Pembahasan tersebut berlangsung di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Banda Aceh, pada 15 September 2026. Kajian PANDI mencakup kemungkinan penggunaan nama seperti Indonesia, Indo, atau Nusantara dalam Aksara Jawi pada level Top-Level Domain (TLD).
Rencana ini menarik karena penggunaan domain beraksara non-Latin bukan semata urusan mengganti bentuk tulisan pada alamat website. PANDI juga perlu memastikan aspek kebahasaan, teknis, kebijakan internet global, kebutuhan pengguna, hingga kesiapan ekosistem digital bisa berjalan bersama.
Dari Warisan Manuskrip ke Ruang Digital
Aksara Jawi memiliki sejarah panjang di Aceh dan sejumlah wilayah Nusantara. Penggunaannya tercatat dalam berbagai konteks, mulai dari naskah keagamaan, sastra, administrasi, hingga dokumentasi sejarah.PANDI melihat digitalisasi bisa menjadi cara untuk membuat warisan tersebut tetap relevan dalam pola interaksi masyarakat modern. Ketua PANDI, Isnawan, mengatakan akses internet semestinya juga mempertimbangkan bahasa dan aksara yang digunakan masyarakat.
“Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kita ingin agar kekayaan aksara Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat hidup dan digunakan dalam ekosistem digital,” ujar Isnawan.
Model serupa juga memiliki contoh di kawasan regional. Malaysia telah menggunakan IDN ccTLD .مليسيا, yang merepresentasikan nama Malaysia dalam aksara Arab dan dikelola oleh MYNIC. Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi bahwa identitas negara dapat dibawa ke level domain teratas menggunakan aksara non-Latin.
Domain Lokal Berpotensi Jadi Bagian Ekonomi Kreatif
Pembahasan Aksara Jawi juga tidak berhenti pada pelestarian budaya. Ada potensi ekonomi ketika aksara daerah digunakan dalam produk dan layanan digital.Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, melihat bahasa dan aksara daerah dapat membuka pasar baru bagi karya kreatif. Menurutnya, jumlah penutur yang besar dapat menjadi basis pengembangan ekosistem penerbitan dan bisnis kreatif.
“Kalau aksara dan bahasa daerah bisa menjadi sumber ekonomi, akan muncul peluang dari menulis, penerbitan, pemasaran, hingga membuka lapangan usaha dan lapangan kerja,” ujar Neil.
Ia juga membayangkan situs yang memang menyasar komunitas lokal dapat memiliki versi domain Latin dan IDN secara berdampingan.
“Misalnya sebuah website di Jawa atau Yogyakarta memang menyasar masyarakat lokal berbahasa Jawa, bisa saja menggunakan aksara mereka sendiri. Nantinya bisa berjalan berdampingan, ada versi Latin dan ada versi IDN,” tambahnya.
Konsep tersebut membuka kemungkinan penggunaan aksara lokal tidak hanya sebagai ornamen identitas, tetapi sebagai bagian dari pengalaman digital pengguna.
Masih Ada Tantangan Teknis Sebelum Diterapkan
Pengembangan TLD IDN Aksara Jawi masih membutuhkan sejumlah kajian. PANDI perlu memastikan konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, potensi kemiripan antar-karakter, serta kesiapan Universal Acceptance.Universal Acceptance penting karena domain beraksara non-Latin harus dapat dikenali dan digunakan secara konsisten di berbagai layanan, termasuk website, aplikasi, email, dan platform digital lainnya.
Dari sisi Pemerintah Aceh, tindak lanjut akan dilakukan melalui koordinasi dengan perangkat daerah, termasuk menyiapkan aspek regulasi. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, AP., mengatakan pemerintah daerah akan mulai menyiapkan langkah tersebut.
“Kami akan menindaklanjuti rencana ini melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk menyiapkan aspek regulasi. Tinggal kita siapkan draftnya dan kita tindak lanjuti terus, sehingga tahun depan kita sudah bisa bergerak,” ujar Dedy Yuswadi.
Jika seluruh aspek kebahasaan, regulasi, dan kompatibilitas teknis dapat dipenuhi, Aksara Jawi berpotensi memiliki fungsi baru di internet: bukan hanya sebagai bagian dari warisan budaya Aceh dan Nusantara, tetapi juga sebagai identitas pada sistem nama domain digital.