Sertifikat SSL tak Jamin Situs Aman
Ilustrasi
Jakarta: Anda kini tidak lagi bisa berasumsi bahwa sebuah situs aman ketika Anda melihat ikon gembok kunci pada baris alamat. PhishLabs, perusahaan anti-phishing memberikan penjelasan mengenai hal ini.

PhishLabs menyebutkan bahwa 49 persen situs phishing memiliki sertifikat Secure Sockets Layer, yang berarti ada ikon gembok pada baris alamat. Angka ini naik naik dari 35 persen pada kuartal kedua. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, angka ini naik 14 persen dari angka 25 persen.

Situs phishing akan mencoba menipu Anda untuk memberikan informasi penting, seperti akun perbankan Anda dengan menyamarkan diri sehingga ia terlihat seperti situs resmi. Hanya saja, sekarang, trafik mereka juga akan terenkripsi ketika mereka melakukan penipuan ini, lapor Engadget


Pendiri dan CTO PhishLabs, John LaCour menganggap naiknya jumlah situs phishing yang menggunakan SSL disebabkan oleh para penyerang itu sendiri dan keputusan dari para pembuat software. Banyak pelaku phishing yang membeli domain situs dan segera membuat sertifikat SSL untuk domain tersebut.

Google mencoba mengurangi penipuan dengan memperingatkan para pengguna akan situs yang tidak aman. Ini mendorong para pelaku phishing membuat situs mereka aman sehingga Chrome tidak akan mendeteksi situs penipuan itu.

Untungnya, para pengembang peramban internet berusaha mengurangi kemungkinan terjadinya phishing dengan memblokir situs yang memang sudah diketahui sebagai situs phishing, tidak peduli apakah situs itu memiliki sertifikat SSL atau tidak. Sayangnya, mereka tidak bisa memblokir semua situs phishing.

Cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari situs phishing yang terlihat aman adalah untuk berhenti berasumsi. Anda harus mempertanyakan keaslian sebuah situs yang meminta informasi akun dan password Anda meski ia terlihat asli.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.