Potensi tersebut muncul dari tingginya waktu penggunaan perangkat mobile oleh masyarakat yang belum sepenuhnya dikonversi menjadi aktivitas ekonomi yang bernilai tambah.
Founder & CEO TBH, Manit Parikh, mengatakan fenomena tersebut sebagai "hidden GDP" atau produk domestik bruto tersembunyi yang berasal dari perhatian dan aktivitas pengguna di ekosistem digital.
| Baca juga: Lintasarta Dorong Keamanan Siber Perbankan di Era Digital melalui CxO Forum 2026 |
"Di pasar seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah, pengguna menghabiskan sekitar empat hingga lima jam per hari di perangkat mobile. Namun, sebagian besar perhatian tersebut belum berhasil dimonetisasi oleh infrastruktur digital yang ada saat ini," ujar Manit Parikh dalam wawancara khusus dengan Medcom.id.
Menurut dia, basis pengguna yang saat ini dilayani TBH secara kolektif menghasilkan sekitar 277 miliar jam perhatian mobile setiap tahun. Angka tersebut diperkirakan setara dengan potensi ekonomi lebih dari USD10 miliar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
TBH mengaku memetakan peluang tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku industri, mulai dari operator telekomunikasi, perusahaan fintech, perbankan, hingga sektor gim dan e-commerce. Melalui kemitraan tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi titik-titik interaksi pengguna yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mengubahnya menjadi aktivitas yang dapat dimonetisasi.
Ubah aplikasi telko jadi ekosistem digital
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, TBH menghadirkan OneWave, platform engagement berbasis white-label yang terintegrasi langsung ke dalam aplikasi milik mitra, termasuk aplikasi operator telekomunikasi.Manit menjelaskan OneWave dirancang untuk mengubah fungsi aplikasi telekomunikasi yang selama ini hanya digunakan untuk aktivitas transaksional seperti membeli paket data atau mengecek pulsa menjadi sebuah ekosistem digital yang lebih interaktif.
"OneWave tidak mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi baru atau mengubah kebiasaan mereka. Platform ini bekerja langsung di dalam aplikasi yang sudah digunakan sehari-hari oleh pelanggan," katanya.
Platform tersebut menghadirkan berbagai fitur interaktif seperti spin-to-earn, konten video pendek, permainan hyper-casual, hingga voucher berbasis lokasi. Seluruh pengalaman pengguna kemudian dioptimalkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menyesuaikan insentif berdasarkan perilaku masing-masing pengguna.
Menurut Manit, pendekatan tersebut memungkinkan operator telekomunikasi meningkatkan frekuensi kunjungan pengguna, memperpanjang durasi penggunaan aplikasi, sekaligus memperkuat tingkat retensi pelanggan.
TBH mengklaim implementasi awal OneWave telah memberikan dampak positif bagi sejumlah mitra operator telekomunikasi. Salah satu indikator yang mengalami peningkatan adalah average revenue per user (ARPU).
"Berdasarkan hasil pilot project dan implementasi awal, kami melihat peningkatan ARPU berkisar antara 11 hingga 25 persen. Durasi sesi pengguna bahkan dapat meningkat hingga 300 persen," ungkap Manit.
Ia menjelaskan terdapat tiga sumber monetisasi utama yang dikembangkan melalui OneWave. Pertama, pendapatan dari iklan yang ditampilkan dalam format lebih interaktif dan memberikan nilai tambah bagi pengguna. Kedua, transaksi perdagangan melalui marketplace voucher tertutup yang mencakup produk digital maupun kebutuhan gaya hidup. Ketiga, pemanfaatan data intelligence berupa analisis perilaku dan sentimen pengguna yang telah diagregasi untuk kebutuhan bisnis mitra.
Keunggulan lainnya, kata Manit, seluruh peningkatan tersebut dapat dicapai tanpa menambah biaya akuisisi pelanggan maupun menciptakan beban operasional baru bagi operator telekomunikasi.
Bangun kebiasaan baru pengguna
Meski demikian, mengubah aplikasi telko menjadi platform dengan tingkat keterlibatan tinggi bukan tanpa tantangan. Manit menilai tantangan utama justru bukan berasal dari pengguna, melainkan dari desain aplikasi telekomunikasi yang selama ini dibangun hanya sebagai alat transaksi."Kebanyakan aplikasi telko hanya memberikan nilai pada saat pengguna melakukan pembelian. Setelah transaksi selesai, pengguna langsung keluar dari aplikasi," ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, OneWave menerapkan sistem insentif yang memberikan nilai ekonomi pada setiap aktivitas pengguna. Poin yang diperoleh dari berbagai interaksi dapat ditukarkan menjadi pulsa, paket data, voucher, maupun berbagai produk lainnya tanpa memerlukan pengeluaran tambahan.
Menurut Manit, pendekatan closed-loop ecosystem yang dipadukan dengan personalisasi berbasis AI mampu menciptakan kebiasaan baru secara alami. Dengan demikian, pengguna tidak perlu mempelajari platform baru karena seluruh aktivitas dilakukan di dalam aplikasi yang sudah mereka gunakan setiap hari.
"Tujuannya bukan mengubah perilaku pengguna secara drastis, tetapi memberikan lebih banyak alasan bagi mereka untuk tetap aktif di dalam ekosistem digital yang sudah familiar," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News