Ilustrasi. (Foto: KAI Commuterline)
Ilustrasi. (Foto: KAI Commuterline)

Teknologi Persinyalan Kereta Disorot Usai Tabrakan Kereta Bekasi Timur

Cahyandaru Kuncorojati • 28 April 2026 09:09
Ringkasnya gini..
  • Tabrakan KRL dan KA di Bekasi Timur soroti sistem persinyalan.
  • Seharusnya satu jalur hanya untuk satu kereta (absolute block).
  • Penyebab masih diselidiki, termasuk sinyal, sistem, dan human error.
Jakarta: Insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 tidak hanya memicu perhatian terhadap aspek operasional, tetapi juga menyoroti peran teknologi persinyalan dalam sistem perkeretaapian.
 
Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB tersebut menyebabkan tujuh korban meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, sekaligus mengganggu jalur padat Bekasi–Cibitung. 
 
Peristiwa ini bermula dari rangkaian KRL yang berhenti di emplasemen stasiun akibat gangguan sebelumnya, sebelum akhirnya tertabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil investigasi resmi dari pemerintah melalui Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Hasil investigasi tersebut akan menentukan apakah insiden dipicu oleh faktor teknis, manusia, atau sistem, termasuk kemungkinan terkait persinyalan.
 
Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menekankan bahwa dalam sistem yang digunakan saat ini, kondisi tersebut seharusnya tidak terjadi. Ia menjelaskan bahwa prinsip absolute block system memastikan satu petak jalur hanya dapat diisi satu kereta dalam satu waktu.
 
“Fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek dapat masuk hingga menabrak KRL di depannya, ini menjadi hal yang harus didalami dan menjadi perhatian KNKT,” ujarnya melalui pesan singkat yang dibagikan.
 
Menurutnya, potensi penyebab dapat berasal dari berbagai aspek, termasuk pelanggaran sinyal merah (signal passed at danger), kegagalan sistem sinyal, miskomunikasi prosedur, hingga faktor teknis seperti gangguan pengereman atau aspek manusia.
 

Bagaimana Sistem Persinyalan Kereta Bekerja?

Dalam operasional kereta api, dikutip dari berbagai sumber, sistem persinyalan berfungsi sebagai mekanisme utama untuk mengatur pergerakan kereta dan menjaga jarak aman antar rangkaian. Sistem ini bekerja dengan membagi jalur rel menjadi beberapa petak atau blok yang dipantau secara terpisah.
 
Pada sistem fixed block signaling yang umum digunakan, setiap blok hanya boleh ditempati satu kereta. Ketika sebuah blok masih terisi, sinyal di blok sebelumnya akan otomatis menunjukkan aspek merah, yang berarti kereta berikutnya tidak diizinkan masuk. 
 
Sistem ini dikendalikan oleh perangkat interlocking yang memastikan jalur aman sebelum izin perjalanan diberikan.
 
Teknologi ini menjadi fondasi keselamatan karena mencegah dua kereta berada di jalur yang sama dalam waktu bersamaan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keandalan sistem, kepatuhan terhadap prosedur, serta koordinasi antar petugas dan masinis.
 

Menuju Sistem Persinyalan yang Lebih Canggih

Di tingkat global, perkembangan teknologi telah membawa sistem persinyalan ke level yang lebih maju. Beberapa negara mulai mengadopsi sistem berbasis komunikasi seperti Communication-Based Train Control (CBTC) dan European Train Control System (ETCS).
 
Menurut International Union of Railways dan European Union Agency for Railways, sistem ini memungkinkan pemantauan posisi kereta secara real-time dengan akurasi tinggi. Dengan pendekatan ini, jarak antar kereta dapat diatur secara dinamis, tidak lagi bergantung pada pembagian blok statis.
 
Selain meningkatkan kapasitas jalur, teknologi ini juga dirancang untuk meminimalkan risiko kecelakaan akibat kesalahan manusia melalui otomatisasi dan sistem proteksi berlapis.
 
Kecelakaan di Bekasi Timur menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa didukung oleh prosedur operasional yang ketat dan disiplin pelaksanaan di lapangan.
 
Pengamat menilai, hasil investigasi KNKT nantinya akan menjadi dasar evaluasi penting, termasuk kemungkinan peningkatan sistem persinyalan serta penguatan aspek pengawasan dan pelatihan sumber daya manusia ke depannya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA