Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa

Ancaman Siber Melonjak Dua Kali Lipat pada Semester I 2026, MFA Makin Perlu

Mohamad Mamduh • 25 Agustus 2026 09:08
Ringkasnya gini..
  • Eskalasi tajam ini dipicu oleh meluasnya area yang bisa diserang atau attack surface.
  • Penyerang juga kedapatan menyalahgunakan infrastruktur berlatensi rendah di kawasan regional seperti Singapura untuk meluncurkan serangan yang lebih cepat.
  • Yudhi mengimbau setiap organisasi di Indonesia untuk segera beralih ke pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan berbasis risiko.
Jakarta: Platform threat intelligence nasional, AwanPintar.id yang dikelola oleh PT Prosperita Sistem Indonesia, merilis Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester 1 Tahun 2026.
 
Berdasarkan data tersebut, telah terjadi 257.976.333 kali serangan siber ke Indonesia. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 93,33% atau hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatat 133.439.209 serangan. Dengan volume yang sedemikian masif, ruang digital Indonesia secara rata-rata digempur oleh 16 serangan siber setiap detiknya.
 
Yudhi Kukuh, founder AwanPintar.id menjelaskan bahwa eskalasi tajam ini dipicu oleh meluasnya area yang bisa diserang atau attack surface. Kondisi tersebut terjadi seiring dengan akselerasi transformasi digital yang masif di sektor pemerintahan, layanan publik, dunia usaha, serta meningkatnya pemanfaatan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan transaksi online di tengah masyarakat. Wilayah siber Indonesia kini telah bermutasi menjadi target operasi global yang konstan, mulai dari pemindaian otomatis hingga penyebaran malware.

Jenis ancaman yang paling mendominasi sepanjang Semester 1 2026 adalah Attempted Administrator Privilege Gain atau upaya merebut kendali penuh atas administrator sistem. Kategori ini melonjak luar biasa dari hanya 2,76% pada tahun lalu menjadi 43,65%, yang menandakan bahwa penyerang kini berfokus penuh untuk menguasai sistem melalui eksploitasi layanan internet dan pencurian kredensial.
 
Sementara itu, kategori Generic Protocol Command Decode atau manipulasi protokol jaringan menjadi ancaman terbesar kedua dengan porsi 27,22%, meskipun secara volume menurun 41,15% karena pelaku mulai beralih ke strategi serangan yang lebih spesifik dan terarah. Di posisi ketiga, terdapat Attempted Information Leak atau upaya pembocoran data sensitif yang naik menjadi 13,97%, di mana metode peretasan Brute Force berbasis alat otomatis paling banyak digunakan untuk membobol kata sandi yang lemah.
 
Laporan ini juga mengungkap data krusial mengenai sumber serangan. Tiongkok dengan 21,94% dan Amerika Serikat dengan 10,83% menjadi negara asal serangan luar negeri yang paling dominan. Penyerang juga kedapatan menyalahgunakan infrastruktur berlatensi rendah di kawasan regional seperti Singapura untuk meluncurkan serangan yang lebih cepat.
 
Dari dalam negeri, wilayah Banyuwangi dan Tangerang muncul secara mengejutkan sebagai titik sumber serangan baru yang mengalami kenaikan persentase signifikan. Selain itu, aktor kejahatan siber tercatat sangat masif menginstalasi DoublePulsar Backdoor hingga mencapai 99,28% sebagai jalan masuk untuk mengamankan akses tidak sah dan menyisipkan malware lainnya.
 
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Yudhi mengimbau setiap organisasi di Indonesia untuk segera beralih ke pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan berbasis risiko. Perlindungan terhadap data sensitif harus dijadikan prioritas utama melalui penguatan deteksi dini, manajemen kerentanan taktis, penggunaan kata sandi yang kuat, serta penerapan autentikasi multifaktor (MFA).
 
Melalui langkah-langkah pengendalian hak akses, enkripsi data, dan pemantauan aktivitas pengguna yang berkelanjutan, organisasi diharapkan dapat meminimalkan risiko kebocoran informasi yang berpotensi menimbulkan kerugian finansial maupun kerusakan reputasi yang fatal.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA