Ilustrasi: VMWare
Ilustrasi: VMWare

VMware: Posisi CIO di Asia Krusial Demi Transformasi Digital

Teknologi teknologi vmware corporate transformasi digital
Mohammad Mamduh • 17 November 2019 12:50
Jakarta: VMware menyampaikan laporan risetnya bahwa di tahun 2025, peran CIO di Asia Pasifik (APAC) akan menjadi sangat strategis. Ini karena tanggung jawab untuk meraih capaian-capaian bisnis (business outcomes) yang tinggi bagi perusahaan nantinya akan bertumpu di pundak mereka.
 
Geliat ekonomi lantaran meningkatnya penggunaan aplikasi-aplikasi modern, secara fundamental telah membawa perubahan besar dalam pemanfaatan teknologi kelas enterprise dalam mendukung perusahaan bertumbuh dan berinovasi.
 
Ke depan, peran CIO perusahaan menjadi makin strategis dan krusial, karena merekalah kunci dalam menyiapkan infrastruktur teknologi yang kokoh yang mampu mendukung perusahaan dalam membangun, mengoperasikan, mengelola, menjalin konektivitas, serta menerapkan perlindungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melalui sebuah survei yang menjaring opini dari 200 CIO di perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang, studi bertajuk The Asia-Pacific CIO In 2025: Driving Fundamental Enterprise Change mengungkapkan bahwa 64 persen CIO meyakini bahwa di tahun 2025 nanti, peran mereka akan menjadi kunci dalam setiap pengambilan keputusan strategis perusahaan.
 
Hampir 60 persen dari mereka mengungkapkan bahwa di tahun tersebut, divisi yang mereka pimpin diharapkan akan menjadi profit center bagi perusahaan. Bahkan, 56 persen di antaranya berharap bisa menjadi CEO perusahaan.
 
Laporan tersebut juga merangkum bahwa nanti di tahun 2025 akan terjadi perubahan besar-besaran pada peran yang diemban oleh CIO perusahaan.
 
Tak lagi sekadar ditugaskan untuk menerapkan teknologi yang mendukung bagi kelangsungan bisnis, namun juga berperan sebagai arsitek dalam menumbuhkan model-model bisnis baru, melakukan supervisi pada pembangunan, pengelolaan, pengoperasian, konektivitas, hingga strategi penerapan perlindungan workload.
 
Keamanan siber diprediksikan juga akan terus menjadi prioritas utama perusahaan. Ini terbaca dari adanya 84 persen CIO yang menganjurkan untuk dilakukannya perombakan keamanan internet secara signifikan, guna mengendalikan munculnya risiko siber lebih lanjut.
 
CIO di kawasan Asia Pasifik mengungkapkan harapannya untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan teknologi-teknologi mutakhir berbasis data sebagai langkah strategis untuk mendukung bisnis tetap kompetitif, sekaligus membuka beragam peluang lain yang mendukung pertumbuhan bisnis.
 
Dalam studi tersebut diungkapkan pula lima teknologi pilar di masa depan yang dianggap oleh CIO akan membawa harapan-harapan baru bagi perusahaan adalah machine learning (63 persen), IoT (61 persen), artificial intelligence (60 persen), edge computing (57 persen) serta blockchain (51 persen).
 
Mereka sadar, bahwa untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan teknologi-teknologi tersebut perlu investasi tersendiri dalam membangun framework teknologi yang mendukung mereka dalam membangun, mengoperasikan, dan mengelola segala jenis workload modern.
 
“Saat ini kita berada di titik kritis di mana terjadi persinggungan antara beragam teknologi, seperti cloud, aplikasi, jaringan, mobilitas dan keamanan di sebuah infrastruktur. Hal ini membuka peluang yang luar biasa bagi CIO untuk tampil maju di garda terdepan perusahaan,” tutur Sanjay K. Deshmukh, VP and MD, Southeast Asia and Korea, VMware.
 
Para CIO di Asia Pasifik menerapkan beragam strategi dalam mendukung bisnis. Lebih dari 60 persen dari mereka menyatakan telah membentuk inisiatif-inisiatif yang turut mendorong ditingkatkannya perolehan pendapatan bisnis.
 
Angka tersebut diprediksikan akan meningkat menjadi 85 persen pada tahun 2020 dengan makin tingginya peran dan tanggung jawab CIO untuk terlibat dalam turut meningkatkan pertumbuhan bisnis perusahaan.
 
Tiga hal strategis yang diterapkan oleh CIO dalam mendorong meningkatnya pendapatan bisnis, di antaranya adalah strategi mereka dalam mengemas dan menghadirkan data kepada pihak ketiga (22 persen), melakukan pengelolaan data pelanggan secara langsung (21 persen), serta menghadirkan layanan IT kepada pihak ketiga (20 persen).
 
Makin gencarnya transformasi digital yang diinisiasi oleh para CIO di Asia Pasifik, makin tinggi pula ancaman keamanan siber yang berpotensi mengganggu kelangsungan bisnis.
 
Kesadaran para CIO akan hal tersebut tergambar dalam temuan studi yang menyebutkan lebih dari 80 persen dari mereka mendukung adanya kebutuhan untuk membenahi lini digital guna mengatasi kejahatan siber yang makin canggih. Sebanyak 36 persen yakin bahwa serangan siber ditargetkan untuk membuat kekacauan dengan mematikan internet.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif