AI mempercepat pencarian celah dan serangan siber. F5 Indonesia menilai CISO perlu mengubah strategi menghadapi zero-day dan AI agent.
AI mempercepat pencarian celah dan serangan siber. F5 Indonesia menilai CISO perlu mengubah strategi menghadapi zero-day dan AI agent.

AI Juga Bisa Percepat Serangan Siber, CISO Indonesia Perlu Ubah Strategi Pertahanan

Cahyandaru Kuncorojati • 10 September 2026 10:39
Ringkasnya gini..
  • AI membuat proses pencarian dan eksploitasi celah keamanan berpotensi berlangsung lebih cepat.
  • Penggunaan layanan AI oleh karyawan juga dapat memunculkan risiko oversharing data perusahaan.
  • F5 mendorong enforcement dan virtual patching agar perusahaan bisa merespons ancaman lebih cepat.
Jakarta: Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di perusahaan tidak hanya membawa peluang produktivitas. 

Teknologi yang sama juga membuat lanskap serangan siber berubah, terutama karena penyerang dapat memanfaatkannya untuk mencari celah dan menjalankan serangan dengan lebih cepat.

Head of Solutions Engineering F5 Indonesia, Danang Wijanarko, melihat perubahan tersebut belum sepenuhnya diikuti perubahan cara perusahaan memandang keamanan. Dalam diskusi dengan sejumlah perusahaan di Indonesia, ia menemukan masih ada pola pikir yang berpotensi membuat organisasi terlambat menghadapi ancaman.
 
Masalahnya bukan semata-mata perusahaan tidak memiliki sistem keamanan. Tantangannya adalah apakah sistem tersebut mampu bergerak dengan kecepatan yang sama ketika serangan mulai memanfaatkan AI.
 

Waktu untuk Merespons Semakin Sempit

F5 Danang Wijanarko (3)

Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah Time to Exploit (TTE), yaitu waktu yang diperlukan penyerang untuk memanfaatkan sebuah kerentanan.

Dalam konteks zero-day, situasinya menjadi lebih rumit. Celah tersebut belum diketahui atau belum memiliki patch dari pengembang, tetapi sudah dapat digunakan untuk menyerang.

Danang menilai perkembangan AI membuat proses pencarian kerentanan semakin mudah dilakukan. Penyerang bahkan tidak selalu membutuhkan kemampuan teknis yang sebelumnya diperlukan untuk menemukan celah.

Kondisi ini membuat asumsi bahwa perusahaan masih punya banyak waktu untuk melakukan patch menjadi berbahaya. Begitu pula dengan kebiasaan menunda kerentanan berisiko menengah atau mengandalkan pengujian manual secara berkala sebagai pertahanan utama.

Ketiganya merupakan bagian dari lima pola pikir yang menurut Danang masih kerap ditemui pada CISO, yakni “We Have Time to Patch”, “Medium Risk Can Wait”, dan “Manual Testing Is Sufficient”. Dua persoalan lainnya berkaitan dengan cara perusahaan memahami zero-day dan memaknai visibility.
 

Penggunaan AI di Dalam Perusahaan Juga Bisa Jadi Risiko

F5 Danang Wijanarko (2)

Ancaman tidak selalu datang dari pihak yang sengaja ingin membobol sistem. Cara karyawan menggunakan layanan AI juga dapat menciptakan persoalan keamanan, khususnya ketika informasi perusahaan dimasukkan ke layanan AI tanpa pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan datanya.

Danang menceritakan percakapannya dengan seorang CISO perusahaan besar yang tetap menyediakan layanan AI bagi karyawan. Namun, asesmen yang dilakukan menunjukkan adanya potensi oversharing atau kebocoran data akibat penggunaan AI tersebut.

“Keputusan ini mencerminkan persoalan mendasar, yaitu perusahaan harus benar-benar memahami jenis layanan, pola penggunaan, serta data sensitif yang masuk ke dalam sistem dan diproses AI,” tutur Danang dalam diskusi dengan media di Jakarta Selatan.

Artinya, strategi keamanan tidak cukup hanya bertanya apakah karyawan menggunakan AI untuk bekerja. Perusahaan juga harus memahami layanan yang digunakan, bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan, dan jenis informasi yang diproses.
 

AI Agent Membuat Visibility Semakin Penting

Persoalan visibility kemudian menjadi semakin kompleks ketika AI berkembang menjadi AI agent.

AI agent dapat menjalankan sejumlah tindakan secara berurutan berdasarkan instruksi. Kemampuan tersebut membuat potensi penyalahgunaan AI menjadi lebih serius karena rangkaian aktivitas berbahaya dapat berlangsung dengan tingkat otomatisasi yang lebih tinggi.

Perusahaan memang membutuhkan visibility untuk mengetahui apa yang terjadi di jaringan, aplikasi, pengguna, maupun layanan AI. Namun, mengetahui adanya aktivitas mencurigakan belum berarti ancaman tersebut sudah tertangani.

“Visibility hanya melihat metrik atau data saja, sementara yang dibutuhkan adalah platform yang bisa langsung melakukan enforcement dan remediation,” kata Danang.

Dengan pendekatan tersebut, informasi dari sistem keamanan tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dapat menjadi dasar tindakan terhadap ancaman.
 

Virtual Patching Jadi Lapisan Perlindungan

F5 Danang Wijanarko (4)

F5 menawarkan Application Delivery and Security Platform (ADSP) yang menggabungkan kemampuan application delivery dengan keamanan aplikasi dan API. Platform tersebut ditujukan untuk lingkungan perusahaan yang tersebar di data center, cloud, hingga edge.

Selain visibility dan analitik, ADSP menyediakan otomatisasi serta kemampuan enforcement. Kebijakan keamanan juga dapat dikelola secara terpusat sehingga perusahaan tidak harus menangani setiap lingkungan secara terpisah.

Salah satu kemampuannya adalah virtual patching, yang dapat digunakan ketika patch keamanan belum bisa diterapkan langsung. Trafik menuju aplikasi yang memiliki kerentanan dapat dipantau, dimodifikasi, atau diblokir sebelum mencapai aplikasi tersebut.

Pendekatan ini memberikan perusahaan lapisan perlindungan sembari menunggu perbaikan permanen tersedia. Pada akhirnya, perubahan terbesar yang dibutuhkan bukan hanya teknologi, tetapi cara CISO melihat kecepatan ancaman.

“Dengan begitu, perusahaan bisa lebih siap menghadapi ancaman siber yang mengandalkan kecerdasan buatan canggih atau AI frontier,” tandas Danang.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA