Logo platform Twitch dan Mixer.
Logo platform Twitch dan Mixer.

Tumbangnya Mixer Bukan karena Persaingan, tapi Masalah Internal

Teknologi teknologi games
Cahyandaru Kuncorojati • 02 Juli 2020 07:53
Jakarta: Tanggal 25 Juni 2020 jadi hari yang mengejutkan di industri platform streaming segmen gaming, Mixer milik Microsoft harus ditutup dan menyatakan bergabung ke Facebokk Gaming. Kondisi ini menjadi pertanda baik untuk Facebook maupun Twitch.
 
Banyak pihak menilai keputusan mendadak tersebut karena Mixer tidak bisa memacu trafik layanannya untuk menjadi modal besar mengejar Twitch. Namun, terungkap bahwa masalah internal di dalam perusahaan tersebut ternyata jadi penyebab utama.
 
Dikutip dari GameSpot, Mixer yang dibangun pada tahun 2016 dan diakuisisi Microsoft saat masih menjadi startup bernama Beam ternyata sudah menyimpan banyak masalah. Sejak awal mereka sudah startegi yang salah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mixer yang awalnya berfokus untuk mendorong streamer baru menjadi besar justru membakar uang mereka untuk menarik streamer besar dari kompetitornya, Twitch, beralih ke layanannya. Di tahun 2017 mereka sudah menghabiskan dana hingga USD10 juta.
 
BACA: Microsoft Tutup Mixer, Gabung ke Facebook Gaming
 
Pengakuan ini didapatkan dari wawancara dengan mentan pegawai Mixer kepada Business Insider. Di 2019 Mixer akhirnya berhasil menarik streamer besar Tyler "Ninja" Blevins dari Twitch dengan nilai kontrak USD20-30 juta. Strategi yang sama juga dilakukan dengan Michael "Shroud" Grzesiek.
 
Sayangnya, langkah ini tidak pernah memberikan efek yang bagus. Komunitas penggemar dari dua streamer tersebut tidak pernah besar menyaingi jumlah di platform Twitch.
 
"Kehadiran Shroud dan Ninja.. seharusnya menarik komunitas mereka dan mendorong pertumbuhan komunitas. Namun hal merreka tidak pernah benar-benar bertahan," tutur mantan pegawai Mixer bernama Milan Lee.
 
Jumlah penggemar Ninja di Mixer hanya menjadi lebih dari 3.200.000 follower,sementara akun nonaktif Ninja di Twitch tetap bertahan di sekitar 15 juta follower. Kondisi ini smeakin buruk saat dua pendiri Beam atau Mixer yaitu Matt Salsamendi dan James Boehm menyatakan mundur di 2019.
 
Mantan pegawai Mixer yang lain akhirnya ikut buka suara. Mereka mengaku manajemen dan lingkungan kerja Mixer di bawah Microsoft sangat tidak bagus. General Manager Mixer, Shilpa Yadla dianggap tidak mampu mendengar dan memfasilitasi keluhan para pegawai Mixer.
 

(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif