Menurut Phone Arena, fasilitas ini dibeli oleh Xingbao Information Technology seharga CNY630 juta atau sekitar Rp1,2 triliun. Selain pabrik, transaksi tersebut juga meliputi sejumlah tanah tambahan di sekitar pabrik.
HTC menyebut transaksi ini akan memenuhi kebutuhan penyesuaian operasional dan aktivasi aset perusahaan. Penjualan fasilitas pabrik ini dinilai tidak akan berdampak negatif pada distribusi dan penjualan smartphone terbaru HTC, yaitu HTC U Ultra dan HTC U Play.
Keputusan menjual pabrik tersebut diambil HTC berdasarkan penjualan perangkat VR HTC, yaitu Vive VR, yang tergolong baik. HTC Vive VR dilaporkan telah terjual sebanyak 140 ribu unit selama tujuh bulan pertama setelah peluncurannya, yang berakhir pada bulan November 2016 lalu.
Sementara itu, selama tahun 2016, HTC diperkirakan telah menjual sebanyak 450 ribu unit Vive. Penjualan unit HTC Vive tersebut menghasilkan pendapatan besar bagi perusahaan asal Taiwan ini, yaitu sebesar USD360 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.
Kesuksesan yang dicapai perangkat VR tersebut mendorong HTC untuk mengalihkan fokusnya ke VR, seperti yang diungkapkan oleh CEO dan co-foundernya, Cher Wang. Selain itu, keputusan penjualan fasilitas pabrik HTC ini juga ditujukan untuk mengurangi kerugian yang disebabkan oleh bisnis smartphone yang tengah mengalami masa sulit.
HTC dilaporkan mengalami kerugian operasional sebesar USD117 juta atau Rp1,5 triliun pada kuartal lalu. Sementara itu selama tahun 2016, HTC memperoleh pendapatan setara USD2,44 miliar atau Rp32,5 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News