Jakarta: Zoom memperkenalkan serangkaian inovasi kecerdasan buatan (AI) dalam ajang Zoomtopia 2026. Pembaruan ini berfokus pada pemanfaatan informasi dari percakapan agar tidak berhenti sebagai rekaman atau catatan, tetapi bisa digunakan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan dan mengambil tindakan lanjutan.
Salah satu pengumuman utamanya adalah Unified Context Layer, lapisan konteks terpadu yang menghubungkan informasi dari Zoom Workplace, Zoom CX, dan aplikasi pihak ketiga. Melalui pendekatan ini, Zoom ingin membantu pengguna dan agen AI memahami konteks pekerjaan secara menyeluruh, sekaligus mengurangi kebutuhan untuk mencari informasi dari berbagai sumber secara terpisah.
Unified Context Layer Jadi Fondasi AI Zoom
Unified Context Layer dirancang untuk menghubungkan informasi dari rapat, panggilan telepon, percakapan chat, layanan pelanggan, hingga aplikasi bisnis lain. Informasi tersebut dapat mencakup keputusan, hubungan antarpengguna, serta perkembangan pekerjaan yang relevan untuk ditindaklanjuti.
Dengan lapisan konteks ini, agen AI tidak perlu memeriksa kembali tumpukan dokumen dan transkrip setiap kali menerima pertanyaan. Informasi yang dibutuhkan telah dirangkum dan dihubungkan sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan jawaban atau membantu menjalankan tugas.
Dalam pengujian internal Zoom, pendekatan tersebut dilaporkan mampu mengurangi biaya sebesar 45–65% dibandingkan penggunaan model AI mandiri yang memproses informasi satu per satu. Zoom juga menyebut lapisan ini mendukung koordinasi agen AI di berbagai produk dan aplikasi yang terhubung.
Velchamy Sankarlingam, President of Product and Engineering di Zoom, menjelaskan bahwa peran AI kini berkembang dari sekadar membantu percakapan menjadi mendukung tindak lanjut setelah percakapan selesai.
“AI tidak lagi hanya membantu orang melakukan percakapan yang lebih baik. AI juga membantu organisasi mengambil tindakan berdasarkan percakapan tersebut,” ujar Velchamy.
Ia menambahkan bahwa perusahaan setiap hari menghasilkan banyak keputusan dan komitmen melalui rapat, panggilan, serta chat. Namun, tidak semuanya berlanjut menjadi pekerjaan yang benar-benar selesai. Zoom ingin menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang disebut sebagai system of action.
Sementara itu, Russell Dicker, Chief Product Officer di Zoom, menekankan perbedaan antara mengumpulkan informasi dan mengubahnya menjadi pengetahuan yang bisa dimanfaatkan.
“Mengumpulkan data tidak sama dengan menciptakan pengetahuan,” jelas Russell.
Menurutnya, lapisan konteks terpadu memungkinkan informasi dari satu bagian platform digunakan oleh bagian lain. Sebagai contoh, rangkuman rapat dapat membantu pekerjaan layanan pelanggan, sementara informasi dari panggilan penjualan dapat mendukung pembaruan CRM dan tindak lanjut berikutnya.
Zoom Workplace Hadirkan Pembaruan AI dan Produktivitas
Zoom juga memperkenalkan berbagai pembaruan di Zoom Workplace untuk meningkatkan kualitas komunikasi, pencatatan rapat, dan penyelesaian tugas. Salah satunya adalah Touch Up My Voice, fitur yang dirancang untuk meningkatkan kejernihan suara pengguna selama rapat.
Voice Translator turut mendapat pembaruan melalui fitur Translate. Fitur ini memungkinkan pembicara menyiarkan audio terjemahan kepada seluruh peserta tanpa mengharuskan setiap pendengar memiliki lisensi terpisah. Dengan teknologi kloning suara, hasil terjemahan juga dapat mempertahankan karakter suara pembicara.
Di sisi video, Host Correction memanfaatkan AI yang berjalan pada perangkat untuk menyesuaikan tampilan ketika pengguna mengalihkan pandangan dari kamera. Zoom menyebut penyesuaian ini bekerja dalam rentang vertikal 17 derajat. Perusahaan juga meningkatkan dukungan berbagi layar dengan kecepatan hingga 60 frame per detik.
Zoom turut menghadirkan agen AI yang bekerja secara pribadi melalui panel samping selama rapat. Fitur ini dapat membantu pengguna mencari jawaban secara langsung, menjaga percakapan tetap terarah, dan memberikan masukan terkait cara berbicara.
Pembaruan lain berfokus pada My Notes. Melalui fitur Follow the Meeting, sistem dapat membuat catatan dan transkrip untuk rapat yang tidak bisa dihadiri pengguna atau yang ditinggalkan sebelum selesai. Fitur Screen Capture in Transcript juga menempatkan tangkapan layar pada penanda waktu dan konteks percakapan yang sesuai.
Zoom memperluas My Notes melalui kemitraan perangkat perekam. Salah satu perangkat yang disebut dalam presentasi adalah perangkat seukuran kartu kredit dari D1 yang dapat dipasang pada ponsel dan mulai merekam melalui satu tombol. Perangkat tersebut dijadwalkan dikirimkan pada November. Zoom juga menyebut kerja sama dengan Boda untuk perangkat perekam yang dapat dikenakan.
Setelah rapat, alur kerja My Notes dapat mengirimkan rangkuman secara otomatis ke Zoom Chat, Salesforce, dan tujuan lain menggunakan templat yang tersedia atau instruksi bahasa alami. Zoom juga memperkenalkan tim agen AI di Zoom Mate yang dapat mengerjakan beberapa bagian proyek secara paralel, kemudian menggabungkan hasilnya menjadi satu keluaran.
Pengalaman chat juga diperbarui menjadi ruang bersama bagi pengguna dan agen AI. Perubahan ini mencakup kotak masuk Threads untuk mengumpulkan balasan dari berbagai percakapan, halaman aktivitas untuk menampilkan sebutan dan reaksi, serta penyederhanaan notifikasi.
Untuk pengembang dan pengguna AI di luar antarmuka Zoom, perusahaan memperluas pendekatan headless melalui MCP server. Kapabilitas Zoom seperti penjadwalan, transkripsi, pencarian, administrasi, dan contact center dapat diakses melalui lingkungan AI yang didukung, termasuk Claude, Codex, Copilot, Gemini, dan Muse.
Di lingkungan kerja fisik, Zoom juga memperkenalkan Bring Your Own Zoom untuk mengakses akun pribadi melalui kode QR di ruang rapat bersama, Zoom Signage untuk mengelola layar digital kantor, serta peningkatan konektivitas rapat lintas platform dengan Microsoft Teams.
Dari sisi tata kelola, Zoom memperluas label sensitivitas yang terintegrasi dengan Microsoft Purview, AI guardrails, dan pengelolaan AI terpusat. Perusahaan juga menyoroti deteksi risiko deepfake, dukungan World ID untuk aplikasi Zoom, serta perluasan Zoom Compliance Manager ke My Notes dan Zoom Canvases.
Zoom CX, Events, dan Revenue Accelerator Ikut Diperbarui
Inovasi Zoomtopia 2026 juga mencakup Zoom CX, platform acara, dan solusi penjualan. Di Zoom CX, perusahaan memperkenalkan profil pelanggan dengan konteks lintas kanal dan riwayat interaksi. Tujuannya agar agen layanan pelanggan dapat memahami masalah yang sedang dihadapi tanpa harus menyusun ulang riwayat interaksi dari awal.
Zoom Virtual Agent juga diperluas ke kios fisik untuk sektor ritel, kesehatan, dan layanan keuangan. Sementara itu, CX Insights kini mendukung pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari dan tindakan lanjutan, seperti menjadwalkan sesi pelatihan, menandai kekurangan staf, membuat artikel basis pengetahuan, serta menyusun rekomendasi.
Zoom turut memperkenalkan ZCX Source Hub yang menampilkan data dari sistem pihak ketiga langsung di desktop agen. Solusi ini dirancang agar agen dapat mengakses informasi kasus, kontak, dan peluang tanpa harus berpindah-pindah aplikasi. Dari sisi komersial, Zoom mengumumkan model harga berbasis pengeluaran tahunan untuk Zoom CX, yang menggabungkan belanja aplikasi dan kemampuan AI dalam satu anggaran.
Untuk acara, Content Studio dapat mengolah satu rekaman menjadi kumpulan konten dalam berbagai bahasa dan format, termasuk klip pendek, unggahan teks, dan gambar. Pengguna juga dapat menyunting konten dengan mengubah kata-kata, tanpa harus mengandalkan penyuntingan video melalui linimasa konvensional. Zoom juga memaparkan penggunaan AI untuk membantu pengaturan acara dan analisis data, termasuk keterlibatan peserta.
Pada lini penjualan, Zoom Revenue Accelerator mendapat kemampuan agentic prospecting dan pengayaan data prospek. Sistem dapat membantu menyaring prospek, memprioritaskan peluang, serta mengelola komunikasi lanjutan hingga pertemuan terjadwal.
Zoom juga memperkenalkan Agentic Workflow Builder untuk menjalankan tindakan berdasarkan sinyal dan wawasan penjualan. Misalnya, ketika sebuah transaksi terindikasi mandek, agen AI dapat mendeteksinya dan memberi tahu manajer penjualan sebelum peluang tersebut memengaruhi perkiraan pendapatan. Versi pertama fitur ini dijadwalkan meluncur pada Oktober 2026, sesuai pemaparan dalam presentasi.
Dalam sesi tanya jawab, Velchamy turut menjelaskan bahwa Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah prioritas Zoom. Perusahaan melihat kebutuhan organisasi di kawasan ini untuk menerapkan AI pada alur kerja dan bahasa masing-masing, dengan perlindungan yang sesuai. Zoom juga menyatakan telah menyediakan kemampuan penyimpanan data berdasarkan wilayah, termasuk untuk transkrip, rangkuman rapat, dan catatan audio.
Secara keseluruhan, pengumuman Zoomtopia 2026 menempatkan konteks terpadu sebagai fondasi untuk menghubungkan percakapan dengan pekerjaan lanjutan. Melalui pembaruan di Workplace, CX, acara, dan penjualan, Zoom berupaya membuat informasi yang dihasilkan dari setiap interaksi lebih mudah digunakan oleh manusia maupun agen AI.
(Zalsabila Natasya)