa banyak sekali film favorit yang sudah meluncur lebih dulu di bioskop. Untuk hal itu, Netflix menggandeng para penerbit film tersebut dengan kerja sama lisensi.
Biasanya, film ini muncul belakangan dalam daftar milik Netflix. Hal ini juga berlaku untuk serial, dan Netflix menyebutkan Friends merupakan salah satu serial paling favorit pengguna.
 
Netflix juga menekankan personalisasi dan kompatibilitas perangkat. Pada awalnya, mereka hanya menyediakan layanan streaming via peramban PC. Semakin banyak pengguna smartphone menjadi peluang mereka memperluas pasar.
 
“Kita harus pastikan aplikasi dapat berjalan di berbagai perangkat,” kata VP of Product Netflix Todd Yellin. Netflix mengklaim layanannya sudah kompatibel dengan 1.700 perangkat, mulai dari smartpthone, laptop, dan Smart TV.
 
Saat ini, mereka tengah fokus mengembangkan pengalaman menonton lewat Smart TV. Nantinya, pengguna Netflix dapat menonton dengan kualitas HDR, yang hanya tersedia untuk televisi pintar.
 
Personalisasi juga menjadi senjata penting. Netflix tidak memberikan batasan satu akun untuk satu orang. Kenyataannya, satu akun dapat menyimpan lima profil, yang dyakini punya rekomendasi film yang berbeda.
 
Algoritma yang dipasang mampu mendeteksi minat penggunanya, sehingga mampu memberikan rekomendasi film yang sangat spesifik.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif