Temuan dari Modernization Report global pertama yang dirilis oleh Kyndryl mengungkapkan bahwa modernisasi kini menuntut orkestrasi bisnis secara menyeluruh dan tidak lagi sebatas urusan teknis IT semata.
Laporan yang merangkum pandangan dari 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi global—dengan 30% responden berasal dari kawasan Asia-Pasifik—menunjukkan tantangan signifikan yang dihadapi lanskap enterprise regional. Sebanyak 49% organisasi di kawasan APAC dilaporkan terlambat dalam mencapai target modernisasi mereka.
Penundaan proyek modernisasi ini membawa konsekuensi bisnis yang serius: 44% organisasi mengalami peningkatan biaya jangka panjang, 43% gagal mengadopsi kapabilitas baru dengan cepat, serta 38% menghadapi kemunculan kerentanan baru pada aspek keamanan maupun kepatuhan.
Pentingnya Keseimbangan AI dan Infrastruktur Utama
Guna menjawab kompleksitas tersebut, organisasi di APAC menempatkan beberapa fokus strategis secara sejajar. Peningkatan kinerja, keamanan, dan integrasi; peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis; serta penguatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola masing-masing dicatat oleh 36% responden sebagai prioritas utama. Angka ini berada sedikit di atas prioritas penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih di angka 34%.“Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya,” ujar Megawaty Khie, Vice President & Managing Director untuk ASEAN & Korea di Kyndryl.
Seiring dengan lingkungan teknologi yang kian terdistribusi, tantangan utamanya terletak pada menentukan titik investasi yang tepat, menentukan prioritas elemen yang dimodernisasi, serta memastikan seluruh ekosistem tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan.
Peran AI, Agentic AI, dan Isu Kedaulatan Data
Teknologi AI kini menjadi motor utama ekspansi penggunaan mainframe dan komputasi edge, pendorong terbesar kedua untuk pertumbuhan SaaS dan private cloud, serta alasan mendasar pembaruan jaringan dan portofolio aplikasi enterprise. Bahkan, seluruh organisasi pemilik mainframe yang disurvei berencana menerapkan AI pada platform legacy tersebut.Di samping itu, teknologi Agentic AI—yang memiliki kemampuan merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri—mulai diadopsi untuk mempercepat proses transformasi. Sebanyak 10% organisasi di Asia-Pasifik telah mengimplementasikan agentic AI pada tahap produksi.
Teknologi ini difokuskan pada pekerjaan yang membutuhkan waktu dan keahlian tinggi, seperti pemetaan dependensi, konversi kode, hingga pembuatan dokumentasi.
Di sisi lain, faktor kedaulatan data (sovereignty) dan geopolitik kian memengaruhi keputusan teknologi. Sebanyak 37% organisasi APAC menangani kedaulatan secara selektif saat ada tuntutan eksternal, 26% berfokus pada kepatuhan, dan 65% berencana meningkatkan penggunaan wilayah sovereign cloud atau zona khusus dalam satu tahun mendatang.