Anthony Tan, CEO Grab, perusahaan yang menjadi pesaing Uber di Asia Tenggara dan berhasil mendapatkan investasi dari Didi di tahun lalu, mengirimkan sebuah catatan pada para pekerjanya. Di sini, dia berkata bahwa laporan akan merger antara Uber China dan Didi Chuxing membuktikan bahwa perusahaan lokal bisa menang melawan Uber.
"Setelah kompetisi ketat selama lebih dari 1 tahun, investor dan rekan global kami, Didi, telah berhasil memenangkan pertarungan untuk mendominasi pasar Tiongkok," tulis Tan dalam sebuah email yang berhasil didapatkan oleh TechCrunch.
"Kesuksesan Didi memperkuat apa yang kita percaya selama ini," ujar Tan melanjutkan.
"Bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh keragaman dan tidak ada satu solusi yang dapat memecahkan semua masalah. Solusi terlokalisasi akan menjadi pemecahan masalah lokal terbaik. Sama seperti Didi di Tiongkok, kita akan memastikan bahwa masalah unik yang dihadapi oleh pengguna di Singapura, Jakarta atau Manila akan mendapatkan prioritas dari masalah yang juga dihadapi pengguna di New York, London atau Istanbul."
Minggu lalu, Uber berhasil mendapatkan keuntungan di dua negara di Asia Tenggara yaitu Singapura dan Filipina. Sementara Uber di AS sedang mempersiapkan diri untuk meluncurkan berbagai produk baru di berbagai kawasan.
Pada saat yang sama, Tan sadar bahwa jika Uber mundur dari pasar Tiongkok, hal ini berarti mereka akan fokus ke pasar Asia Tenggara.
"Dengan perjanjian Uber di Tiongkok, kami menduga Uber akan lebih memberi perhatian dan sumber daya ekstra ke kawasan kita," kata Tan pada karyawan Grab.
"Tapi, kita telah melihat bukti bahwa jika perusahaan lokal tetap mempertahankan kepercayaan mereka dan fokus pada kekuatan mereka, maka mereka dapat menang. Kita melihat contoh nyata di Tiongkok dan hal yang sama akan terjadi di sini. Mereka telah kalah satu kali, kita dapat membuat mereka kalah lagi."
Uber dipercaya memutuskan mundur dari pasar Tiongkok mereka kesulitan untuk mempertahankan keberadaan mereka di negara itu, terutama karena dana Didi yang cukup besar. Uber dan Didi Chuxing sempat mengalami perang subsidi harga telah membuat Uber kehilangan USD2 miliar (Rp13 triliun).
Tampaknya, CEO Uber Travis Kalanick menganggap, sudah waktunya Uber mundur dari pasar Tiongkok dan fokus agar mereka dapat melakukan IPO (Initial Public Offering) tahun depan.
Jika dibandingkan dengan Tiongkok, di Asia Tenggara, belanja digital dan belum terlalu besar. Namun, mengingat kawasan ini memiliki populasi total lebih dari 600 juta orang, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan penting pada ekonomi digital di masa depan.
Karena itu, tidak heran jika Tan mendorong para pekerjanya dengan pesan yang dia sampaikan, meski tidak diketahui apakah kesuksesan Didi akan dapat ditiru oleh Grab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News