Laporan tahunan Enterprise Cloud Index (ECI) kedelapan dari Nutanix mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara ambisi pimpinan untuk menerapkan AI dengan realitas ketersediaan teknologi yang mampu mendukung beban kerja tersebut secara aman.
Laporan bertajuk Nutanix Healthcare ECI 2026 ini menyoroti tren AI mulai bergeser dari pusat data ke titik layanan pasien. Daryush Ashjari, Chief Technology Officer Nutanix APJ, menjelaskan bahwa tekanan untuk mengadopsi AI di kawasan Asia Pasifik dan Jepang sangat besar.
Sayangnya, besarnya kebutuhan klinis belum sebanding dengan kesiapan infrastruktur dasarnya. Hal ini berisiko mengganggu sistem kritikal, akses data, dan keberlangsungan layanan pasien jika tidak segera diatasi melalui strategi hybrid yang terpadu.
Ancaman Shadow AI dan Krisis Infrastruktur
Salah satu temuan paling mencolok adalah meluasnya penggunaan shadow AI—aplikasi atau agen AI yang digunakan karyawan di luar pengawasan resmi departemen IT. Sebanyak 79% organisasi kesehatan menemukan praktik ini, dan 83% responden percaya bahwa hal tersebut menimbulkan risiko keamanan yang nyata bagi perusahaan. Masalah ini diperumit oleh adanya silo antara unit bisnis dan IT yang menghambat implementasi teknologi secara efektif.Dari sisi perangkat keras, 88% pemimpin IT mengakui bahwa infrastruktur on-premises mereka saat ini belum siap mendukung beban kerja AI. Padahal, pemrosesan data langsung di lokasi layanan sangat penting untuk meminimalkan latensi.
Sebagai gambaran, satu ruang perawatan pasien dapat menghasilkan hingga 7TB data per tahun, sementara ruang ICU bisa memiliki hingga 20 perangkat yang saling terhubung. Tanpa kemampuan pemrosesan lokal yang mumpuni, layanan klinis berisiko menghadapi gangguan teknis yang fatal.
Kontainerisasi dan Kedaulatan Data
Di tengah tantangan tersebut, teknologi kontainer muncul sebagai solusi modernisasi. Sekitar 86% organisasi menyatakan AI mempercepat adopsi kontainer karena memungkinkan model AI dijalankan secara lokal di sisi pasien dengan aman. Teknologi ini memfasilitasi penyimpanan data di tempat data tersebut dihasilkan, memberikan wawasan real-time tanpa mengorbankan kinerja jaringan.Selain itu, kedaulatan data kini menjadi persyaratan wajib bagi 72% organisasi kesehatan. Mengingat sensitivitas informasi kesehatan yang dilindungi (PHI), 54% organisasi merasa perlu mengoperasikan infrastruktur di dalam satu negara untuk memenuhi regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan.
Masa Depan AI di Layanan Kesehatan
Meskipun menghadapi kendala, optimisme terhadap AI tetap tinggi. Sebanyak 58% pemimpin IT yakin agen AI akan meningkatkan efisiensi operasional, dan 57% organisasi berencana memanfaatkan agen AI otonom (agentic AI) dalam tiga tahun ke depan. Tren ini didorong langsung dari level pimpinan, dengan 55% organisasi memperkirakan akan mengoperasikan lebih dari lima aplikasi berbasis AI dalam waktu dekat.Secara keseluruhan, sektor kesehatan sedang bergerak cepat menuju transformasi digital. Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada kemampuan organisasi untuk merancang ulang arsitektur IT mereka—membangun lingkungan data yang aman, komputasi yang skalabel, dan distribusi aplikasi yang andal dari pusat data hingga ke samping tempat tidur pasien.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda