Satelit Nusantara Lima resmi kantongi izin Komdigi dan siap menghadirkan internet cepat hingga daerah 3T Indonesia.
Satelit Nusantara Lima resmi kantongi izin Komdigi dan siap menghadirkan internet cepat hingga daerah 3T Indonesia.

Satelit Nusantara Lima Kantongi Izin Komdigi, Internet Cepat untuk Daerah 3T

Cahyandaru Kuncorojati • 11 Mei 2026 09:21
Ringkasnya gini..
  • Satelit Nusantara Lima resmi lolos ULO dan mengantongi izin JARTUPSAT serta VSAT.
  • Satelit N5 membawa kapasitas 160 Gbps untuk memperkuat internet cepat hingga daerah 3T.
  • Pemerintah menargetkan rata-rata kecepatan internet Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029.
Jakarta: Satelit Nusantara Lima (Satelit N5) resmi mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit (JARTUPSAT) dan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). 
 
Izin tersebut diberikan setelah Satelit N5 dinyatakan lolos Uji Laik Operasi (ULO) yang digelar di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23–24 April 2026.
 
Kelulusan ini menjadi tahap penting sebelum Satelit N5 mulai memberikan layanan komersial secara luas di Indonesia. Dengan kapasitas mencapai 160 Gbps, Satelit N5 diproyeksikan menjadi salah satu infrastruktur satelit terbesar untuk mendukung pemerataan internet cepat nasional, terutama di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

Satelit Nusantara Lima atau Satelit N5 merupakan satelit Very High Throughput Satellite (VHTS) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang dirancang untuk memperkuat konektivitas internet di Indonesia. 
 
Satelit ini menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band dan memiliki cakupan hingga wilayah ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.
 
Dengan kapasitas bandwidth sebesar 160 Gbps, Satelit N5 disebut akan menjadi salah satu satelit terbesar di Asia untuk mendukung transformasi digital nasional.
 
Kehadiran Satelit N5 dinilai penting karena masih banyak wilayah Indonesia yang belum menikmati akses internet cepat dan stabil, terutama daerah 3T. Infrastruktur satelit dinilai menjadi solusi untuk memperluas jangkauan konektivitas ke wilayah yang sulit dijangkau jaringan fiber optik atau BTS konvensional.
 
Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara, Adi Rahman Adiwoso, mengatakan keberhasilan ULO menjadi fase penting sebelum Satelit N5 mulai melayani masyarakat secara komersial.
 
“Kami bersyukur Satelit Nusantara Lima telah berhasil melewati tahapan Uji Laik Operasi oleh tim evaluator dan kini telah mendapatkan izin JARTUPSAT serta VSAT dari Komdigi. Ini adalah bukti komitmen kami dalam menghadirkan infrastruktur satelit yang tidak hanya tercanggih secara teknologi, tetapi juga sepenuhnya patuh pada standar regulasi nasional,” ujar Adi.
 
Ia menyebut Satelit N5 disiapkan untuk mendukung pemerataan konektivitas dan mengurangi kesenjangan akses internet di pelosok Indonesia.
 
Uji Laik Operasi atau ULO merupakan proses pengujian teknis yang dilakukan pemerintah untuk memastikan infrastruktur telekomunikasi dapat beroperasi secara aman dan sesuai regulasi.
 
Pada Satelit N5, pengujian dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi dengan mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.
 
Pengujian mencakup validasi jaringan satelit dan sistem VSAT untuk memastikan kualitas layanan, keamanan jaringan, keandalan transmisi,dan kepatuhan spektrum frekuensi.
 
“Proses pemeriksaan yang kami lakukan di Gateway Banjarbaru ini mencakup berbagai parameter kritikal, mulai dari keandalan transmisi hingga keamanan jaringan VSAT sesuai dengan standar dan ketentuan,” kata Ketua im Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi, Falatehan.
 
“Hasilnya menunjukkan bahwa sistem Satelit N5 memiliki performa yang laik untuk dioperasikan secara komersial. Kepastian kelayakan ini sangat penting demi melindungi hak-hak pengguna jasa telekomunikasi di masa depan agar mendapatkan layanan yang berkualitas dan andal,” jelasnya.
 
Gateway Banjarbaru dipilih karena memiliki peran strategis dalam distribusi bandwidth untuk wilayah Indonesia Tengah dan Timur.
 
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyebut Satelit N5 akan menjadi aset strategis dalam mendukung transformasi digital nasional.
 
Ia mengatakan pemerintah menargetkan rata-rata kecepatan internet Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029.
 
“Kelulusan ULO Satelit N5 ini membuktikan infrastruktur ini telah siap secara teknis untuk mendukung agenda besar transformasi digital nasional. Kami berharap kehadiran kapasitas sebesar 160 Gbps ini dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat layanan publik di daerah-daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses digital,” ujar Edwin.
 
PSN menyebut seluruh infrastruktur Satelit N5 kini telah terintegrasi dengan tujuh stasiun bumi yang tersebar dari Aceh hingga Tarakan.
 
Satelit ini sebelumnya diluncurkan dari Florida pada September 2025 dan berhasil menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026 setelah melalui proses Electric Orbit Raising (EOR).
 
Dengan masa operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan mendukung kebutuhan internet cepat untuk masyarakat, layanan publik, pelaku usaha, hingga sektor keamanan nasional di berbagai wilayah Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA